
“Kalau begitu pertahankan pernikahanmu. Aku semakin yakin jika ia memang yang terbaik untukmu. Jika tidak mana mungkin Papa dan Mama memaksamu menikahinya kan?”
“Iyaa, kau betul sekali kak. Bahkan aku rasa Mama dan Papa lebih menyukai Riri daripada Jessi.” Raka menyetujui perkataan kakaknya.
“Aku jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan adik ipar.” Elang terlihat antusias ingin berkenalan dengan Riri. Namun rasa penasarannya harus ditahan sedikit lebih lama karna Arlin menyuruh Raka membelikan sate langganan Riri karna istrinya tidak memasak dan menginginkan makan sate. Padahal niat awalnya Arlin dan Eric yang berencana untuk menyiapkan makan malam, tapi Riri menolak dan ingin makan sate. Akhirnya Raka memutar rute yang agak jauh dari tujuan awalnya untuk pulang ke villa dan kembali menuju tempat penjual sate favorit Riri untuk membeli sate kemauan istrinya. Hingga akhirnya Raka kembali sekitar pukul sembilan malam.
“Kau lama sekali…” Riri mengerucutkan bibirnya saat melihat Raka turun dari kursi kemudi. Wanita itu belum menyadari jika ada sosok lain didalam mobil yang sedang mengamatinya.
“Tadi sudah hampir dekat villa tapi Kak Lin menelponku, katanya kau ingin makan sate makanya ini kubelikan.” Raka menunjukkan bungkusan yang cukup besar, suaminya itu pasti membeli sate dalam jumlah yang banyak.
__ADS_1
“Ka, aku mau ganti warna rambut.” Ucap Riri sambil menerima bungkusan yang disodorkan oleh suaminya.
“Mau ganti warna apa?” tanya Raka lembut sambil membelai rambut panjang milik istrinya.
“Light blue, hehehe..” Riri menampikan deretan giginya. Sementara Raka hanya menggeleng.
“Kau mau menjadi gulali lagi? Bisa tidak jangan kau warnai dengan warna-warna terang seperti itu? Lebih baik kau retouch saja, kebetulan rambutmu sudah mulai tumbuh jadi bagian atasnya berwarna hitam.” Raka memberikan usulan karna sejujurnya ia juga menjadi kurang suka jika Riri berdandan selayaknya anak abege meskipun wajahnya masih sangat cocok menjadi anak kuliahan.
“Ayo masuk kak, nanti kukenalkan pada istriku.” Ajak Raka yang kembali mendekat ke bagasi mobil untuk membantu menurunkan barang bawaan milik Elang sementara kakaknya itu juga menurunkan beberapa barangnya sendiri. Riri bergegas masuk dan menyiapkan makanan, barangkali tamunya juga sama laparnya seperti dirinya karna belum makan mulai siang.
__ADS_1
“Kak Eric dimana Lin?” Riri celingukan mencari sosok Eric yang tidak terlihat, bahkan Eric juga tidak menyambut kedatangan Raka beserta kakaknya.
“Aku disini..” sahut Eric yang terlihat pucat.
“Kau sakit kak?” Riri mendekat hendak memeriksa keadaan Eric.
“Tiba-tiba badanku tidak enak Ri, tapi saat kau tidur tadi Arlin sudah membawaku ke klinik, kau tidak perlu khawatir. Dimana Raka?” kini giliran Eric yang mencari sosok Raka dan ternyata Raka sudah berada dibelakangnya bersama dengan laki-laki yang kini bisa Riri lihat dengan jelas.
Sosok itu sepertinya tidak asing baginya, entah dimana rasanya ia pernah mengenal laki-laki tersebut. Raka mengenalkan sosok tersebut sekaligus menyuruh kakaknya untuk duduk dan ikut makan malam bersama.
__ADS_1
“Apa kabar Lynx? Kau pasti sedang mengingatku kan? Aku tidak menyangka jika ternyata kau yang menjadi adik iparku.” Kata Elang membuka suara, sejak awal ia melihat Riri dari dalam mobil sebenarnya ia juga merasa seperti sudah pernah mengenal sosok wanita yang kini menjadi adik iparnya.