
“Kau dengar baik-baik Raka. Impianku itu memiliki bayi lucu bermata abu-abu. Jika aku menikah denganmu lalu bagimana bisa aku memiliki bayi seperti itu? Lagipula kau itu begitu kekanakan dan tidak dewasa sama sekali. Bukannya menjadi istrimu tapi nanti aku bisa-bisa justru akan menjadi baby sittermu.” Ujar Riri sambil bergidik ngeri membayangkan jika ia harus banyak mengalah dan menjaga Raka yang memang kekanakan dan belum dewasa. Sebelas dua belas dengan sifat Jessi. Makanya mereka berdua benar-benar bisa cocok.
“Kita bisa mengadopsi bayi bule bermata abu-abu sesuai dengan kemuanmu. Lagipula kau menikah dengan Kak Dewa yang lebih dewasa dariku juga akhirnya bercerai. Cobalah dulu menikah denganku, mungkin pernikahan ini bisa bertahan lama. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu Ce.” Ucap Raka penuh percaya diri. Arlin mengangguk dengan penuh antusias, setuju dengan Raka.
Riri hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Berbicara dengan Raka baginya hanya buang-buang waktu. Dewa itu dewasa secara umurnya saja. Kelakuannya bahkan juga kekanakan mirip dengan Raka namun hanya Riri yang tahu. Makanya akhirnya mereka bercerai juga. Dan karena itu, Riri juga sangsi pernikahannya dengan Raka tidak akan berakhir sama seperti dia dan Dewa.
“Jadi kau serius dengan pernikahan ini?” tanya Riri dengan wajah seriusnya sambil menatap intens Raka.
“Tentu saja. Jika tidak serius untuk apa aku disini saat ini.” Sahut Raka dengan mantap.
__ADS_1
“Baiklah. Kau tahu aku sangat tidak menyukai sesuatu yang bersinggungan dengan milik Jessi?” tanya Riri kembali yang langsung dijawab anggukan oleh Raka. Arlin yang menyimak hanya mengerutkan dahinya, apa yang akan dilakukan Riri batin Arlin.
“Cincin yang kau berikan sebagai mahar untuk Jessi kemarin sudah aku berikan pada Mami.” Ujar Riri tiba-tiba. Raka justru mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Riri barusan. Ia memang sudah tau kalau tepat setelah cara resepsi selesai, cincin kawin yang dijadikan mahar oleh Raka untuk Jessi yang pada saat kejadian pernikahan kemarin justru dikenakan oleh Riri memang sudah dilepas oleh istrinya itu.
Raka mengeluarkan kotak bludru berwarna biru tosca. Sebuah kotak perhiasan dari brand ternama dunia. Ia membukanya dihadapan Riri dan menyodorkan cincin yang modelnya berbeda dengan kemarin.
“Ini bukan bekas Jessi. Aku sengaja menukarnya dengan yang ini. Tenang saja ini kadarnya sama seperti cincin yang kemarin.” Ucap Raka menjelaskan namun Riri justru melengos dan tidak tertarik sama sekali dengan benda berkilauan itu.
Raka terbengong untuk beberapa saat. Dia sungguh tidak mengira permintaan Riri jauh dari ekspektasinya. Harga mobil itu bukan lah hal yang murah. Pajaknya saja bisa untuk membeli satu unit motor matic berukuran 150cc. Istrinya ini benar-benar pandai membuatnya bangkrut. Namun tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Riri.
__ADS_1
“Baiklah akan kuusahakan, ada lagi?” jawab Raka frustasi. Mau bagaimanapun toh Riri istrinya. Nominal segitu tidak masalah karna orang tuanya pun pasti mau menggelontorkan dana yang tidak sedikit itu untuk membelikan sebuah mobil sebagai mahar untuk menantu pilihan mereka.
Riri tersenyum miring, “Belilah menggunakan uangmu sendiri, bukan dengan uang orang tuamu. Paham? Terserah mau kau cicil atau bagaimana. Yang jelas mobil itu harus kau beli dengan uang hasil kerja kerasmu sendiri.” Kata Riri sambil tersenyum meremehkan. Ia tahu, Raka pasti akan kesusahan dan itulah memang tujuannya. Ia ingin membuat Raka bekerja dengan sungguh-sungguh. Jika pemuda itu berniat, tidak butuh waktu tahunan pun pasti mobil itu akan terbeli dengan mudah.
Bola mata Raka dan Arlin sama-sama membulat sempurna. Mereka sama-sama tidak menyangka kalau Riri akan meminta persyaratan seperti itu. Hei, semua orang juga tahu Raka selama ini masih suka bermain-main dan bekerja seenaknya sendiri. Masalah penghasilan? Dia tidak pernah memikirkan itu, semuanya selalu dipenuhi orang tuanya. Kasarannya, dia mendapatkan gaji buta dari pekerjaan yang sebenarnya tidak ia kerjakan seratus persen.
Glek,
Raka menelan salivanya kasar. Ia membayangkan kalau mulai saat ini berarti ia harus fokus untuk bekerja demi bisa memenuhi permintaan Riri. Ini baru satu hal yang Riri minta tapi harganya sudah cukup fantastis. Bagaimana jika ia harus menyukupi kebutuhan istrinya itu? Sepertinya ia memang harus bekerja dengan serius. Gajinya sebagai seorang Arsitektur sebenarnya tidaklah sedikit. Apalagi Raka bekerja di perusahannya sendiri otomatis ia bisa mendapatkan gaji lebih banyak dibanding bekerja diperusahaan lain.
__ADS_1
Tapi selama ini ia masih suka bermain-main dan tidak serius dengan pekerjaannya. Ia bahkan tidak pernah memikirkan gaji yang ia terima sama sekali. Baginya jika ia membutuhkan sesuatu tinggal meminta kepada kedua orang tuanya. Sebagai anak bungsu tentu saja ia begitu dimanjakan. Apalagi hanya ia yang akan meneruskan usaha orang tuanya karna kakak sulungnya tidak tertarik terjun kedalam perusahaan tersebut.
“Baiklah tidak masalah. Tapi sebagai gantinya mulai saat ini aku tidak akan memanggilmu dengan embel-embel Cece lagi karna kau adalah istriku bukan kakak perempuanku.” Raka memberi penawaran dengan senyum tipis diwajahnya.