Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Kau mencintainya


__ADS_3

Meskipun Arlin dan Eric sudah memberinya saran untuk memanggil tukang bersih-bersih namun Riri menolak karna tidak ingin villanya dimasuki sembarang orang. Hingga tengah hari Riri baru selesai membersihkan sebagian villanya, ia sudah tidak sanggup lagi sisanya. Wanita itu juga mengubah tempat janjian dengan Gerry, ia meminta pria asing itu untuk datang ke villanya guna membicarakan hal tempo lalu karna dirinya sudah tidak sanggup jika harus pergi ketempat lain lagi karna kelelahan mengurus villanya.


Pukul dua siang Gerry sudah duduk diruang tamu villanya. Raut wajahnya datar, tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh senyum. Riri menjadi salah tingkah dan bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Gerry setelah sekian lama diam. Riri mengerjapkan matanya, memberanikan diri menatap Gerry yang justru menanyakan keadaannya setelah lama terdiam.


“Iya aku baik-baik saja.”

__ADS_1


“Kenapa kemarin kau pergi meninggalkanku? Kau tahu betapa khawatirnya aku?" Gerry menatap Riri dengan wajah kecewanya yang membuat wanita itu merasa tidak enak.


“Aku—


Gerry memotong perkataan Riri sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. “Ya aku tahu kau pergi dengan Raka suamimu, kalian menghabiskan waktu dihotel untuk bercinta. Hingga aku bisa melihat bekasnya dengan jelas.” Gerry menatap tajam Riri membuat wanita itu tidak berkutik. Berusaha menyembunyikan bekas kissmark dilehernya yang sedang ditatap Gerry. “Kenapa kau bisa bercinta denganya? Bukannya kau hanya menganggapnya adik? Apa ada seorang kakak yang bercinta dengan adiknya sendiri?”


Pria dihapannya justru tertawa mendengar jawaban wanita dihadapannya. “Wajar jika kalian suami istri yang sesungguhnya, tapi bukankah kau bilang pernikahan itu hanya status dan kau hanya menganggapnya sebagai adik laki-laki?” Gerry memberi pukulan telak yang susah untuk Riri jawab. “Apa kalian melakukannya dengan menggunakan pengaman?” lanjutnya yang seketika itu membuat Riri berani menatapnya dengan mata yang membulat sempurna. Wanita itu bahkan tidak memikirkan hal sampai sana.

__ADS_1


“Aku tidak tahu Ger, karna aku tidak pernah tahu pengaman selain ko-n-do-m. Mantan suamiku dulu melakukan vasektomi jadi aku tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi. Dan sepertinya Raka tidak menggunakan pengaman saat kami melakukannya.” Riri mengigit bibir bawahnya lalu menunduk dalam. Kini pikirannya benar-benar berantakan. Bagaimana jika dia hamil? Padahal dirinya dan Raka akan segera bercerai.


“Apa Raka memaksamu untuk melakukannya?” selidik Gerry dan dijawab gelengan oleh Riri, dan lagi-lagi Gerry tertawa. “Kau mencintainya Ri, tidak mungkin kau melakukan dengan sukarela tanpa cinta yang mendasarinya.” Gerry menyimpulkan. Apalagi kini raut wajah Riri semakin gelisah dan bingung.


“Aku…” Riri bingung harus menjawab apa, karna dulu dia melakukan hal tersebut bersama Dewa hanya karna dia istrinya dan berkewajiban melakukannya. Tapi saat bersama Raka, justru Riri yang menyerahkan dirinya dengan sukarela meskipun dia berkelit dengan kedok ingin menjadi istri seutuhnya sebelum bercerai, padahal Raka tidak memintanya.


Apakah itu cinta? Atau hanya sekedar nafsu? Dia sadar betul jika saat melakukannya Riri menggunakan seluruh perasaannya. Dirinya ingin disentuh dan menyentuh Raka, ingin dipuaskan dan memuaskan Raka hingga mereka mengulanginya lagi dan lagi. Apalagi Raka selalu mengatakan cinta disepanjang percintaan mereka. Membuat Riri merasa begitu dipuja dan diinginkan.

__ADS_1


__ADS_2