
Malam berganti pagi, rembulan berganti matahari. Dan ini merupakan hari terakhir keluarga Janitra berada di villanya. Ada perasaan tidak rela saat mengetahui besok seluruh keluarga mertuanya akan kembali ke Solo bersama Elang juga. Villanya pasti akan terasa sepi karna hanya akan terisi oleh dirinya, Raka, Eric, Arlin dan Mbok Ila seperti biasanya. Sedangkan tukang kebunnya hanya datang pagi dan pulang sore. Tidak ikut tinggal di villanya sama sekali.
Kini Riri duduk dikursi bale santai yang ada ditepian kolam renang bersama dengan Raka dan Mama mertuanya. Sedangkan yang lainnya ada yang berenang dan ada juga yang duduk di kursi santai. Riri masih kesusahan berjalan sehingga Raka selalu standby didekatnya. Bahkan tadi waktu Riri turun dari kamar yang berada dilantai dua, suaminya itu yang menggendongnya. Meskipun bukan dengan ala bridal style, tapi Raka menggendong model belakang. Jadi Riri berada dipunggung Raka sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya.
Mama Maira serta yang lainnya hanya bisa mengulum senyum diam-diam karna melihat tingkah Raka yang sangat romantis dan tidak segan menunjukkan kemesraan pada istrinya. Padahal mereka tidak tahu saja jika hubungan Raka dan Riri memang seperti itu karna asas bro and sist relationship didalam rumah tangga yang mereka jalani.
__ADS_1
“Sana kau bermainlah dengan keponakanmu atau mengobrol dengan Papa. Jangan menempeliku terus, kalau butuh sesuatu pasti aku akan memanggilmu.” Riri merasa tidak enak karna Raka terus saja berada disekitarnya. Bahkan Raka tidak bergabung bersama para pria lainnya.
“Betul kata istrimu, lagipula ada Mama disini. Apa kau tidak percaya pada Mama? Mama tidak mungkin menyakiti menantu Mama yang paling cantik ini.” Mama Maira ikut menimpali.
“Bukan seperti itu Ma, aku hanya khawatir pada Riri. Tapi yasudah kalau begitu, aku juga ingin berenang bersama Rama dan Nada. Karna kemarin aku sama sekali tidak ikut kalian bersenang-senang di Waterboom.” Raka berlalu meninggalkan Mama dan istrinya saat sudah melepas kaos dan celananya, yang hanya menyisakkan celana boxernya saja. Dengan gerakan cepat ia langsung menceburkan diri di kolam renang.
__ADS_1
“Dia sama sekali tidak pernah merepotkanku Ma. Aku senang dia berada disini jadi aku tidak merasa kesepian apalagi ada Kak Eric dan juga Arlin.”
“Terimakasih karna kau sudah mengurus Raka dengan baik. Kinerjanya di perusahaan juga membaik. Dia bekerja dengan sungguh-sungguh. Lain kali mintalah sesuatu yang lebih mahal dari mobil yang didepan sehingga suamimu akan bekerja lebih keras.” Goda Mama Maira yang membuat Riri seketika malu, ia merasa menjadi wanita yang matre.
“Eh, bukan begitu maksudku Ma. Aku meminta hal itu supaya Raka bekerja keras, tapi akan aku kembalikan pada waktunya nanti.”
__ADS_1
“Untuk apa kau kembalikan? Hal yang wajar jika suami membelikan sesuatu untuk istrinya. Mama tahu niatmu memang seperti itu, sekali lagi terimakasih ya. Bisakah kau menjanjikan Mama sesuatu hal?” Nada bicara Mama Maira membuat Riri menatap serius pada mertuanya. “Tegurlah Raka jika ia menyakitimu, nasehati Raka jika ia melakukan kesalahan tapi jangan pernah sekalipun kau tinggalkan dia. Suami istri itu ibarat sepatu, tidak sama namun selalu melangkah bersama.” Mama Maira menggenggam tangan Riri seolah meminta menantunya untuk berjanji padanya.
Tenggorokan Riri seperti tercekat. Hatinya sesak melihat wajah dan mata Mama mertuanya yang menatapanya penuh harap. Bagaimana jika mereka tahu jika cepat atau lambat hubungan Raka dan Riri akan berakhir seperti yang mereka sepakati. Tapi ia sendiri juga ragu untuk menjalani hubungan pernikahan yang sempat Raka tawarkan. Tidak ingin melihat Mama mertuanya kecewa, akhirnya Riri memilih mengiyakan permintaan mertuanya. Ia mencoba berjanji yang ia sendiri tahu pasti akan ia ingkari point terakhirnya.