
“Iya benar, aku kakak Raka selagi dia berada di Bali, dan kau?” Riri memaksakan senyumnya dan berusaha bersikap ramah pada gadis dihadapannya kini.
“Perkenalkan aku Shelomita tapi kau bisa memanggilku Shelo kak. Aku berharap jika bisa menjadi kekasih Raka tapi entahlah pemuda ini selalu berkelit saat kumintai status tentang hubungan kami.." gadis itu tersenyum manis lalu kembali menyuapi Raka.
“Ah begitu rupanya.” Riri tersenyum kikuk. “Aku membawakanmu sup ikan. Nanti bisa kau hangatkan lagi jika ingin memakannya. Kalau begitu aku permisi dulu karna sebenarnya aku masih ada urusan dan hanya bisa mampir sebentar, cepat sembuh Ka. Kalau kau butuh sesuatu bisa menghubungi aku.” Riri meletakkan sup ikan yang dibawanya dimeja dekat Raka. Setelah itu ia berpamitan pada suaminya.
Bukan kemauannya untuk pergi, namun rasanya tidak enak berada ditengah-tengah kedua orang wanita dan pria yang mungkin saja sepasang kekasih namun belum resmi. Raka tidak menahan kepergian Riri karna ia berfikir jika istrinya memiliki urusan lain apalagi kini Arlin masih berada di Solo. Sehingga mungkin saja pekerjaan disini ada yang harus Riri selesaikan.
__ADS_1
Setelah meninggalkan kamar Raka, Riri terus saja berjalan dengan tatapan kosong. Pikirannya linglung dan menerawang jauh. Hatinya merasa tidak enak, resah dan gelisah. Belum pernah ia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya menabrak seseorang yang sedang membenarkan tali sepatunya. Yang akhirnya membuat Riri dan pria itu jatuh bersamaan.
“Aaakkk..” teriak Riri karna dirinya jatuh tersungkur. Dengan posisi tubuhnya menindih tubuh pria yang ia tabrak, namun mereka tidak saling berhimpitan. Lebih tepatnya menindih dengan posisi menyilang sehingga tubuh bagian atas mereka tidak menempel satu sama lainnya.
“Excuse me sir, I’m so— Kau???” belum sempat Riri meminta maaf dirinya kini dikejutkan fakta baru bahwa yang menabraknya adalah bule Rusia tempo lalu yang ia jumpai dipantai. Riri lebih dulu berdiri karna dirinya yang tadi berada diatas tubuh si pria. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk membantu pria bule tersebut dan tentu saja diterima oleh si pria bule itu.
“Namaku Riri, bukan Nona pantai.” Decak Riri tidak terima. “Apa kau baik-baik saja?” wanita itu memeriksa dan menelisik tubuh pria bule tersebut dan sepertinya tidak ada yang terluka.
__ADS_1
“Hanya jatuh seperti itu tentu saja tidak membuatku terluka. Kau sedang apa disini?”
“Menjenguk suami yang sedang sakit. Namun sepertinya saatnya tidak tepat.” Riri menjawab dengan lesu saat kembali mengingat jika Raka kini bersama dengan seorang gadis.
“Ck, kau itu selalu saja galau saat bertemu denganku. Mau ikut denganku agar galaumu hilang?” ajak pria bule itu. Namun Riri justru menatapnya dengan tatapan tajam. “Kau tidak usah takut, aku tidak akan membawamu ke Club atau Diskotik. Aku bukan pria seperti itu, lagipula aku seorang dokter tentu saja aku harus menjaga kesehatanku.”
Riri membelalakkan matanya saat tahu pria bule didepannya ini adalah dokter. Benar-benar tipe idaman yang dia inginkan. Pria bule bermata biru ke abu-abuan dengan profesi sebagai seorang dokter. Jika mimpinya menjadi dokter tidak tercapai setidaknya dengan menjadi istri dokter tidak masalah bukan?
__ADS_1
“Baiklah, aku juga butuh teman saat ini.” Riri setuju dengan ajakan pria bule tersebut.