
Sekitar satu jam lamanya, pesawat yang Riri tumpangi sudah mendarat sempurna di Bandara Adi Sumarno Solo. Terlihat pak Tejo, supir pribadi keluarganya sudah datang menjemputnya. Riri tersenyum ramah dan menanyakan kabar supir yang sudah mengabdi pada keluarganya sedari ia kecil sambil menyerahkan barang bawaannya.
Mobil melaju dengan tenang, hingga empat puluh lima menit kemudian mereka sudah tiba di kediaman Huleeo. Rumah yang sudah lama Riri tinggalkan hampir satu tahun lamanya dan kini ia kembali lagi. Selain karna merindukan kedua orang tuanya, ia juga ingin menghindari Raka untuk sesaat. Entah menghindari orangnya atau menghindari perasaannya sendiri saat bertemu dengan Raka.
“Papi pikir kau sudah tidak ingat dimana kampung halamanmu.” Sindir Papi Gun sambil tersenyum saat melihat anak sulungnya turun dari mobil.
“Iya Papi betul, hampir saja aku tidak ingat,” jawab Riri sambil tertawa.
__ADS_1
“Kami merindukanmu Ce, sangat rindu.” Peluk Mami Vindi saat Riri sudah berdiri dihadapannya. Selama ini mereka memang sengaja tidak pernah menjenguk Riri karna ingin memberikan waktu dan privasi untuk anak sulungnya tersebut. Pasti berat menjalani rumah tangga dengan seseorang yang dulunya hendak menjadi calon adik iparnya.
Untungnya ada Mbok Ila yang memantau kehidupan mereka selama disana. Sehingga baik Papi Gun maupun Mami Vindi merasa tenang karna ternyata keduanya bisa hidup berdampingan dengan baik.
Mereka bertiga beriringan memasuki kediaman Huleeo. Tak henti hentinya Mami Vindi menggandeng anak perempuannya itu. Karna ia sangat merindukan Riri. Ketika mereka tiba diruang tengah keluarga yang cukup besar, Riri segera merebahkan dirinya di sofa mewah yang sangat nyaman. Ia tersadar akan sesuatu lalu duduk dan menatap kedua orang tuanya dengan serius.
“Dimana Jessi?” tanya Riri kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Darrel adalah adik kandung Papi Gun yang juga merupakan pebisnis sukses. Sektornya bergerak di export furniture dan makanan laut. Berbeda dengan Papi Gun yang cenderung lembut dan memanjakan anaknya, Om Darrel terkenal lebih tegas dan disiplin. Bahkan ketiga anaknya yang merupakan sepupu Riri dan Jessi juga bisa menjadi orang-orang sukses karna tangan dingin Om Darrel.
“Baguslah kalau begitu, sudah saatnya dia juga memikirkan bisnis keluarga kita. Tidak hanya berlenggak lenggok di catwalk.” Sahut Riri yang kembali merebahkan tubuhnya di sofa.
“Ayo kita makan dulu, setelah itu kau beristirahat. Nanti malam kami tinggal sebentar karna Mami dan Papi harus menghadiri acara syukuran salah satu Guru Besar yang juga merupakan kolega bisnis kita. Kau tidak apa-apa kan?” ajak Papi Gun sambil menarik anaknya yang masih bermalas-malasan itu.
“Aku sudah besar Pi.” Kini Riri bergelayut manja dilengan Papinya. “Tidak masalah jika kalian ingin pergi, masih banyak waktu untuk kita berkumpul.” Lanjutnya lagi sambil berjalan menuju meja makan. Disana sudah tersedia makanan kesukaan Riri yang memang sengaja disiapkan untuk menyambut kepulangannya.
__ADS_1
“Ya Papi tahu, mau kau dan Jessi sebesar apapun bagi kami kalian tetap anak kecil.” Ujar Papi Gun yang dibenarkan Mami Vindi.
Mami vindi mengambilkan aneka lauk yang justru membuat Riri menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar dilayani seperti seorang putri oleh Mami dan Papinya sendiri. Bahkan Riri sampai menegur keduanya agar tidak usah bersikap heboh. Ia bisa mengambil makanan yang ia inginkan sendiri.