
“Tidak, aku bahkan tidak tahu seperti apa dan bagaimana alat penunda kehamilan itu.” Jawab Riri dengan polosnya yang membuat kedua orang tua Raka tersenyum. Mereka merasa lega jika Riri dan Raka tidak menundanya. Sehingga impiannya untuk segera memiliki cucu dari keduanya bisa segera terwujud.
“Lalu dulu kau menggunakan apa saat menikah dengan Dewa? Bukannya kudengar kalian menunda kehamilan?” Bela tidak sadar jika pertanyaannya menyinggung ranah pribadi Riri. Padahal dirinya dan Riri tidak begitu akrab. Wajah orang-orang yang ada disana seketika menegang. Mereka takut Riri tersinggung dan marah.
“Dia melakukan vasektomi, maka dari itu aku tidak pernah tahu seperti apa alat kontrasepsi kecuali ko*d0m karna banyak kulihat dijual di minimarketku.” Riri menjawab dengan santai seolah tanpa beban dan tanpa kemarahan. Lagi pula wajar jika keluarga suaminya saat ini menanyakan sedikit kehidupan masa lalunya. Riri tentu akan menjawabnya selagi itu masih wajar dan masih bisa ia jawab.
__ADS_1
“Jangan sekali-kali kau gunakan alat kontrasepsi, karna nanti saat kau melepasnya justru susah untuk mendapatkan momongan.” Tambah Bela memberi penjelasan. Riri hanya menganggukan kepalanya dan mengiyakan nasehat dari kakak ipar yang usianya sama dengan dirinya.
“Kau juga jangan bekerja terlalu keras Ka. Berolahragalah dengan teratur agar kualitas kecebongmu bagus.” Saran Bisma yang langsung mendapat lemparan bantal dari Raka. Omongan kakak iparnya itu sungguh vulgar.
Kebersamaan keluarga Janitra membuat hati kecil Riri tercubit. Ia sudah lama tidak pernah bercengkrama seperti ini dengan keluarganya secara lengkap. Riri masih sering bermanja-manja pada kedua orang tuanya setelah bercerai dari Dewa, tapi Jessi tidak pernah ikut bergabung bersama. Karena Riri dan Jessi, mereka berdua seperti air dan minyak yang susah menyatu. Tidak seperti Elang, Bela dan Raka yang dekat dan saling menyayangi satu sama lainnya.
__ADS_1
Riri terus saja melamun memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Ia tidak sadar jika kini Raka sudah menyenderkan kepalanya pada lengannya. Kebiasaan Raka yang sudah tidak membuatnya kaget adalah, laki-laki itu akan menyender jika tidak lebih dulu disenderi.
“Apa yang kau pikirkan? Jangan memikirkannya terlalu serius. Kita bukan menundanya tapi kita memang tidak pernah membuatnya.” Bisik Raka pada Riri yang justru membuat Riri meremang. Merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. Deru nafas Raka pada tengkuknya membuat tubuh Riri memanas.
Riri menggeser tubuhnya agar Raka tidak menyender kepadanya lagi. “Jangan bersikap seperti itu, tidak enak dilihat yang lainnya.” Riri mengingatkan Raka dengan suara selirih mungkin. Raka menuruti ucapan Riri karna ia juga merasa sungkan diperhatikan oleh kedua orang tuanya yang menatapnya dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
Riri memilih untuk bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Ia harus mempersiapkan masakan untuk makan malam karna saat ini ada banyak orang yang ada dirumahnya. Sehingga dia membutuhkan waktu lebih untuk menyiapkan makanan.
Mama Maira yang melihat kepergian menantunya pun mengikuti kemana Riri pergi. Wajahnya mengembangkan senyuman kala menyadari jika menantunya itu akan mempersiapkan makan malam untuk mereka semua. Dan akhirnya Mama Maira memilih untuk membantu menantu dan Mbok Ila untuk memasak. Dengan begitu makanan yang akan dimasak akan lebih cepat selesai.