
“Sesibuk apa hingga kau harus pergi ke Gusto gelato di Seminyak?” sindir Raka dengan menatap Riri tajam. Wanita yang tengah terbaring itu tiba-tiba saja langsung duduk dan juga memandang Raka. Ia heran darimana Raka tahu jika ia pergi kesana.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Zenly mu yang menunjukkan jika kau tadi berada disana.” Jawab Raka datar namun masih dengan memandangi istri yang seharian ini meninggalkannya. Setelah kemarin Riri menghilang untuk yang kedua kalinya, Raka memang memasang aplikasi tersebut di ponsel istrinya, Eric dan juga Arlin agar keempatnya bisa satu sama lain mengetahui posisi masing-masing. Jadi tidak perlu khawatir jika ada yang belum pulang pada waktunya.
Ingatkan aku untuk mematikan zenly itu. Orang-orang jadi bisa melacak keberadaanku. Gerutu Riri dalam hatinya. “Ya aku bertemu dengan temanku disana, kenapa? Kau mau kesana juga? Kata kak Elang kau suka gelato.” Riri mencoba mengajak Raka mengobrol agar suaminya itu tidak memandanginya dengan tatapan yang tidak ia sukai.
“Tidak perlu, aku bisa kesana bersama Shelo.” Jawab Raka acuh lalu mengalihkan pandangannya dari Riri.
__ADS_1
“Apa kau sudah melakukan USG? Semalam dokter mengatakan jika hari ini kau perlu melakukanya, takut jika lambungmu mengalami kebocoran.”
“Sudah.”
“Lalu bagaimana hasilnya?”
Riri menghela nafasnya, ia mencoba untuk sabar menghadapi Raka yang sedang sakit. Kenapa tiba-tiba Raka bersikap seperti ini? Tanya Riri namun hanya dalam hatinya. "Apa kau sudah makan? Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Riri lagi memberi perhatian pada Raka.
“Apa pekerjaanmu itu begitu penting dibanding kondisi suami ehm maksudku adik laki-lakimu? Aku pikir kau hanya pergi satu atau dua jam. Tapi ternyata kau meninggalkanku lebih dari enam jam lamanya. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padaku? Apa kau tidak takut kehilanganku?” pertanyaan Raka yang bertubi-tubi dengan nada yang menusuk membuat Riri merasa semakin bersalah dan sedih.
__ADS_1
Wanita itu tahu jika ia salah, tapi ia meninggalkan Raka karna sudah ada Shelo dan Riri berfikir jika Raka akan lebih nyaman bersama Shelo daripada dengannya.
“Maafkan aku, aku pikir sudah ada Shel—“
“Lalu kenapa kalau sudah ada dia? Bukankah kau ingin aku segera mencari dan mendapat calon istri masa depanku. Sebagai kakak seharusnya kau menilai calon pendamping adikmu ini, sudah cocok atau belum. Bukan malah meninggalkannya begitu saja setelah berkenalan. Harusnya kau perlu mengenalnya lebih dalam lagi sehingga kau tau dia sesuai untukku atau tidak.” Potong Raka dengan cepat.
Kenapa omongannya persis seperti yang Gerry katakan padaku, batin Riri. “Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian. Baiklah lain kali aku akan mencoba untuk mengenalnya lebih jauh lagi.” Riri memilih untuk mengalah agar masalahnya tidak melebar kemana- mana. “Bagaimana kata dokter? Cepatlah sembuh, agar kita bisa segera kembali kerumah.” Riri duduk disamping Raka dan membelai rambut suaminya. Ia tahu betul hal tersebut adalah sesuatu yang amat Raka sukai karna dulu sebelum kejadian makan malam romantis itu, Raka sering tiba-tiba tidur dipaha atau diperut Riri untuk sekedar minta dibelai rambutnya.
“Dokter masih melakukan observasi, mungkin 4 sampai 7 hari lagi aku baru diperbolehkan pulang. Besok kau harus menungguiku seharian karna Shelo harus bekerja. Tidak mungkin dia yang terus-terusan menungguiku.” Pinta Raka yang entah kenapa membuat hati Riri kembali terasa seperti dihimpit batu besar. Dirinya seperti dijadikan cadangan karna Shelo bekerja sehinga tidak bisa menemani Raka.
__ADS_1