
“Apa kau sudah memikirkan akan melahirkan dimana Ce?” Mami Vindi yang daritadi menyimak kini ikut bertanya. Sebagai ibu Riri tentu saja ia memikirkan dimana anaknya itu akan melahirkan sehingga dirinya bisa menemani sang putri.
“Sepertinya aku akan melahirkan disini saja Mi. Mengingat pekerjaan Raka juga disini, dan pekerjaanku juga disini. Aku tidak mau bepergian terlalu jauh. Ini kehamilan pertamaku dan aku harus extra hati-hati bukan? Bagiamana menurut Mami?” Riri meminta pendapat Maminya.
“Mami setuju. Itu lebih baik daripada kau harus kembali ke Solo. Mami akan menemanimu disini saat kehamilanmu memasuki usia delapan bulan. Bagaimana Pi?” kini giliran Mami Vindi yang meminta pendapat sang suami.
“Sure, itu ide yang bagus. Mamimu akan menemanimu disini, dan Papi akan menyusul saat menjelang hari perkiraan lahir. Kau tahu kan jika Papi juga harus mengurus pekerjaan, sehingga Papi akan datang belakangan. Tidak masalah kan Ce?”
__ADS_1
“Iya Pi. Aku tahu itu, tidak masalah jika Papi datang menyusul belakangan.”
“Mama juga akan menemanimu Ri.” Mama Maira ikut bersuara. Ia menatap besannya dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya sedari tadi. “Jeng, aku ikut bersamamu ke Bali saat usia Riri memasuki delapan bulan, bagaimana?” tanya Mama Maira pada besannya yang tidak lain adalah Mami Vindi.
“Tentu saja jeng, itu hal yang sangat bagus. Kita akan disini bersama-sama untuk menemani Riri melahirkan” Seru Mami Vindi setuju dengan ide dari Mama Maira.
“Kau jaga Riri dengan baik Ka. Jangan terlalu fokus pada pekerjaan karna kini Riri tengah hamil. Papa akan memberimu kelonggaran.” Ujar Papa Rendra pada Raka dan diangguki oleh anak lelakinya tersebut.
__ADS_1
Papi Gruno menepuk bahu Raka. Mengisyaratkan agar menantunya itu segera mengikutinya. Ada hal yang harus ia bicarakan dengan Raka. Paham dengan maksud Papi mertuanya, kini Raka mengikuti langkah Papi Gruno yang berjalan menuju kolam renang. Mereka berdiri bersisian sambil menikmati pemandangan air kolam di hadapannya.
“Papi ikut bahagia Ko. Akhirnya kau bisa menaklukan singa betinaku.” Puji Papi Gruno dengan senyum hangat untuk menantunya.
“Terimakasih Pi sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suami singa betina milik Papi yang kini sudah menjadi milikku. Aku sangat beruntung menjadi suaminya.” Balas Raka tak kalah bahagianya.
“Apa kau sudah mencintai singaku?” Tanya papi Gruno kemudian.
__ADS_1
“Aku sudah mencintainya sejak lama tapi dia terus menolakku Pi.” Kenang Raka kembali saat mengingat lamarannya yang ditolak oleh Riri. “Tapi kini akhirnya aku berhasil menjadi pawang singa betina itu. Bahkan aku bisa membuatnya hamil, bukankah aku hebat Pi?” Canda Raka pada mertuanya. Papi Gruno pun terbahak mendengar ucapan sang menantu.
“Syukurlah, Papi senang mendengarnya. Itu berarti kau sudah tidak memiliki perasaan untuk Jessi bukan? Bagaimanapun kini dia menjadi adik iparmu dan Papi tidak ingin nantinya ada petaka yang terjadi. Mengingat dulu kau pernah menjadi kekasih Jessi.” Jujur Papi Gun mengungkapkan kekhawatiran yang ia pendam selama ini.