
Sesuai dengan niatnya semalam, kini Riri sudah berada disebuah salon langganannya dan meminta pada pemilik salon yang sudah sangat mengenalnya untuk melakukan pewarnaan rambut yang dia inginkan. Berjam-jam lamanya Riri melakukan proses pewarnaan hingga tidak sadar jika ada seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk disampingnya.
“Halo”
“….”
“Aku tidak bisa sesuka hatiku untuk mengambil libur”
“….”
“Baiklah, aku akan melihat jadwalku dulu”
__ADS_1
“…”
“Hmm”
Riri menoleh ketika pemuda itu selesai melakukan panggilan teleponnya. Ia amat mengenali suara itu dan ternyata benar. Rupanya kakak iparnya sedang memangkas rambutnya. Mata Riri terbelalak tak menyangka akan bertemu Elang disini.
“Kak Elang..” panggilnya yang membuat Elang menoleh dan terkejut melihat Riri berada di salon yang sama dengannya.
“Riri? Kau sedang berada disini? Apa kau bersama Raka?” Elang tidak kuasa untuk melihat sekeliling karna kini dirinya sedang dilayani oleh capster. Saat Riri memanggil pun dia hanya bisa menoleh sekilas.
“Satu jam, aku hanya memiliki waktu satu jam.” Sahut Elang sambil melihat jam di pergelangan tangannya. “Apa itu cukup?” tambahnya lagi.
__ADS_1
“Sure, kalau begitu kita berbicara di tempat yang tidak jauh dari sini saja.”
Elang sampai melewatkan sesi massage nya karna ia harus mengejar waktu sementara ada sesuatu yang adik iparnya ingin katakan. Kini mereka berdua sudah berada di salah satu kedai kopi yang tidak jauh dari lokasi salon tadi. Keduanya tengah duduk berhadapan. Elang memandang wajah Riri dengan intens, dan dapat dia tangkap ada seraut wajah kesedihan yang sedang ia tutupi.
“Ada ada Ri? Tidak usah sungkan untuk mengatakan apa yang ingin kau bicarakan padaku. kau menganggapku kakak bukan?” Elang tersenyum hangat menatap Riri dan wanita itupun tersenyum membalasnya. Cantik, satu kata itu yang selalu hadir dibenak Elang sedari dulu tiap melihat Riri tersenyum.
Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Riri membuka mulutnya. “Kak, tolong jangan katakan pada Papa dan Mama jika aku sedang berada di Solo. Aku pulang karna ada hal yang harus aku urus dan sepertinya aku tidak bisa mengunjungi mereka.” Riri menatap Elang dengan memohon dan lagi-lagi pemuda dihadapannya ini tersenyum padanya. Elang sangat sering tersenyum, sangat berbeda dengan Raka. Diam-diam di dalam hatinya Riri membandingkan kedua kakak beradik itu.
“Baiklah, aku tidak akan mengatakan pada mereka. Aku pikir kau akan membicarakan apa, hingga kau berpikir begitu lama.” ujar Elang lalu menyesap minuman yang ia pesan.
“Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan pada kakak.” Elang menatap Riri dengan cermat. Wanita itu terlihat sedang mengumpulkan keberanian dan sedang merangkai kata-kata untuk dikatakan.
__ADS_1
“Tanyakan saja Ri, aku akan menjawabnya jika aku bisa.”
“Apa kakak akan membenciku jika aku dan Raka sudah tidak lagi bersama?” pertanyaan yang sedari tadi Riri tahan akhirnya bisa keluar juga dari bibirnya. Elang menegang untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia meletakkan cangkir minumannnya lalu menatap Riri dengan hangat. Apakah rumah tangga adiknya ini sedang bermasalah? Apakah Raka tidak berhasil membuat mereka saling jatuh cinta? Tanya Elang didalam benaknya.