
“Gerald, tapi kau bisa memanggilku Gerry.” si pria bule tadi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Riri.
“Namaku terlalu panjang tapi kau bisa memanggilku Riri saja. Jadi kita mau pergi kemana Ger?” Riri menerima uluran tangan dari Gerry. Kini keduanya berjalan bersama untuk menuju loby rumah sakit.
“Biasanya para wanita akan bahagia jika diajak pergi kesana. Kau membawa mobilmu?”
“Tentu saja, kenapa memangnya?” tanya Riri bingung
__ADS_1
“Akan lebih cepat jika kita pergi dengan motor. Tinggalkan mobilmu di villaku yang kebetulan tidak jauh dari sini, setelah itu kita pergi menggunakan motorku.” Jelas Gerry yang disetujui oleh Riri. Sejak pertama kali bertemu dengan pria bule tersebut dipantai entah mengapa Riri merasa nyaman untuk menceritakan permasalahannya. Dan sama seperti saat ini, Riri rasanya butuh teman cerita dan Arlin bukan orang yang tepat menurutnya.
Setelah mengikuti motor Gerry dari belakang, mereka sampai di sebuah villa yang cukup bagus meski tidak terlalu mewah dan besar. Benar kata Gerry bahwa lokasi villanya tidak jauh dari rumah sakit tempat Raka dirawat sekaligus tempat mereka bertemu. Hanya sekitar lima belas menit menggunakan mobil dan mungkin akan lebih cepat jika menggunakan sepeda motor.
Riri memarkirkan mobilnya lalu membonceng Gerry setelah menerima helm dari pria tersebut. Dan selama perjalanan keduanya sama-sama diam larut dengan pikiran masing-masing. Riri terus memikirkan Raka dengan Shelo sementara Gerry entah apa yang dipikirkannya hanya ia yang tahu.
Gerry menoleh kebelakang saat Riri tidak juga turun dari atas motornya padahal mereka sudah sampai di tempat tujuan. Wanita itu ternyata melamun hingga tidak sadar kini Gerry sedang menoleh padanya dan menyapukan tangannya tepat di depan wajah Riri.
__ADS_1
“Eh..” Riri mengerjapkan matanya. Ia menatap sekeliling, rupanya tempat tujuan Gerry adalah salah satu cabang penjual gelato yang sempat ia datangi bersama Elang dan Arlin tempo lalu. “Jadi kita pergi sejauh ini Ger?” Riri menatap Gerry tidak percaya, karna jarak dari rumah sakit ketempat ini diperkirakan lebih dari 10km.
“Jadi kau tidak sadar? Berarti sepanjang perjalanan tadi kau hanya melamun? Astaga, untung saja kau tidak jatuh dari atas motorku.” Gerry menggeleng tidak percaya dengan apa yang Riri lakukan diatas motornya.
“Lepaskan helm-mu baru kita masuk. Setelah itu kau bisa bercerita padaku seperti tempo lalu” Gerry sudah melepas helmnya lebih dulu jadi kini ia tinggal menunggu Riri. Wanita itu akhirnya turun dari atas motor Gerry dan meletakkan helmnya di salah satu spion motor pria bule tersebut.
Mereka berdua berjalan beriringan saat memasuki tempat tersebut, lalu setelah memilih menu yang mereka inginkan. Riri meminta Gerry untuk menunggu pesanan mereka, sementara Riri akan mencari tempat duduk. Tidak sampai sepuluh menit, Gerry sudah datang dengan membawa pesanan mereka lalu menyodorkan eskrim milik Riri.
__ADS_1
“Jadi apa yang membuatmu seperti orang linglung seperti ini? Yang pertama kau menabrakku dirumah sakit dan yang kedua ternyata kau melamun disepanjang perjalanan menuju kemari. Berhati-hatilah, hal itu bisa membuatmu celaka jika kau terus saja ceroboh.” Oceh Gerry yang menurut Riri menjadi lebih cerewet dibanding pertemuan pertama mereka.
“Kau itu ternyata cerewet sekali tidak seperti saat pertemuan pertama kita.” Riri menyendokkan gelato kedalam bibirnya. Menikmati sensasi dingin dan manis bersamaan. Namun dinginya gelato ternyata tidak bisa mendinginkan perasaannya yang kini sedikit memanas.