Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Mari berkencan


__ADS_3

“Ger, bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Aku rasa akan sering merepotkan dan membutuhkan hiburanmu. Bercerita kepadamu lebih menenangkan hatiku daripada jika aku bercerita pada Arlin, gadis yang sedari kecil bersamaku. Dia nyaris seperti saudariku tapi jika aku bercerita mengenai masalah kehidupanku khususnya mengenai Raka dia pasti akan selalu mengomeliku dan memberi nasehat yang membuatku pusing.”


Gerry mengerutkan keningnya, memang nasehat seperti apa yang membuat seseorang menjadi pusing? Gerry menyodorkan ponselnya pada Riri agar wanita itu bisa menyimpan nomor ponselnya dengan melakukan panggilan dari ponsel Gerry ke ponsel Riri. “Memang nasehat apa yang membuatmu pusing?” Gerry tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Riri mengehela nafasnya dengan dalam, menatap intens manik mata Gerry yang selalu berhasil membiusnya. Membuatnya ingin terus menatap manik tersebut. “Sebenarnya Raka pernah mengajakku makan malam romantis, lalu melamarku dan mengatakan cinta padaku. Dia salah mengenali perasaannya untukku. Maka aku katakan padanya jika itu bukan cinta namun hanya rasa nyaman karna terbiasa. Dan kau tahu bagaimana respon Arlin? Dia justru mengatakan jika aku sendirilah yang tidak mengenali perasaanku. Menurutmu begitu Ger? Tapi aku tahu betul bagaimana perasanku untuk Raka. Akupun juga merasakan kenyamanan karna kebersamaan kita selama ini. Namun aku tahu jika itu bukan cinta. Itu hanya perasaan yang hadir karna terbiasa dan ketergantungan satu sama lain.” Riri menatap Gerry, menunggu respon pria bermanik mata biru keabuan yang menyimak ceritanya dengan seksama.


“Kalau begitu buktikan pada Arlin jika kau benar-benar mengenali perasaanmu.”

__ADS_1


“Caranya? Aku sudah mengatakan padanya jika aku hanya mengganggap Raka sebatas adik lelakiku.”


“Caranya adalah kau harus segera mendapatkan calon lelaki masa depanmu. Dengan begitu makan Arlin akan tahu jika perasaanmu pada Raka seperti yang kau katakan.


“Tadi kan sudah aku jelaskan dari awal, sejauh ini tidak ada satupun bule yang tertarik padaku. Atau bagaimana kalau kau saja Ger? Kau sangat masuk kedalam kriteriaku.” Riri memandang Gerry dengan pandangan menelisik.


“Ya bisa dibilang begitu, kita bisa belajar mengenal satu sama lain dulu. Berteman lebih dekat. Itu juga kalau kau mau, kalau tidak ya tidak papa. Aku akan mencari bule yang lainnya lagi. Meskipun aku tidak tahu kapan mendapatkannya atau bisa mendapatkannya atau tidak.”

__ADS_1


Gerry tersenyum mendengar penuturan Riri. Wanita itu selalu menatapnya dengan intens. Riri tidak berbohong jika ia benar-benar menyukai manik mata milik Gerry. “Baiklah aku setuju, mari kita berkencan. Kau bisa mengatakan pada Raka dan Arlin kalau aku adalah kekasihmu.”


Riri terkejut dengan perkataan Gerry. Laki-laki itu benar-benar mau menuruti permintaan absurdnya. Padahal sejujurnya ia sendiri meyakini jika Gerry pasti menolak. Mereka baru bertemu dua kali dan dipertemuan kedua ini dengan beraninya Riri dululah yang mengajak Gerry untuk berkencan.


“Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Riri memastikan apa yang baru saja Gerry katakan padanya.


“Tentu saja bae, bolehkan aku memanggilmu demikian?” Gerry mengerlingkan matanya pada Riri yang justru membuat Riri tertawa geli.

__ADS_1


__ADS_2