
“Apa mertuamu tahu jika kau pulang ke Solo?” MamI Vindi bertanya pada Riri yang saat ini sedang memakan masakannya dengan begitu lahap. Anaknya itu hanya menjawab pertanyaannya dengan gelengan.
“Kau tidak akan mampir kesana?” tanyanya kemudian yang lagi-lagi dijawab Riri dengan gelengan.
“Apa yang harus aku lakukan jika kesana tanpa Raka? Lagipula aku merindukan kalian, merindukan rumah ini. Kapan-kapan saja aku kesana sekalian bersama Raka.” Jelas Riri. Papi Gun dan Mami vindi pun hanya bisa menyetujui keinginan anaknya. Mereka merasa mungkin Riri masih canggung jika bertemu mertuanya sendirian karna selama menikah dengan Raka, Riri belum pernah dibawa secara resmi ke kediaman Janitra.
Setelah selesai makan bersama, Riri mengistirahatkan dirinya dikamar miliknya dahulu. Kamar yang sudah lama tidak dia tinggali. Semuanya masih sama bahkan tidak seperti ditinggalkannya karna maminya pasti rutin menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk membersihkan kamar milik anak-anaknya. Sehingga ketika anak-anaknya pulang kerumah, kamar akan selalu rapi dan siap untuk ditiduri.
__ADS_1
Riri kembali membuka ponselnya, hanya ada beberapa notifikasi yang menurutnya tidak begitu penting. Sisanya hanya ada pesan dari Arlin dan Gerry yang menanyakannya apakah sudah sampai dengan selamat atau belum. Sedangkan suaminya? Nihil bahkan Raka tidak mengirimkan pesan apapun padanya.
Setelah membalas pesan Arlin dan Gerry, Riri berinisiatif untuk memberitahu Raka jika dirinya sudah sampai di Solo dan meminta pemuda itu merahasiakan kedatangannya ke Solo dari keluarga Janitra karna ia tidak akan berkunjung kesana.
Cukup lama Riri menunggu balasan dari suaminya namun sepertinya Raka sedang disibukkan dengan pekerjaannya hingga Riri terlelap saking lamanya menunggu balasan suaminya. Riri melewatkan makan malam karna masih kenyang selain itu kedua orang tuanya juga akan pergi. Tentu saja ia malas jika harus makan sendirian. Riri memilih kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya sambil sesekali memeriksa laporan dari Arlin dan juga berselancar di social media.
“Apa kau pulang hanya untuk membaca novel-novel lamamu itu?” pertanyaan Papi Gun membuat Riri menoleh karna terkejut tidak tahu sejak kapan ada Papi Gun didalam kamarnya.
__ADS_1
“Aku hanya bosan dan bingung tidak tahu harus melakukan apa. Karna kebetulan pekerjaanku sedang senggang.” Jawab Riri yang kemudian ikut duduk disamping Papinya.
“Apa kau sedang memikirkan sesuatu? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Papi Gun menatap wajah anaknya dengan intens. Wajah cantik perpaduan antara Asia dengan Chinise. Kulit putih bersih dan mata yang sedikit sipit. Riri merupakan perpaduan antara dirinya dan Vindi.
“Tidak ada Pi.” Kilah Riri buru-buru memalingkan wajahnya. Ia tahu Papinya sedang menelisik dirinya.
“Ayolah Ce, kau tidak akan bisa berbohong dari Papi. Kau itu anakku, Papi tahu betul siapa dan bagaimana dirimu.” Bujuk Papi Gun sambil merebahkan kepala Riri agar tertidur dipangkuannya. Riri pun menurutinya karna ia memang sedekat itu dengan Papinya. Bukannya Riri tidak dekat dengan Maminya, namun entah mengapa untuk segala permasalahan yang Riri alami ia lebih memilih untuk bercerita pada Papinya yang selalu memberikan win win solution dan jarang sekali menghakiminya.
__ADS_1