
“Kaa, tidak ada guling. Bagaimana aku bisa tidur?” ucap Riri gusar. Wanita itu tidak bisa tidur tanpa guling dan dia lupa untuk membawa gulingnya. Selesai menikmati acara api unggun, Riri bergegas masuk kedalam tenda karna tidak tahan dengan udara dingin dan beberapa nyamuk yang menggigitnya.
“Kau bisa menjadikanku guling, aku tidak masalah. Sini kemarilah.” Raka menepuk ranjang disisinya. Menyuruh agar Riri mendekat.
“Kau saja yang dipojok, biar aku dipinggir. Cuaca dingin seperti ini pasti akan membuatku bolak-balik ke kamar mandi.” Riri menggeser tubuh suaminya yang semula dipinggir kasur agar berpindah ke pojokan.
__ADS_1
“Aah nyamannya…” Riri memeluk Raka dengan posesif. Menjadikan suaminya sebagai guling. Selama ini mereka memang sering tidur berpelukan namun itu terjadi saat mereka sudah terlelap dalam artian mereka tidak sadar. Baru kali ini Riri memeluk Raka secara sengaja dan dalam keadaan yang sadar. “Begini ternyata rasanya memiliki seorang adik laki-laki yang banyak mengalah pada kakaknya. Kalau tahu akan semenyenangkan ini memiliki adik laki-laki, lebih baik sudah dari dulu Jessi kutukar tambah dengan adik lelaki.” Oceh Riri yang membuat hati Raka sedikit terusik. Riri selalu saja menganggapnya sebagai seorang adik laki-laki.
“Aku ini suamimu.” Raka mengingatkan sambil menjitak kepala Riri.
“Ck, aku benar-benar memiliki istri seekor kucing besar.” Protes Raka yang membuat Riri mendongakkan wajahnya. Dan seketika kedua netra mereka saling mengunci, menatap satu sama lain yang saling membuat keduanya terhipnotis. Dan entah sejak kapan jantung keduanya berdetak lebih kencang. Raka lebih dulu memutus kontak mata itu lalu mengecup pucuk kepala Riri sekilas sebelum kembali membelai rambut milik istrinya. “Tidurlah, sudah malam.” Perintah Raka yang diangguki oleh Riri.
__ADS_1
Wanita itu masih berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdebar tidak menentu. Padahal dulu saat bersama Dewa dia tidak pernah merasakan jantungnya berdebar seperti ini. Riri yang tidur diatas dada milik Raka juga bisa mendengar jelas debaran jantung suaminya yang sama cepatnya seperti miliknya. Tidak ingin berfikiran yang aneh-aneh, Riri memilih untuk berusaha tidur dan melupakan kejadian barusan.
Raka yang melihat istrinya sudah tertidur, terdengar dari suara nafas Riri yang teratur memilih untuk berhenti membelai surai wanita itu karna sejujurnya tangannya pun sudah pegal. Laki-laki itu merapatkan tubuh istrinya agar semakin menempel padanya lalu membenarkan posisi selimut mereka. Bukan tanpa alasan kenapa Raka merapatkan tubuh istrinya padanya. Hal itu dikarenakan ukuran kasur yang tidak sebesar kasur di kamar mereka. Ia takut istrinya akan jatuh apalagi Riri saat tidur memang agak sedikit berantakan. Bahkan dirumah pun Riri sering tanpa sadar menggeser dan terus mendusel pada tubuh Raka hingga suaminya itu berada pada tepian ranjang.
“Terimakasih atas usahamu untuk menghiburku, aku tahu kau melakukan ini agar aku terhindar dari Jessi dan mulai menyembuhkan rasa sakitku. Aku tidak menyangka, kau yang dulu begitu tidak aku sukai dan aku hindari kini justru menjadi seseorang yang pertama aku lihat saat aku membuka mata dan yang terakhir aku lihat saat aku akan menutup mata. Dan entah kenapa, berdekatan denganmu akhir-akhir ini membuat jantungku berpacu lebih cepat. Apa aku sudah mulai jatuh cinta padamu? Pada seseorang yang melarangku untuk jatuh cinta dengannya?” Monolog Raka sambil mencium kening Riri penuh perasaan. Kali ketiga Raka mencium kening istrinya, dua kali saat acara pernikahan berlangsung, dan satu kali pada saat ini.
__ADS_1