
Riri menarik lengan Raka agar lelaki itu menatapnya dan berhasil. “Kenapa kau tidak mau menatapku? Kau marah padaku Ka? Aku kan hanya berlibur bersama Arlin dan Gerry, bagaimana bisa kau malah marah begini. Bukan aku tidak mau mengajakmu tapi kan kau tidak sedang libur.” Jelas Riri berusaha untuk mencairkan suasana karna ia tidak suka terlalu lama berperang dengan Raka. Seseorang yang tinggal seatap dengannya, tidur sekamar bahkan seranjang dengannya.
“Aku tidak marah, apa hakku untuk marah.” Raka mengalihkan pandangannya kembali enggan menatap Riri. Lelaki itu mematikan kompornya karna bubur yang ia masak sudah selesai. Riri mengehela nafas, meskipun ucapan Raka mengatakan jika ia tidak marah tapi sikap yang ditunjukannya jauh berbeda dan sangat berbanding terbalik dengan ucapan lelaki itu.
“Bawalah Shelo kemari, aku akan membantu merawatnya jadi kau tidak perlu membolos kerja. Ingatlah, kau sedang terus diawasi oleh Papamu. Jangan membuat ulah!” Riri mengambil alih masakan yang dibuat oleh Raka lalu menempatkannya pada wadah untuk dibawa ketempat Shelo. “Aku akan ikut bersamamu, kita akan membawa Shelo kemari.” Lanjutnya tanpa bantahan.
__ADS_1
Enggan mendebat Riri, Raka lebih memilih diam dan menuruti semua yang wanita itu katakan. Setelah bubur yang akan mereka bawa sudah siap, tanpa berganti pakaian Riri langsung menyuruh Raka untuk membawa mobilnya untuk menjemput Shelo. Selama perjalananan keduanya saling mendiamkan satu sama lain. Sampai akhirnya Raka yang lebih dulu bertanya karna ada sesuatu yang mengganjalnya. "Bagaimana jika nanti Mbok Ila bertanya siapa Shelo? Kenapa kau malah membawanya ke villa? Seharusnya biarkan saja aku merawatnya sendiri.”
Riri menatap Raka sekilas lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus pada jalanan. “Katakan saja jika dia saudara jauhmu yang sedang berada disini. Aku akan membiarkanmu untuk merawat Shelo saat ia berada di villa. Tenanglah aku tidak akan menghalangimu, aku akan menempatkanny dikamar tamu dekat kamar utama kita, jadi kau tidak perlu bolak-balik naik turun sehingga Mbok Ila tidak akan curiga. Kalau kau merawatnya dan bolos bekerja, kau sudah tau resikonya tanpa aku harus menjelaskannya kembali. Kecuali jika kau membolos kerja untuk merawatku tentu saja Papamu tidak akan keberatan.” Ujar Riri datar dan semua yang ia katakan memang benar.
Tidak butuh waktu lama, kini mereka berdua sudah berada di sebuah flat yang cukup bersih namun tidak ada kesan mewahnya sama sekali. Riri bejalan dibelakang Raka, mengikuti kemana langkah suaminya. Hingga Raka berhenti disebuah pintu dan mengetuknya perlahan sambil memanggil nama Shelo.
__ADS_1
“Shel, ini aku. Buka pintunya.” Kata Raka sambil terus mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian pintu itupun terbuka, dan munculah seorang wanita yang menggunakan training berwarna pink. Wajahnya pucat, terlihat jika gadis tersebut memang sedang sakit.
Tanpa menungu dipersilahkan masuk oleh si gadis, Raka langsung menerobos masuk. Meninggalkan Riri dibelakangnya. Pria itu langsung menuju dapur yang menjadi satu dengan ruang televisi dan menata makanan yang ia bawa. Riri mengikuti langkah Raka dan juga ikut masuk ke dalam flat tersebut.
“Ah maaf kak tempatnya berantakan.” Ucap Shelo saat menyadari Riri ikut bersama Raka dan wanita itu kini tengah duduk dikursi yang tak jauh darinya.
__ADS_1