
Mami Vindi menyeka air matanya ketika ia mengingat sesuatu hal. Wanita paruh baya itupun mengurai pelukan dari sang suami lalu menatap lekat kearah Papi Gun. “Pi, bukankah kita pulang lebih awal dari acara tadi karna Raka menelponmu, mengatakan jika Riri tidak membalas pesannya? Itu berarti Raka serius menjalani pernikahan ini dan Riri yang enggan menjalankannya? Mami ingat dengan jelas sewaktu Riri menelpon Papi ketika Raka tiba di villanya dulu, dia sangat marah dan murka atas keputusan yang kita ambil dengan mendaftarkan pernikahannya secara resmi.” Mami Vindi buru-buru beranjak bangun. Berencana untuk pergi ke kamar Riri.
“Kau mau kemana Mi?” Papi Gun menahan lengan sang istri.
“Tentu saja ke kamar Riri. Mami harus menasehatinya, dia tidak bisa hidup terus-terusan didalam bayang-bayang masa lalu. Kita tahu dengan jelas jika Raka peduli kepadanya, lalu kenapa dia tidak mencoba untuk menerima Raka? Mami tahu anak itu pasti menolak Raka terus menerus hingga akhirnya ia jengah dan kembali ke Solo untuk menghindari suaminya sementara waktu. Mami tidak akan membiarkan perceraian diantara mereka sampai terjadi.” Ucap Mami Vindi menggebu-gebu.
__ADS_1
Papi Gun menarik lengan Mami Vindi hingga membuat wanita itu kembali duduk di ranjang tepat disampingnya. Ia mengusap wajahnya sedikit kasar sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya. “Inilah yang membuat Riri tidak pernah menceritakan masalah hidupnya kepada Mami. Mami itu selalu menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya Riri saja yang menolak pernikahan ini, tapi juga Raka."
"Coba Mami bayangkan jika menjadi Raka, tiba-tiba Mami harus dinikahkan dengan seseorang yang seharusnya menjadi kakak iparmu sedangkan hubungan Mami sebelumnya tidak begitu baik dengannya. Jangan hanya menyalahkan Riri, Papi bukan bermaksud membela putri kita tapi disini Mami seharusnya bersikap adil dan tidak terus menerus menghakimi Riri tanpa tahu duduk permasalahannya.
Vindi memang seperti itu sedari dulu. Ketika putri-putrinya bertengkar dengan seseorang atau memiliki persoalan dengan seseorang maka ia akan lebih dulu menyalahkan putrinya. Baginya lebih baik memarahi anak sendiri daripada memarahi anak orang lain. Karna orang lain tidak akan terima jika anaknya dimarahi oleh seseorang, oleh karena Mami Vindi lebih memilih untuk dan menegur anaknya terlepas anaknya benar atau salah.
__ADS_1
Hal itu dilakukannya untuk mendidik agar anaknya tidak menjadi seseorang yang semena-mena dan tidak takut apapun. Tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar yang Mami Vindi lakukan. Tapi karna sikapnya itu membuat baik Riri maupun Jessi lebih memilih untuk diam atau menceritakan persoalannya kepada Papi Gun daripada harus bercerita pada Mami Vindi yang akan berakhir dengan menghakiminya sendiri.
“Lalu apa yang harus Mami lakukan Pi? Mami tidak mau sampai Raka dan Riri berpisah.” Tolak Mami Vindi akan kenyataan yang membayanginya. Ia sadar apa yang suaminya katakan benar, dan ia menuruti dengan tidak jadi pergi untuk menemui Riri.
“Berdoa, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Bersikaplah seperti biasa ketika Mami sedang bersama dengan Riri. Buatlah putri kita nyaman sehingga ia bisa bercerita pada Mami dengan leluasa. Ingat jangan menghakiminya lagi. Sekarang bersihkanlah wajahmu, lalu berdoalah dengan sungguh-sungguh agar mimpi buruk ini tidak menjadi kenyataan.” Titah Papi Gun pada sang istri.
__ADS_1