
“Seblak? Makanan jenis apa itu?” Gerry justru fokus dengan nama makanan yang baginya aneh.
“Kau ini kan punya ponsel canggih, carilah sendiri.” Ketus Riri saat pertanyaannya justru tidak dijawab dengan Gerry. Dan Pria itu lebih tertarik untuk mengetahui tentang seblak. Gerry menerima saran dari Riri, pria bule itu benar-benar mencari tahu tentang seblak.
“Belum tentu itu kesalahanmu seratus persen. Bisa saja ada hal lain yang sudah lebih dulu memicu kambuhnya penyakit suamimu itu dan seblak yang kau buat memperparah kondisinya hingga ia harus muntah dan pingsan.” Jelas Gerry saat ia sudah mengetahui apa itu seblak. Riri diam tidak menggubris ucapan Gerry karna ia sempat sebal saat diacuhkan tadi. “Hei nona Riri, aku ini dokter gigi spesialis bedah mulut, bukan dokter spesialis penyakit dalam. Tentu saja aku tidak terlalu tahu mengenai penyakit suamimu itu.” Gerry berusaha menjelaskan agar Riri tidak lagi sebal pada dirinya.
__ADS_1
“Namanya Raka, panggil saja dengan namanya. Jangan terus menyebut ‘suamimu’. Telingaku benar-benar geli saat kau menyebutnya begitu tapi aku malah pergi dengan pria lain. Rasanya aku ini seperti pengkhianat saja.” Protes Riri agar Gerry menyebut Raka dengan namanya saja jangan dengan sebutan ‘suamimu’ lagi.
“Kenapa kau harus merasa seperti itu? Dia juga sedang bersama wanita lain dan belum tentu merasakan seperti yang kau rasakan. Lagipula kau kan sudah membuat kesepakatan dengannya bukan? Jadi tidak perlu merasa seperti itu, lagipula tidak ada apa-apa diantara kita.”
“Iya, kau benar.” Riri menghembuskan nafasnya dengan keras lalu kembali memakan gelatonya yang sudah mulai mencair.
__ADS_1
“Sebenarnya aku khawatir padanya karna dokter mengatakan akan melakukan USG karna ditakutkan lambungnya mengalami kebocoran. Tapi aku juga tidak enak menganggu mereka. Pantas saja tadi pagi dia semangat sekali mengusirku agar pulang. Rupanya kekasihnya akan datang.” Pandangan Riri menerawang, mengingat tadi pagi ketika Raka begitu kekeh mengusirnya. Ternyata ini alasan dibalik pengusiran Raka. Kenapa tidak bilang saja jika dia ingin ditunggui oleh Shelo? Dengan begitu Riri tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Raka yang sendirian.
“Coba saja kau hubungi, tanyakan bagaimana kondisinya dan apakah dia sudah menjalani USG atau belum. Terlepas dia sudah memiliki kekasih atau belum tetap saja dia suamimu. Setelah ini temani dan tungguilah dia di rumah sakit.” Saran Gerry dengan bijak karna Riri memang masih menjadi istri Raka dan sudah kewajibannya untuk mengurusnya apalagi lelaki itu kini sedang sakit.
“Lalu bagaimana jika dirumah sakit ada Shelo, emm maksudku kekasih Raka. Rasanya tidak enak berada dalam situasi seperti tadi Ger. Aku saja sampai harus berbohong jika sedang ada urusan sehingga aku bisa lekas pergi dari sana.” Cerita Riri.
__ADS_1
“Anggap juga gadis itu seperti adikmu. Kau bilang jika kau menganggap Raka adalah adik lelakimu bukan? Maka bersikaplah seperti layaknya seorang kakak. Kau bisa melihat dan menilai bagaimana kepribadian gadis itu, apakah cocok dengan Raka atau tidak. Seorang kakak pasti menginginkan yang terbaik untuk adiknya bukan? Nah, jadilah seperti itu.” Saran Gerry yang terdengar sedikit geli ditelinga Riri tapi itu benar adanya. Bahkan dulu saja Riri sering menawarkan Raka untuk membantu suaminya itu mencari istri masa depannya.