
“Tempatnya bagus, aku setuju jika kita camping disana. Mau mengajak kak Eric dan kak Lin?” tawar Raka yang masih menscroll laman instagram Sunrise Hill, tangan kanannya sudah tidak lagi memainkan rambut Riri tapi berubah menjadi mengelus-elus kepala istrinya. Hal itu membuat Riri semakin lama semakin mengantuk saking nyamannya.
“Kita berdua saja, biarkan kak Eric dan Arlin juga memiliki waktunya sendiri. Besok aku akan menghubungi Papi untuk menjemput Jessi. Tidak baik dia berada satu rumah bersama kita, apalagi kau adalah mantannya. Banyak setan bersliweran, hati-hati.” Riri mengingatkan, namun matanya sudah mulai terpejam.
“Iya aku tahu. Aku juga berfikir jika lebih baik kak Lin dan kak Eric tinggal terpisah dari kita. Bagaimana menurutmu?”
“Ck, aku tidak bisa jauh-jauh dari asistenku Raka. Lagipula mereka berdua sedang kujodohkan, lebih baik jika tinggal bersama. Kau tidak takut jika aku jatuh cinta pada kak Eric kan? Padamu saja aku belum tentu bisa jatuh cinta apalagi pada kak Eric, tenanglah kau tidak usah khawatir.”
“Kau tidak khawatir jika aku justru jatuh cinta pada kak Lin?” tanya Raka yang berhasil membuat Riri membuka matanya lalu menatap intens suaminya.
“Jangan berani-berani kau! Arlin sudah kujodohkan dengan kak Eric, carilah wanita lain. Dia tidak cocok untukmu.” Sahut Riri lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Raka dan menggerakkan telapak kanan Raka agar kembali mengelus kepalanya.
“Kau ini.” Raka menuruti kemauan istrinya untuk terus mengelus dan membelai surai Riri sampai ia mendengar suara dengkuran halus dari Riri. Rupanya istrinya itu tengah tertidur dengan lelap.
Raka menggendong Riri menuju ranjang kemudian merebahkan tubuh istrinya perlahan. Ia ikut naik ke ranjang lalu mematikan semua lampu menggunakan remot hingga ruangan itu benar-benar gelap seperti yang Riri sukai. Mungkin Riri benar-benar kelelahan hingga saat menonton drama tadi ia bisa ketiduran padahal cahaya lampur dikamar mereka cukup terang. Raka ikut menyusul Riri menyelami alam mimpi, bersiap menyambut esok hari.
__ADS_1
*
*
*
“Kalian akan pergi kemana?” Tanya Arlin saat melihat Raka dan Riri membawa sebuah koper dan juga ransel.
“Bulan madu.” Jawab Riri asal sambil melirik Jessi yang juga tengah menatapnya.
“Kak, aku pakai mobil yang dibelikan oleh suamiku” Riri berucap pada Eric saat laki-laki itu bergegas membawa kopernya keluar rumah. Ia memberi tahu Eric agar tidak bingung harus memasukkan koper itu kedalam mobil yang mana.
“Jadi Range Rover itu Raka yang membelikannya untukmu?” Jessi tidak menyangka Raka akan membelikan mobil seperti itu untuk kakaknya.
“Tentu saja.” Sahut Riri singkat lalu mengajak suaminya untuk sarapan terlebih dahulu karna ia selalu ingat Raka harus sarapan pagi dengan nasi dan sayur.
__ADS_1
“Dasar matre! Suamimu baru saja mulai bekerja. Bagaimana mungkin kau meminta mobil semahal itu?“ ucap Jessi tidak terima.
“Matre pada suamiku sendiri tidak masalah bukan? Lagipula bukan urusanmu aku meminta apapun pada Raka. Lebih baik cepat kau habiskan sarapanmu dan carilah tempat tinggal lain. Aku tidak ingin tinggal seatap denganmu, tahu dirilah sedikit.” Usir Riri to the point yang membuat Jessi semakin murka.
“Kau mengusirku? Kenapa? Kak Eric dan kak Arlin saja bisa tinggal bersamamu. Kenapa aku tidak boleh?”
“Karna mereka adalah asistenku dan juga asisten suamiku tentu saja lebih baik mereka berdekatan dengan kami. Selain itu mereka tidak menyebalkan sepertimu.” Setelah mengucapkan hal tersebut Riri langsung meneguk jus sayur yang sudah Mbok Ila siapkan untuknya begitupun dengan Raka, pemuda itu juga tampak memakan sarapannya dengan cepat. Enggan berlama-lama berada di dekat mantan kekasihnya.
“Katakan saja jika kau takut Raka akan kembali padaku kan?” pancing Jessi dengan senyum smirknya.
“Aku tidak akan kembali padamu meskipun aku tidak menikah dengan Riri.” Sahut Raka yang kini membuat Riri tersenyum penuh kemenangan kearah Jessi.
“Kau dengar sendiri kan? Aku yakin suamiku juga tidak akan kembali padamu.” Tambah Riri yang semakin membuat Jessi ingin meledak rasanya.
“Tentu saja karna kau kan seorang janda, jadi kau pasti bisa memuaskan Raka. Sama seperti semalam saat Raka mengatakan kau lebih baik dariku, pasti kau memberikan servis terbaik untuknya tidak seperti saat bersamaku, untuk menggandeng tanganku saja dia terlalu kaku. Ya begitulah untungnya menikahi janda, selalu agresif sehingga kebutuhan batinnya pasti akan terpuaskan.” Lagi-lagi Jessi menabuh genderang perang dengan kata-kata yang menyakitkan.
__ADS_1