
“Aku berbelanja sambil menunggu kak Elang selesai menghadiri Conference.” Jawab Riri sambil menenteng tas kerja milik Raka. Membantu suaminya karna Raka sudah membantunya membawa belanjaannya yang cukup banyak. “Aku akan membersihkan diriku di kamar mandi bawah, lalu memasak. Kau mandilah diatas. Berendam yang lama agar bersih dan wangi.” lanjut Riri dengan menggoda sang suami yang membuat Raka tersenyum simpul.
Eric, Arlin dan Elang saling melirik kemudian sama-sama menahan tawanya. Mereka membubarkan diri lalu membersihkan diri. Sedangakan Riri, wanita itu hanya membersihkan diri seadanya lalu bergegas untuk memasak. Mengejar waktu karna waktu yang dimilikinya sangat terbatas. Mengingat semua penghuni villa sudah pulang.
Hanya dengan dibantu Mbok Ila, Riri memilih untuk memasak sup ikan dan ikan goreng. Menu yang menjadi salah satu andalan dari resto yang cukup terkenal di Bali. Tapi Riri bisa membuatnya sendiri dalam waktu yang singkat. Arlin kembali ke dapur saat sup sudah siap, tinggal menunggu ikan yang sedang digoreng.
Tanpa disuruh Riri, Arlin membawa makanan yang sudah siap ke meja makan. Lalu membantu menata alat makan beserta minuman. Tepat saat Riri selesai menggoreng ikan, baik Raka, Eric maupun Elang sedang berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
Elang akui, Raka cukup beruntung memiliki istri seperti Riri. Meskipun wanita itu tidak peka dan menolak pernikahan mereka. Tapi yang ia lihat, Riri memperlakukan Raka dengan baik. Bahkan wanita itu berperan seperti layaknya seorang istri sungguhan.
“Kak, kau tidak alergi ikan kan?” tanya Riri pada Elang. Ia sendiri lupa saat ini ada Elang dirumahnya dan justru memasak menu ikan laut.
“Aku pemakan segala Ri, santai saja. Ini semua kau yang memasak?” Elang menarik kursinya lalu mulai mengambil nasi.
“Syukurlah kalau begitu. Iya aku yang memasak? Kau tidak percaya? Responmu sama seperti Raka dan Kak Eric saat memakan masakanku pertama kali. Apa aku terlihat seperti Ratu yang selalu dilayani?” Riri melemparkan pertanyaannya pada Elang sambil menyendokkan sup ikan ke masing-masing mangkuk.
__ADS_1
“Kak, kau sudah mengatakan pada Bela untuk menginap disini?” Riri memastikan dan mengingatkan kakak iparnya tersebut. Jika Bela mau menginap dirumahnya, otomatis kamar tamu yang tersisa satu-satunya itu harus segera dibenahi.
“Kak Bela akan datang kemari?” Raka menatap Elang menunggu jawaban.
“Iya, mungkin besok dia baru berangkat kesini. Aku baru mau mengatakannya padamu tapi Riri lebih dulu menanyakan apakah Bela bersedia menginap disini atau tidak. Tentu saja dia mau, mana mungkin dia menolak disaat adik dan kakaknya berada disatu tempat yang sama.“ Elang tersenyum menatap Raka dan Riri bergantian. Rupanya adik iparnya itu mengerti keinginan Bela.
“Apa Papa dan Mama juga ikut? Pertanyaan Raka barusan membuat Riri terlonjak kaget. Jika mertuanya ikut lantas mereka akan tidur dimana? Villa miliknya hanya terdapat satu kamar utama yang merupakan kamar yang ia tempati bersama Raka. Selain itu ada empat kamar tamu, yang masing-masing sudah ditempati oleh Eric, Elang, Arlin dan keluarga kecil Bela nantinya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu.” Jujur Elang kemudian ia menoleh pada Riri yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Aku bisa berbagi kamar dengan Eric, jadi jika Papa dan Mama ikut mereka bisa tidur dikamar yang kutempati saat ini. Kau tidak keberatan kan Ric?” Elang gantian menatap Eric meminta persetujuan dari sahabat baiknya itu.