
“Untuk apa terlalu memikirkan omongan orang lain. Aku yang tahu dan paham bagaimana kondisi suamiku yang sudah pasti bisa memberikanku kehidupan yang sangat amat layak. Simpan uangmu untuk investasi atau untuk masa depan dan anak-anak kita sayang. Ingat roda berputar dan kita harus bersiap untuk segala konsekuensinya. “
“Aku lebih suka jika kau gunakan uangmu untuk dikembangkan lagi. Kau seorang arsitektur Ka, orang juga tahu seberapa banyak gajimu. Jangan berkecil hati oke? Lagipula siapa yang tahu jika villa ini milikku? Tidak ada yang tahu kecuali Arlin dan orang terdekatku. Bahkan dari awal pernikahan aku selalu mengatakan bahwa Range Rover itu pemberian suamiku. Tidak perlu diragukan lagi orang-orang pun pasti beranggapan kau yang membelikanku villa ini karna kau saja sanggup membelikanku mobil semahal itu. Dan aku akan mengakuinya seperti itu jika ada yang bertanya.” Riri mencoba menghibur suaminya.
“Jangan, villa ini pemberian Papi Gun bukan pemberianku.” Lirih Raka masih belum hilang kesedihannya.
“Milikku adalah milikmu, sama saja. Sini kemarilah, aku tahu kau ingin dimanja-manja.” Riri merentangkan kedua tangannya, meminta Raka agar masuk kedalam pelukannya. Tentu saja Raka dengan senang hati menerimanya.
__ADS_1
“Terimakasih sayang, aku beruntung memilikimu. Pemikiranmu sungguh berbeda dari kebanyakan wanita lainnya. Aku janji akan menggunakan uang sebaik mungkin dan harus bisa kukembangkan agar bisa menjadi pebisnis sukses sepertimu. Demi kau dan anak-anak kita nantinya” Raka mengusap lembut perut sang istri. Ia berharap agar benih yang rajin ia tanam segera tumbuh disana.
“Sayang, aku harus segera ke Solo untuk menjemput Mbok Ila. Aku sudah janji padanya untuk menjemputnya.” Ucap Riri tiba-tiba karena dirinya baru teringat jika masa libur Mbok Ila sudah hampir habis.
“Tidak perlu, kau tidak boleh pergi jauh-jauh dariku sayang. Aku sudah menyuruh Shelo menjemput Mbok Ila karna kebetulan dia juga sedang pulang ke Jogja.” Jelas Raka yang memang sudah merencanakan hal itu tanpa sepengetahuan Riri.
“Iya, Shelo tinggal di Jogja karna ayahnya asli dari sana sementara ibunya asli Solo yang tidak lain adalah adik dari Mama Maira.”
__ADS_1
“Bby, aku tidak ingat jika Shelo datang ke acara pernikahan kita.” Ucap Riri sambil mengingat-ingat padahal dirinya saja tidak memperhatikan siapa saja tamu yang datang dan menyalaminya waktu acara pernikahan dadakan itu.
“Shelo memang tidak sempat datang ke acara pernikahan kita karna dia sedang melakukan study exchange ke Jepang sayang.” Sahut Raka santai namun tangannya sudah bergerilya kemana –mana yang membuat Riri mengeluarkan de-sa-han-nya begitu saja.
“Bby…..” Riri mencoba menahan tangan suaminya yang terus saja menekan dan membelai titik-titik sensitifnya. Bahkan kini piyama bagian atas yang ia kenakan seluruh kancingnya sudah terbuka dengan sempura dan sang suami tengah bermain-main di dua aset kembarnya.
“I want you baby, lets do it” bisik Raka sensual. Dengan segera ia melucuti pakaian miliknya dan pakaian milik Riri yang hanya tinggal bagian bawahnya saja hingga kini mereka berdua benar-benar polos tanpa sehelai benang.
__ADS_1
Raka memasuki Riri ketika istrinya itu telah benar-benar siap menerimanya. Dan dalam sekejap saja ruangan itu kini penuh dengan de-sa-han dan e-ra-ngan khas percintaan. Raka selalu mampu membuat Riri tidak berkutik, selalu merasa diinginkan dan dipuja olehnya. Membuat sang istri tak kuasa menolak untuk menikmati indahnya surga dunia bersama suami tercintanya.