
“Ka, bagaimana kalau kita menjodohkan Arlin dengan kak Eric?” usul Riri saat melihat betapa kompaknya Arlin dan Eric barusan saat tersenyum kaku padanya. Sepertinya ada sesuatu antara mereka berdua, entah apa yang mereka bicarakan sampai-sampai Eric bisa berteriak seperti tadi meskipun Riri tidak mendengar dengan jelas apa yang Eric teriakkan.
“APA?” teriak Raka yang tidak mendengar ucapan Riri. Hal itu membuat Riri merapatkan tubuhnya hingga benar-benar menempel pada Raka. Pemuda itu bahkan bisa merasakan tonjolan kedua aset Riri yang menempel pada punggungnya. Riri tidak memeluk pinggannya tapi hanya menumpukan kedua tangannya pada paha Raka.
“Ishh kau ini, aku tadi bilang bagaimana kalau kita menjodohkan kak Eric dengan Arlin. Aku rasa mereka berdua cocok.” Riri mengulangi ucapannya.
“Kau ini ada-ada saja. Tidak perlu mengurusi hidup orang lain, biarkan mereka memilih jodohnya sendiri. Sama seperti kau yang menyuruhku memilih jodohku sendiri karna kau tidak mau dijodohkan denganku.” Tolak Raka langsung.
“Aku menolakmu karna aku dijadikan pengantin pengganti bukan karna aku dijodohkan denganmu Ka.” Riri membela dirinya.
__ADS_1
“Ya sama saja, kau juga menolak saat kuminta menjalani pernikahan ini? Kau ingin memilih jodohmu sendiri. Jadi biarkan mereka juga memilih jodoh mereka sendiri Ri. Kau tidak perlu repot-repot mengurusi kisah asmara mereka berdua.” Raka bersikukuh menolak ide istrinya tersebut.
“Ah, kau tidak asik. Menurutku sangat bagus jika kak Eric dijodohkan dengan Arlin. Baiklah kalau kau tidak mau membantuku tidak apa-apa, aku akan menjalankan misiku sendiri.” Riri tidak mau mengubah idenya dan bersikeras untuk melanjutkan usulannya itu.
“Ya baiklah, aku akan membantumu.” Raka menyerah dan memilih untuk menuruti Riri.
“Iya.” Raka menganggukan kepalanya yang membuat Riri girang. Bahkan sekarang istrinya itu dengan tidak tahu dirinya menyenderkan kepalanya pada punggung Raka. Membuat pemuda itu sedikit menegang, ia tidak pernah memboncengkan perempuan selain kak Bela. Bahkan selama berpacaran dengan Jessi, gadis itu tidak pernah mau dibonceng menggunakan motor.
Ada perasaan aneh yang menyergap hatinya saat Riri memeluknya dengan erat dan ketika wanita itu menyandarkan kepala di punggungnya. Membuat jantungnya berdegup kencang seperti akan meloncat untuk keluar dari tempatnya.
__ADS_1
Raka melirik Riri melalui spion, ia melihat istrinya tengah tersenyum bahagia. Dan itu membuat Riri terlihat lebih cantik berkali-kali lipat karna selama ini ia sama sekali belum pernah melihat Riri tersenyum secantik ini. Wajah yang dulu sering Riri tampilkan saat ia melihat wanita itu adalah wajah yang dingin, angkuh dan tak tersentuh. Bahkan Riri tidak pernah tersenyum padanya sama sekali.
Tapi lihatlah kini, hanya karna ia menyetujui ide konyolnya wanita itu langsung tersenyum kegirangan. Bahkan tidak sadar jika Riri sedang memeluk dan menyandarkan tubuhnya pada Raka.
“Lin, kau lihatlah itu? Belum-belum saja sudah seperti itu. Aku rasa tidak akan sulit membuat mereka untuk saling jatuh cinta.” Eric menepuk betis Arlin agar melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Arlin menganga saat melihat Riri memeluk Raka dengan posesif bahkan wanita itu menyandarkan kepalanya pada punggung Raka. Padahal Riri sama sekali tidak pernah dibonceng oleh laki-laki manapun. Hanya Arlin seorang saja yang pernah memboncengkan Riri.
“Iya aku rasa kau benar kak.” Arlin menyetujui pendapat Eric.
__ADS_1