
“Baiklah, aku tidak akan mengerjakan pekerjaanku lagi jika kau sedang berada dirumah tapi hal itu tidak berlaku jika ada hal yang urgent, kau mengerti ?” putus Riri pada akhirnya yang tentu saja membuat Raka mengembangkan senyumnya dan langsung menyambar bibir sang istri. Memberinya ciuman lembut yang mengalirkan seluruh perasannya.
“Terimakasih nyonya Janitra, I love u so muuuaachhhhh” ucap Raka sambil lagi-lagi mengecup bibir Riri yang tidak pernah membosankan baginya.
“Ya ya yaaa, asal kau senang saja.” Dengus Riri malas.
Raka menegakkan tubuhnya, ia menatap Riri dengan serius. Ini saat yang tepat untuk membahas hal yang beberapa hari ini menganggu pikirannya. “Sayang, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Lelaki itu mengenggam tangan sang istri.
__ADS_1
Riri pun ikut memandang Raka dengan tatapan yang tak kalah seriusnya. “Ada apa? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?”
“No, ini tentang kita.” Jawab Raka singkat
“Kita?” Beo Riri tidak paham sedangkan sang suami hanya mengangguk sebagai jawaban.
Raka kembali meraih dan mengenggam tangan milik istrinya. “Dengarkan aku dulu, jangan berpikiran yang macam-macam. Sebenarnya aku sedang membangun villa untuk kita tinggali nantinya.”
__ADS_1
“Kita?” Riri masih tidak paham dengan arah pembicaraan suaminya. Bukankah kini mereka juga sudah tinggal di villa meskipun villa yang mereka tempati adalah milik Riri.
“Iya, tentu saja kita memang siapa lagi?” Raka menjawil hidung Riri dengan gemas. “Ini villa milikmu, pemberian Papi Gun. Dan aku sebagai suamimu wajib memberikan nafkah dan penghidupan yang layak sesuai dengan kemampuanku. Aku sedang membangun villa untuk kita tinggali nantinya, jika sudah selesai pembangungannya aku akan membawamu kesana. Aku merasa tidak enak jika menumpang pada istriku sedangkan aku adalah laki-laki dan seorang suami yang seharusnya menghidupimu. Aku juga tidak mau dipandang tidak mampu untuk menafkahimu, memberikanmu penghidupan yang sepadan dengan yang orang tuamu berikan” Jelas Raka yang membuat pandangan Riri melunak karna ia paham maksud suaminya.
“Sayang, Papi dan Mami tidak akan pernah berfikiran seperti itu. Mereka tahu siapa kau, siapa orang tuamu. Mana mungkin kedua orang tuaku berfikiran seperti itu. Aku senang kau memikirkan hal-hal seperti itu tapi ada baiknya juga kau jangan menghambur-hamburkan uang. Gunakan yang ada, karna aku selalu berkata padamu dari awal bukan? Milikku adalah milikmu. Roda itu berputar Ka, saat ini kita sedang berada diatas tapi tidak tahu kedepannya seperti apa. Lebih baik villa itu kau gunakan untuk investasi, bisa kau sewakan atau kau jual lagi. Kita masih bisa tinggal disini, kecuali kak Eric dan Arlin menikah maka villa ini akan kuberikan untuk mereka dan kita pindah ke villa yang baru kau bangun, bagaimana sayang?” usul Riri sembari menangkup kedua pipi Raka.
“Tapi aku merasa malu sayang. Sebagai laki-laki masa aku yang menumpang pada istriku? Ini villa milikmu, mobil milikmu, aku hanya membawa baju dan juga motor. Apa kau tidak malu dengan pandangan orang lain jika ada yang mencemoohmu? Suamimu hanya menumpang hidup padamu seperti benalu.” Raka menatap Riri dengan sendu, menyuarakan apa yang ada didalam hatinya selama ini.
__ADS_1