
“Pesanku saat dia tiba di Solo saja tidak dibalas sama sekali.” Ungkap Raka yang memang benar itu adanya.
“Memangnya setelah itu kau tidak menghubunginya kembali?” tanya Eric masih belum puas. Raka menggeleng sebagai jawabannya.
“Baguslah kalau begitu lebih baik kalian segera bercerai sehingga bisa hidup bersama dengan kekasih kalian masing-masing.” Ucap Eric dengan nada yang sedikit tinggi. Bahkan ia tidak peduli jika Mbok Ila mendengarnya atau tidak. Setelah mengucapkan kata-kata itu Eric membanting napkin ke atas meja makan lalu pergi meninggalkan Arlin dan Raka.
Sementara Raka hanya diam mematung. Eric tidak pernah bersikap seperti ini selama ia mengenalnya. Lalu kenapa Eric marah dan tiba-tiba menyuruhnya bercerai padahal sebelumnya Eric yang menyuruhnya berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya.
__ADS_1
Raka menatap Arlin yang sepertinya juga sudah selesai dengan makan malamnya. Gadis itu bahkan tidak berkomentar apapun dan memilih diam. Arlin juga tidak menatapnya sama sekali. Raka memberanikan diri untuk bertanya pada Arlin. “Kak, apa aku melakukan kesalahan?” Baginya tidak menghubungi Riri bukan berarti dia tidak peduli tapi dia sengaja memberikan waktu bagi Riri melepas kerinduan bersama keluarganya.
“Tanyakan pada dirimu sendiri apakah salah atau tidak mengabaikan seseorang yang hidup seatap denganmu cukup lama.” Sinis Arlin yang hanya menatap Raka sekilas lalu meneguk air putih.
“Aku tidak mengabaikannya kak.” Elak Raka “Justru dia sendiri yang mengabaikanku dan tidak peduli padaku apalagi setelah kedatangan Shelo.”
“Kau tahu perbedaan kaumku dengan kaummu? Laki-laki pandai tampil seolah-olah mencintaimu padahal tidak, sedangkan wanita bisa tampil seolah tidak peduli sama sekali padahal sangat mencintaimu.” Arlin mengutip quotes dari salah satu motivator terkenal di negri ini. Setelah itu ia pergi keluar untuk mencari angin.
__ADS_1
Arlin memakirkan sepeda motornya lalu duduk disebelah pemuda. Sementara pemuda itu tidak menghiraukan kedatangan Arlin sama sekali. Matanya masih lurus menatap lautan yang berwarna hitam karna gelapnya malam.
“Yang kita usahakan dan perjuangkan akhirnya seperti ini Lin.” Kata Eric setelah keduanya terdiam cukup lama. Ya pemuda itu adalah Eric dan bagaimana Arlin bisa tahu keberadaan Eric? Karna mereka berdua biasanya menghabiskan waktu mereka dipantai ini jika Raka dan Riri tidak ada di villa atau sibuk dengan pekerjaan mereka.
“Ini belum sampai akhir kak, kau tidak bisa menebaknya. Terkadang keajaiban justru datang disaat-saat terakhir.” Sahut Arlin yang ikut menatap hamparan laut didepannya.
“Aku sangat menyayangkan jika pernikahan Raka dan Riri harus kandas. Aku tidak bisa menjalankan amanat Pakdhe dan Budhe. Tapi aku bisa apa jika Riri sudah memiliki pilihannya begitupun dengan Raka. Melihat mereka berdua membuatku semakin sadar cinta itu rumit dan aku tidak ingin terlibat didalamnya.” Keluh Eric frustasi.
__ADS_1
“Cerita cinta setiap orang berbeda-beda kak, tidak semuanya rumit. Mungkin memang kita ditakdirkan untuk melihat kisah cinta yang rumit ini untuk dijadikan pelajaran hidup.”
“Apa Riri pulang ke Solo untuk mengurus perceraiannya Lin?” Eric menatap Arlin saat hal itu terlintas dibenaknya. Arlin pun ikut menatap Eric dan keduanya kini saling berpandangan. Mereka tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.