
Setelah mendengar berita dari Raka jika ia serius menjalani hubungan dengan Shelo, Riri menjadi sungkan dan canggung saat berpapasan dengan Raka. Meskipun kini mereka masih tidur dikamar dan ranjang yang sama tapi seperti ada jarak tak kasat mata diantara mereka. Pagi ini Riri mengutarakan niatnya kembali ke Solo karna sudah delapan bulan lamanya ia tidak pernah mengunjungi orang tuanya.
“Ka, aku akan pulang ke Solo untuk beberapa waktu.” Ujar Riri saat melihat Raka sedang mengeringkan rambutnya.
“Kau meminta ijin padaku? Tidak perlu kau lakukan itu. Pergilah lagipula aku tidak akan melarangmu kemanapun kau suka.” Jawaban Raka terdengar acuh dan sedikit menyentakkan hati Riri. Bahkan suaminya itu tidak memandangnya sama sekali ketika memberi jawaban padanya.
“Aku tidak sedang meminta ijin padamu, aku hanya memberitahumu.” Riri menjawab dengan nada setenang mungkin. Ia tidak ingin menunjukkan emosi yang ada dihatinya saat ini. Wanita itu memilih untuk menurunkan kopernya dan mulai menata barangnya.
“Oh, baiklah. Sampaikan salamku pada Papi Gun dan Mami Vindi. Maaf aku tidak bisa ikut pulang karna pekerjaanku masih banyak.” Raka menoleh sekilas kearah istrinya yang sedang mempersiapkan barang-barangnya setelah itu ia kembali membenahi penampilannya sebelum berangkat bekerja.
__ADS_1
“Hmm” jawab Riri dengan berdehem
“Kau tidak akan mengajak Gerry kan?” tanya Raka yang kali ini menatap istrinya.
“Memangnya aku gila!” sahut Riri cuek tidak menghiraukan Raka sama sekali. Ia kembali menuju walk in closet lalu menurunkan beberapa barang yang akan dibawanya. Ia juga sudah meminta tolong Arlin untuk menyiapkan oleh-oleh sehingga ia tidak perlu membelinya.
“Seminggu mungkin. Pergilah sudah siang, nanti kau bisa terlambat menjemput Shelo dan wanita tidak suka menunggu terlalu lama.” saran Riri kembali yang langsung membuat Raka melihat jam di pergelangan tangannya lalu bergegas untuk segera berangkat bekerja.
Selepas kepergian Raka, Riri terus memandangi pintu yang sudah tertutup itu lalu ia duduk dilantai. Menatap kopernya yang baru terisi setengahnya. Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Desah Riri dalam hatinya. Bahkan Raka tidak bertanya kapan jam keberangkatannya. Dan itu membuat Riri semakin tidak mengenal Raka. Suaminya itu kembali menjadi sosok laki-laki yang dulu ia kenal saat masih berpacaran dengan Jessi. Yang dingin dan sangat acuh.
__ADS_1
Arlin dan Gerry mengantarkan Riri ke bandara. Entah mengapa sejak pertemuan pertama mereka, keduanya menjadi kompak dan sangat solid. Bahkan Arlin tidak melarang dan menentang sama sekali kedekatan antara Riri dan Gerry. Arlin juga tidak menanyakan alasan sebenarnya kenapa Riri tiba-tiba ingin pulang padahal biasanya dia yang paling rewel dan peka terhadap situasi Riri.
“Jaga diri baik-baik oke, jangan sampai kau kencantol bule asing disana.” Nasehat Gerry sambil menepuk ujung kepala Riri perlahan.
“Kalau disana banyak bule, aku tidak perlu mencarinya hingga sejauh ini.” Seloroh Riri yang membuat Arlin dan Gerry tertawa.
“Nikmatilah liburanmu bos, meskipun sebenarnya kau itu setiap hari juga liburan.” Sindir Arlin yang seketika itu mendapat pukulan di pantatnya dari Riri. ”Hehehe, titip salam untuk Papi bos dan Mami bos. Katakan pada mereka untuk segera ke Bali sehingga bisa melihat calon menantu bulenya ini.” Arlin menyengol lengan Gerry, pemuda itu hanya tersenyum sambil berdecak.
“Baiklah aku masuk dulu, kalian hati-hati dijalan.” Riri berbalik badan meninggalkan Arlin dan Gerry karna pesawatnya sebentar lagi akan berangkat. Di detik-detik terakhirnya ia masih menyempatkan membuka ponsel untuk melihat barangkali Raka mengirim pesan padanya namun nihil. Ia tidak mendapati pesan dari suaminya yang diam-diam sangat ia harapkan.
__ADS_1