
Merasa bosan dan malas mengerjakan sesuatu, Riri memilih untuk berkunjung ke kamar Arlin. Sahabat sekaligus asisten yang merangkap sebagai sekretarisnya itu sudah tidak pernah main ke kamarnya semenjak ia tidur sekamar dengan Raka. Padahal dulu mereka berdua sering begadang bersama sambil marathon film atau drama-drama.
Ceklek, Riri membuka pintu kamar Arlin tanpa mengetuk lebih dahulu. Membuat siempunya kamar langsung menoleh ke arahnya. Arlin masih memeriksa beberapa laporan yang masuk sebelum diserahkan kepada Riri.
“Ada apa bos?” tanya Arlin tanpa menatap Riri yang kini sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang milik Arlin. Wanita itu bahkan dengan seenaknya menyalakan televisi lalu memilih chanel drama seperti biasanya.
“Aku merindukanmu, sudah lama kau tidak berkunjung ke kamarku” jujur Riri yang mana seketika itu Arlin langsung menatap wajah sendu Riri. Meskipun tinggal serumah, ia akui hubungannya dengan Riri agak sedikit berjarak semenjak ada Raka dan juga kak Eric. Bukan tanpa alasan Arlin melakukan itu semua. Gadis itu sengaja memberikan waktu lebih untuk Raka dan Riri agar keduanya bisa saling jatuh cinta.
__ADS_1
“Kau lupa jika sudah menikah? Tentu saja aku tidak bisa keluar-masuk kamarmu seperti dulu. Tidak enak pada Raka, bagaimana jika suamimu itu sedang ganti pakaian dan tiba-tiba aku masuk?” Arlin menyindir bos singanya itu.
“Iya kau benar. Bisa berbahaya jika kau melihat Raka sedang berganti pakaian. Aku takut jiwa jomblomu akan meronta-ronta. Mengingat tubuh Raka saat ini yang sangat pelukable” Riri memeragakan seorang-olah sedang memeluk Raka dengan wajah mesumnya.
“Kau ini !! pekik Arlin sambil melempar bolpoint ke arah Riri. “Bagaimana honeymoon kalian kemarin? Kau pasti sibuk mencetak keponakan untukku sehingga sangat susah untuk dihubungi. Bahkan tidak ada kabar sama sekali darimu dan Raka.” Arlin menggoda Riri sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“Lagakmu bos, baru saja tadi kau mengajari Raka agar jangan gegabah menggunakan uangnya dan sekarang justru kau sendiri yang akan bertindak gegabah.” Arlin mencebikkan bibirnya sambil memukul tubuh Riri sedikit keras. “Kau serius tidak melakukan apa-apa dengan suamimu? Dengar Ri, bagaimanapun Raka adalah laki-laki dewasa yang normal. Bagaimana jika dia melampiaskannya pada ja—lang -ja—lang diluar sana? Kau kan istrinya seharusnya kau yang melayaninya.” Ujar Arlin sambil mengamati respon yang Riri berikan.
__ADS_1
“Benarkah begitu? Menurutmu apa Raka akan jajan sembarangan? Aku tidak bisa memberikannya Lin, kau tahu kan kesepakatannya? Lagipula mana bisa aku melakukan hal itu pada seorang yang aku anggap adik sendiri. Aku sama sekali tidak merasa dan mengganggap Raka itu suamiku.”
“Ya hal itu bisa saja terjadi. Bagaimanapun Raka adalah laki-laki normal yang butuh menuntaskan hasrat biologisnya. Lagipula berdosa jika kau menolak suamimu. Suami ya suami Ri, kau tidak boleh terus-menerus menganggapnya sebagai adik.” Arlin menasehati Riri dengan perlahan, ia berharap Riri mau membuka diri dan hatinya untuk menerima Raka.
“Tapi Raka tidak pernah meminta padaku, berarti kan aku tidak menolaknya.” Sangkal Riri
“Kau sudah menolaknya sedari awal. Memberinya ultimatum untuk tidak menyentuhmu dan tidak bisa memberikan hak Raka. Kau lupa itu?”
__ADS_1