
“Kau serius akan memberikan villa ini padaku dan Arlin? Apa kau dan Riri tidak sayang? Maskudku ini adalah tempat bersejarah bagi kalian tapi kalian justru memberikannya pada kami.” Tanya Eric ingin tahu.
“Tempat bersejarah bagi kau dan Arlin juga kak, ingat itu.” Riri mengingatkan. “Villa ini memang memiliki nilai historis bagiku, tapi Villa yang dibangun oleh suamiku jauh lebih berarti bagiku. Jadi kau tidak usah berpikiran yang aneh-aneh kak. Aku ikhlas memberikannya untukmu dan Arlin.” Lanjut Riri yang sudah mengurai pelukannya dengan Arlin.
“Thankyou Daddy to be dan Mommy to be. Aku bersyukur mengenal dan menjadi bagian dari kalian.” Ucap Eric tulus. Raka tersenyum sambil merangkul orang yang sudah seperti kakaknya sendiri itu.
“Sama-sama kak. Ingatlah kalian tidak boleh jauh-jauh dariku dan Raka. Bagaimanapun aku juga tidak bisa berpisah begitu saja dengan Arlin. Kau harus menjaga saudari tak seayah tak seibuku ini kak. Kalau kau sampai macam-macam padanya aku yang akan maju.” Ancam Riri kepada Eric.
“Aku berjanji akan menjaga Arlin dengan segenap jiwa ragaku Ri. Dan aku pastikan jika aku dan Arlin akan selalu berada didekatmu dan Raka.” Sahut Eric dengan serius.
__ADS_1
Dan akhirnya siang ini juga Eric memutuskan untuk kembali ke Solo bersama Arlin. Ia tidak mau menundanya lagi. Benar kata Raka jika banyak setan bersliweran. Kemarin mungkin dirinya dan Arlin hanya berciuman tapi bisa saja mereka melakukan hal yang lebih dari itu jika terus bersama. Maka lebih baik jika dirinya dan Arlin segera menikah.
*
*
*
“Jadi bagaimana Jes? Apa kau mau bekerjasama denganku?” tanya sang lelaki dengan tatapan penuh harap agar Jessi mau bekerja sama dengannya.
__ADS_1
“Kau mengajakku bekerja sama denganmu untuk memisahkan Raka dari Ceceku begitu? Apa untungnya bagiku?” tanya Jessi pada lelaki dihadapannya.
“Kau bisa kembali dengan Raka. Bukankah kau mencintainya? Apa kau rela jika kekasihmu justru menikah dengan kakakmu sendiri?” tanya lelaki itu mencoba memprovokasi Jessi.
“Aku tidak pernah mencintainya. Selama ini aku hanya memanfaatkannya saja, jadi maaf saja aku tidak berminat bekerja sama denganmu.” Tolak Jessi lalu berdiri dan hendak beranjak meninggalkan lelaki tersebut. Dengan cepat si lelaki itu langsung menarik tangan Jessi agar kembali duduk. Ia tidak akan menyerah begitu saja hanya karena Jessi menolaknya satu kali.
“Kalau begitu kau hancurkan Riri sekali lagi. Bukankah itu yang kau sukai? Kau bahagia jika melihat Riri terluka dan tersakiti bukan? Aku tahu kau tidak pernah menyukai kakak kandungmu itu.” Bujuk si lelaki dengan senyum smirknya.
“’Dengar Dewa ops mantan kakak ipar. Aku tidak pernah membenci Ceceku, aku hanya iri padanya yang selalu lebih unggul dariku. Dan aku tidak akan mungkin menghancurkan Ceceku untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah mendapatkan balasan dari semua perbuatanku, jadi aku tidak mau membuat Ceceku semakin tidak menyukaiku. Dia terlalu banyak mengalah dan berkorban untukku. Aku sudah sadar akan kesalahanku, seharusnya kau juga menyadari jika kak Arlin tidak mau denganmu itu karna kau sendiri bukan karna Ceceku. Jangan melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Mahadewa Yuwana cobalah berkaca !” ketus Jessi
__ADS_1