
“Ya Tuhan, kenapa nasibku seperti ini?” keluh Riri setengah berteriak. Kini ia berada disalah satu pantai yang cukup sepi. Wanita itu emang sengaja pergi ketempat seperti itu agar tidak ada yang mengganggunya karna ia sangat membutuhkan ketenangan setelah pertengkarannya dengan Raka.
“Kenapa aku harus menikah dua kali dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku inginkan?” teriak Riri lagi pada hamparan pasir dan air laut yang ada dihadapannya kini.
“Menikahlah lagi untuk yang ketiga kalinya tapi dengan seseorang yang benar-benar kau inginkan.” Sahut seseorang.
Riri menengok ke kanan dan kekiri namun ia tidak melihat siapapun kecuali seorang pria bule yang sedang duduk tidak jauh darinya sambil memotret pemandangan sekitar dengan kamera yang dikalungkan di lehernya.
“Apa disini ada hantu? Bukankah ini masih sore? Apa hantu jaman sekarang juga muncul saat sore hari?” Riri bergidik ngeri sambil mengusap kedua lengannya.
__ADS_1
“Apa kau anggap aku ini hantu nona?” tanya pria bule tadi sambil membidikkan kameranya kearah Riri. Wanita itu tampak terkejut karna tidak mengira pria bule tersebut yang menyahuti keluhannya. Ia tidak menyangka bule itu sangat fasih berbahasa Indonesia. Bahkan tidak terdengar aksen bule nya sama sekali.
“Kau bisa berbahasa Indonesia?” tanya Riri sambil menelisik pria bule itu tidak percaya.
“Tentu saja aku bisa. Neneku orang asli Indonesia sementara kakekku orang Italia. Selanjutnya mereka melahirkan ibuku, dan setelah itu ibuku menikah dengan orang Rusia. Makanya wajahku benar-benar 100% bule tapi keseharianku dengan keluarga ibuku menggunakan bahasa Indonesia jadi aku sudah terbiasa.” Jelas pria bule itu sambil duduk disamping Riri.
Gerald mencoba mengibaskan tangannya tepat didepan wajah Riri karna wanita itu sepertinya tengah melamun. Dan setelah sadar, Riri segera menguasai dirinya dan memalingkan wajahnya. Malu dengan tingkah konyolnya sendiri barusan.
“Kau kesini hanya untuk mengeluh karna dua kali menikah dengan pria yang tidak kau inginkan? Kenapa kau tidak menolaknya saja.” Ucap Gerald membuka obrolannya. Rasanya miris, wanita disampingnya ini memiliki kecantikan khas wanita asia namun wajahnya juga memiliki sedikit sentuhan oriental. Masa wanita secantik ini harus menikah dua kali dengan laki-laki yang tidak dia inginkan? Tidak mungkin jika wanita ini tidak laku kan? Itulah kira-kira yang ada dibenak Gerald.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menolaknya, lebih tepatnya aku tidak punya kekuasaan untuk menolaknya.” Jujur Riri sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Apakah semacam perjodohan bisnis? Lalu kenapa sampai dua kali?” tanya laki-laki bule tadi penasaran dengan kisah Riri.
“Yang pertama aku menikah karna dipaksa oleh adikku. Kami memiliki tradisi jika kakak perempuan tidak boleh didahului adiknya menikah, dan adikku saat itu berencana menikah dengan kekasihnya sehingga memaksaku untuk menikah dengan laki-laki yang baru aku kenal empat bulan.”
“Kami pun akhirnya menikah dan laki-laki itu memberikan aku syarat untuk menunda momongan. Aku menyetujuinya, aku pikir ada bagusnya juga setelah menikah kami menunda momongan dan fokus untuk saling mengenal lebih dalam lagi, anggaplah seperti masa pacaran. Tapi selama dua tahun menikah, kedua orang tuanya selalu mendesakku untuk memiliki keturunan.”
“Aku menutupi kesepakatan kami sehingga orang tuanya mengira aku susah memiliki keturunan sehingga mereka menyuruh laki-laki itu menikah lagi. Dan selama dua tahun aku mendapat tekanan dan tersudutkan dari kedua orang tuanya, dia sama sekali tidak membelaku. Jadi aku putuskan untuk bercerai.” Jelas Riri yang entah mengapa ia dengan mudahnya menceritakan kisah hidupnya dengan pria yang baru beberapa menit ditemuinya. Wanita itu berfikir ia membutuhkan teman cerita dan tidak masalah menceritakan masalahnya pada orang asing yang ia temui, toh mereka tidak akan bertemu lagi. Setidaknya ia bisa melepaskan sedikit unek-unek yang ada dalam hatinya selama ini.
__ADS_1