Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Terpesona pada kakak ipar


__ADS_3

“Panggil Riri saja, aku sudah bukan juniormu kak. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu? kak Elang atau Kak Rafa?” Riri balik bertanya.


“Elang saja, kau sudah menjadi bagian keluarga Janitra dan lagipula aku juga bukan seniormu lagi.” Balas Elang yang membuat Riri tergelak, tidak menyangka seniornya dulu menjadi Kakak iparnya.


“Kau hati-hati menyetirnya. Biaya servis mobilmu itu mahal.” Raka memperingatkan padahal bukan itu maksud yang sebenarnya. Ia tidak masalah membayar tagihan servis mobil yang diberikan pada Riri. Raka hanya ingin istrinya hati-hati dan tidak pergi ketempat yang aneh-aneh.


“Iyaa, kau ini perhitungan sekali.” Riri mencebikkan bibirnya pada Raka namun tidak digubris oleh suaminya. Raka dan Eric berpamitan untuk berangkat bekerja. Setelah kepergian Raka, Elang juga bersiap untuk menghadiri acara Conference yang diadakan pukul sembilan pagi.

__ADS_1


“Kau mau kemana hari ini?” tanya Riri pada Arlin yang masih belum menyelesaikan sarapannya.


“Aku tidak kemana-mana, kenapa?”


“Ikutlah denganku sekalian kita jalan-jalan. Aku tidak enak jika pergi hanya berduaan dengan kak Elang. Kau lihat tadi raut wajah Raka? Sepertinya dia ingin memakanku.” Riri bergidik ngeri menyadari tatapan Raka tadi saat dia menawarkan diri untuk mengantarkan Elang. Padahal maksud Riri selain untuk mengenal dekat keluarga Raka, ia sendiri ingin jalan-jalan. Arlin mengangguk menyetujui ajakan Riri. Lagipula ia juga bosan jika berada sendirian di Villa.


Tepat pukul tiga sore, mobil Riri sudah terparkir di lobby sambil menunggu kedatangan kakak iparnya. Elang terlihat memukau dengan jas dokter yang digunakannya. Riri sampai tidak berkedip memandangi Elang dari kejauhan.

__ADS_1


“Jaga matamu itu, jangan sampai kau jatuh cinta pada kakak iparmu sendiri.” Arlin memperingatkan Riri dan seketika itu Riri memalingkan wajahnya. Ia berhenti memandangi Elang.


“Berapa lama kau mengenalku? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu berfikiran jelek tentangku. Aku bukan memandangi wajahnya, tapi aku memandangi jas yang sedang digunakannya dan digunakan orang-orang yang sedang berjalan. Lihatlah!” Riri menunjuk beberapa orang yang keluar dari hotel masih dengan menggunakan jas dokternya. Sudah sangat jelas jika Conference yang dihadiri Elang pasti salah satu acara kesehatan yang dihadiri oleh dokter-dokter. “Mimpiku harus aku kubur jauh-jauh, mungkin jika aku memaksakan kehendakku saat ini aku merupakan salah satu dari mereka.” Ujar Riri kembali menatap para dokter yang sedang berjalan.


“Hehehe maaf, aku pikir kau terpesona pada kakak iparmu. Sudah, tidak usah kau pikirkan lagi. Jalan hidupmu sudah tepat dengan menjadi bos. Coba lihat, kalau kau menjadi mereka mungkin kau tidak akan memiliki waktu senggang seperti ini.” Hibur Arlin agar Riri tidak kembali mengingat masa lalunya. Sedih memang jika kita harus mengorbankan impian demi sebuah tanggung jawab.


Riri tidak menyahuti perkataan Arlin karna rupanya Elang sudah berdiri disamping mobilnya. Dan dengan cepat Riri membuka kaca serta kunci pintu sehingga memudahkan Elang untuk masuk. Sedari awal Elang memang duduk dikursi penumpang, sementara Arlin duduk disamping kursi kemudi.

__ADS_1


“Wow, kalian belanja sebanyak ini?” Elang berdecak kaget saat melihat sebagian kursi penumpang terisi dengan paper bag. Sudah dapat dipastikan kedua wanita dihadapannya ini pasti habis belanja.


__ADS_2