
“Tentu saja, bukankah pasien atas nama Arshakara Janitra adalah suami anda?” dokter balik bertanya karna tidak paham dengan pertanyaan yang Riri lontarkan padanya.
“Apakah dia terlihat seperti suamiku? Bukan seperti adikku?” lagi-lagi Riri bertanya yang justru membuat dokter keheranan. Disaat seperti ini keluarga pasiennya masih bisa bercanda bukannya khawatir dengan kondisi pasien yang masih belum sadarkan diri.
“Bagaimana bisa seorang suami malah menjadi adik? Sangat terlihat jelas jika pasien adalah suami anda apalagi tadi anda berteriak-teriak di UGD karna panik dan terus berkata ‘cepat dok, cepat sus tolong suamiku’.” Dokter menghela nafasnya kasar lalu berpamitan karna harus kembali mengurus pasien lainnya.
Selepas kepergian dokter, Riri mengingat kejadian tadi saat di UGD. Saking paniknya dia memang terus berteriak dan memohon para tenaga medis untuk segera menyelamatkan Raka. Baru pertama kalinya ia mengatakan dan mengakui jika Raka adalah suaminya ditempat umum.
“Kenapa Ndoro?” tanya Mbok Ila yang melihat Riri justru melamun selepas kepergian dokter yang menangani Raka.
__ADS_1
“Mbok, apakah Raka terlihat seperti suamiku?” Riri masih tidak mempercayai ucapan dokter tadi.
“Nggih tentu saja Ndoro Ajeng, memangnya ada apa?” Mbok Ila belum paham maksud pertanyaan Riri.
“Aku lebih tua satu tahun dari Raka. Apa aku tidak terlihat seperti kakaknya mbok?”
“Tapi Ndoro Ajeng tidak terlihat lebih tua dari den Raka. Kalian justru berdua tampak sangat cocok satu sama lainnya.” Jujur Mbok Ila yang entah kenapa menurut Riri itu semua hanya untuk menghiburnya saja.
Raka mulai tersadar saat jam menunjukkan pukul 4 pagi. Ia melihat sekeliling dan baru menyadari jika kini dirinya berada dirumah sakit. Ia menatap lekat kearah Riri yang sudah tidur di sofa bed padahal lampu kamarnya menyala, tapi nyatanya wanita itu bisa tidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Mungkin karna kelelahan harus membawanya ke rumah sakit dan menjaganya selama beberapa jam ini. Karna tubuhnya masih lemah, Raka memutuskan untuk kembali tidur apalagi kini tubuhnya demam dan terasa sangat panas.
Riri terbangun ketika cahaya matahari sudah cukup tinggi. Ia melihat Raka baru saja selesai diperiksa oleh dokter. Setelah mengucapkan terimakasih pada dokter dan suster yang melakukan jadwal kunjungan, Riri segera mendekat pada Raka dan menanyakan kondisi Raka saat ini.
“Ka, bagaimana kondisi tubuhmu saat ini? Benarkah gara-gara kau makan seblak buatanku akhirnya kau harus tidur disini?” Riri menatap wajah Raka dengan sendu.
“Ini bukan gara-gara seblakmu tapi mungkin tubuhku memang ingin tidur disini. Tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Kau pulanglah Ri, bersihkan dirimu dulu. Aku juga akan beristirahat.”
“Tapi Ka—“
__ADS_1
“Pulanglah! Jangan sampai gara-gara mengurusku kau sendiri juga jadi sakit. Lagipula apapun yang aku butuhkan juga mudah didapat disini. Nanti kau kan bisa kembali lagi kesini.” Potong Raka tidak ingin mendengar bantahan istrinya.
Ia cukup tahu dan sadar diri. Riri pasti kesusahan membawanya ke rumah sakit. Apalagi tubuhnya yang besar tidak sebanding dengan tubuh Riri. Wanita itu sudah semalaman menemaninya, dan kini Raka ingin Riri kembali ke villa untuk beristirahat agar jangan sampai sakit.