
Riri menatap Gerry tidak percaya. Baru saja ia memikirkan akan bercerai dari Raka dan kini Gerry sudah memintanya lebih dulu untuk melakukan hal tersebut dan mengajaknya untuk ikut bersamanya. “Kau serius? Urusan perceraianku tidak mungkin secepat itu, kau akan membawaku saat aku masih berstatus sebagai istri orang?”
“Aku akan menyuruh temanku yang bekerja sebagai pengacara untuk membantu membereskan perceraian kalian agar lebih cepat selesai. Kau istrinya tetapi hanya sebatas status bukan? Aku akan tetap membawamu ikut bersamaku itupun jika kau mau tentunya. Tak masalah jika kau ataupun dia tidak menghadiri sidang perceraian kalian. Bukankah hal itu justru memudahkan dan mempercepat proses perceraian setahuku.”
“Berikan aku waktu untuk memikirkan hal ini dulu. Ikut denganmu dalam waktu secepat ini belum sempat terpikirkan olehku sebelumnya.”
“Jangan berfikir lama-lama, waktuku disini hanya kurang dari satu bulan. Apa kau kurang yakin denganku? Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Gerry saat melihat keraguan di hati Riri.
__ADS_1
“Bukan aku tidak yakin padamu atau tidak percaya padamu. Aku hanya berfikir bagaimana nanti setelah orang tuaku tau aku bercerai dan justru pergi denganmu. Aku tidak bisa menikah tanpa Papiku Ger, beliau adalah wali untuk menikahkanku.” Jelas Riri memberi pengertian pada Gerry.
“Kita akan menikah saat Papimu sudah merestui kita, dan aku yakin restu itu lebih mudah didapat saat kau sudah bersamaku disana. Papimu tidak mungkin menghalangi kita saat anaknya saja tidak bisa lepas dariku.” Goda Gerry sambil mengerlingkan matanya pada Riri.
Wanita itu hanya diam tidak merespon ucapan pria didepannya. Pikirannya kini bercabang kemana-mana. Entah yang mana dulu yang akan ia lakukan. Yang pasti ia tahu, ia harus secepatnya mengatakan pada Raka jika ia ingin mereka segera berpisah. Dengan begitu akan lebih mudah menjalani kehidupan dengan pasangannya masing-masing. Tapi kenapa rasanya begitu menyesakkan dada ketika menyadari waktunya dan Raka untuk berpisah sudah semakin dekat?
Disepanjang perjalanan pun keduanya sama-sama terdiam. Bahkan Riri tidak menyuruh Gerry untuk mampir seperti biasanya saat mereka sudah sampai di depan Villa milik Riri. Pria asing itu tau jika Riri masih terkejut dengan perkataannya tadi yang tiba-tiba mengatakan akan kembali ke Rusia dan mengajak Riri. Sehingga Gerry memakluminya dan memberikan Riri waktu untuk berfikir.
__ADS_1
Gerry membantu menurunkan barang-barang Riri, setelah itu ia berpamitan untuk kembali ke villanya. “Think completely, oke dear?” Gerry membelai pucuk kepala Riri saat ia melihat Raka sudah kembali dari bekerja. Pemuda itu melewati keduanya setelah memarkirkan motor sport miliknya.
“Tidak mampir dulu Ger?” Raka menawari saat melihat sepertinya tidak ada tanda-tanda Gerry akan mampir ke villa mereka.
“Next time, Riri butuh waktu untuk beristirahat. Bantulah dia membawa barang-barangnya. Aku pamit dulu.” Tolak gerry lalu bergegas menuju mobilnya dan melajukan kendaraannya itu menjauh dari kediaman Raka dan Riri.
Raka pulang seorang diri karna Eric mengatakan ada hal yang harus diurusnya. Setelah meletakkan helmnya, suami dari Darelona itu mendekati istrinya yang tengah bersiap membawa barang-barangnya memasuki villa. Raka memandang Riri dengan intens, wanita itu mengganti warna rambutnya dengan sangat terang dan mencolok.
__ADS_1