Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Fakta yang Arlin ungkap


__ADS_3

Raka mematung beberapa saat mencerna ucapan Riri. Apa benar yang istrinya katakan? Sekitar tiga tahun yang lalu memang Jessi pernah memintanya untuk menikah tapi tiba-tiba gadis itu mengatakan berubah pikiran dan ingin meniti karirnya lebih dulu.


Apa benar Jessi sampai mengancam Riri jika kakaknya tidak menuruti permintaanya maka dia akan mengakhiri hidupnya? Bagaimana Raka bisa sampai tidak tahu akan hal itu? Apakah kedua mertuanya tahu mengenai hal tersebut?


Saat ini ia benar-benar gusar, bingung harus sisi mana yang ia percayai. Sungguh yang Riri ucapkan benar-benar diluar dugaannya. Raka mulai mendudukkan dirinya dipasir dan mencoba berfikir. Lalu dengan cepat ia mendial nomor Arlin. Dalam deringan ke enam, panggilan itu baru diangkat oleh asisten istrinya tersebut.


“Kau dimana?” tanya Raka cepat saat mendengar suara ‘halo’ dari Arlin


“Ini aku Arlin, bukan istrimu Raka.” Sahut Arlin karna ia mengira Raka salah telepon.


“Iya aku tahu, kau dimana? Cepatlah susul aku di pantai Pandawa. Ada beberapa hal yang perlu aku tanyakan padamu.”


“Kau bisa menanyakannya nanti di villa, setelah ini aku akan pulang.”

__ADS_1


“Sekarang kak Lin! Cepat temui aku, kalau kau menolak akan kulaporkan pada Papi Gun!” ketus Raka sambil mematikan ponselnya sepihak.


Setelah mendengar ancaman dari Raka, Arlin bergegas untuk menemui suami bosnya itu. Untung saja dia sedang berada tidak jauh dari tempat Raka berada sehingga suami bosnya itu tidak menunggu terlalu lama. Lima belas menit waktu yang diperlukan Arlin untuk menemui Raka. Beruntung ia selalu mengendarai motornya sehingga hal itu memudahkan dan mempercepatnya untuk mobilitas.


Setelah sampai ditempat yang Raka sebutkan, Arlin mulai mencari-cari sosok tersebut. Raka yang melihat Arlin dari jauh langsung berteriak memanggil gadis itu hingga Arlin menengoknya dan berjalan menuju dimana Raka sedang menunggunya.


“Ada apa? Apa hal itu begitu penting sehingga kau memaksaku untuk datang menemuimu disini? Bagaimana kalau Riri tahu? Bagaimana kalau ia mengira aku berselingkuh denganmu?” berondong Arlin dengan beberapa pertanyaan yang langsung membuat kepala Raka berdenyut.


“Ck, kau itu belum mengenal Riri. Dia hanya keras diluarnya saja.” Ujar Arlin sambil menatap kearah Raka yang sepertinya sedang berfikir. “Jadi untuk apa kau memanggilku kemari Raka?”


“Apa benar kalau cita-cita Riri menjadi seorang dokter?” Raka sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Dan hari ini ia harus mengorek banyak informasi dari Arlin. Gadis itu sudah menemani Riri seumur hidupnya, tentu saja ia tahu bagimana Riri.


“Jadi kau memanggilku dengan ancaman itu hanya untuk menanyakan hal ini? Astagaa, kau bisa menanyakan itu saat aku sudah berada di villa atau kau bisa tanyakan langsung pada istrimu.” Ucap Arlin tidak percaya dengan apa yang Raka tanyakan, hal yang sangat amat sepele.

__ADS_1


“Cepat jawab saja, kau kan belahan jiwanya. Pasti kau tahu mengenai Riri dengan baik, jadi jawablah pertanyaannku.” Sahut Raka sambil memejamkan matanya. Dirinya mengingat kembali pertengkarannya dengan Riri beberapa saat yang lalu. Padahal usahanya hampir sebulan ini untuk mulai mendekati Riri dan mengenalnya lebih dalam tidaklah semudah yang dikira. Meski Riri bersikap baik padanya namun benteng yang Riri buat amatlah nyata. Dan kini ia menghancurkan usahanya dalam sekejap.


“Ya ya baiklah. Riri memang bercita-cita menjadi dokter sedari kecil. Ia ingin mendirikan klinik khusus golongan orang yang tidak mampu. Tapi ya seperti kehidupan anak-anak pengusaha pada umumnya, tentu saja Riri dituntut untuk meneruskan bisnis keluarganya. Sebenarnya bisa saja Riri tetap meraih cita-citanya dan juga membantu mengurus usaha keluarganya jika Jessi mau membantu ikut mengurus bisnis keluarga mereka.”


“Tapi yang terjadi justru Jessi tidak mau sama sekali berurusan dengan bisnis keluarga dan memilih fokus pada dunia modelnya sejak ia belia. Hal itu membuat Riri menguburkan cita-citanya karna hanya dia harapan satu-satunya. Jessi begitu keras kepala dan susah dibujuk. Ya begitulah yang namanya pengidap syndrom Tuan Putri. Keinginannya harus selalu terpenuhi.” Jelas Arlin apa adanya yang membuat Raka tercengang karna menemukan satu fakta jika Jessi-lah yang dianggap mengidap syndrom Tuan Putri.


“Bukannya justru Riri yang mengidap syndrom tuan putri? Dia bagaikan putri yang setiap titahnya tidak bisa disangkal dan egois.” Tanya Raka memancing Arlin dan langsung mendapat gelengan dari gadis didepannya itu.


“Memangnya selama kau tinggal bersama Riri, apa kau melihat dia mengidap syndrom Tuan Putri? Riri diperlakukan seperti putri karna ia memang putri seorang pengusaha. Layaknya majikan yang dilayani oleh pelayannya. Jika Papi Bos atau Mami bos terlihat begitu memanjakan Riri itu semua karna terlalu banyak pengorbanan yang Riri lakukan. Mereka berbuat seperti itu agar Riri merasa nyaman dan tetap menjalankan bisnis keluarga mereka.”


“Kau tahu? Riri melewati masa remajanya hanya untuk belajar dan belajar karna ia ingin menjadi dokter, namun saat waktunya tiba ia harus membanting stir karna harus belajar bisnis demi meneruskan usaha keluarganya. Riri sama sekali tidak pernah menuntut apapun dari kedua orang tuanya, karna ia tidak mau membuat kedua orang tuanya kesusahan.”


“Cukup Jessi saja yang memberikan beban kepada orang tuanya dan ia tidak ingin menambahkannya.” Arlin menghela nafas, wajahnya sendu ketika mengingat itu semua. Riri yang banyak orang kira pengidap syndrom Tuan Putri nyatanya tidaklah seperti itu. Ia memang diperlakukan demikian tujuannya agar ia tidak melepaskan tanggung jawabnya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2