
“Kau itu sedang curhat atau sedang bernyanyi?” tanya Arlin yang entah kenapa ia merasa lagu-lagu yang dinyanyikan Riri merupakan sebagian isi hatinya. Istilahnya curhat terselubung melalui karaoke. Bukankah banyak orang yang mengatakan jika karaoke itu sembilan puluh sembilan persen curhat dan satu persennya menyanyi?
“Aku sedang mencuci.” Jawab Riri acuh sambil memilih lagu lain yang ingin dia nyanyikan karna lagu jawa yang barusan ia nyanyikan cukup membuatnya kelelahan.
Kemudian Riri kembali menyanyikan lagu yang membuat Arlin terdiam dan ia yakin jika kini wanita yang hidup bersamanya sedari kecil ini sedang mencurahkan perasaan di hatinya. Riri bahkan menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan.
Ingin kusampaikan
Salam terakhir untukmu
Sebelum ku tutup cerita cinta ini
Bila ku hanya kata
Denganmu bisa jadi kalimat
Menyusun semua perjalanan cinta kita
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Kenanglah aku di hati
Kenanglah senyum dan tangisku
Baik dan marahku dan segalanya simpanlah saja dalam-dalam
Simpanlah selamanya dalam kenangan
Ingin kusampaikan
__ADS_1
Salam terakhir untukmu
Sebelum kututup cerita cinta ini
Bila ku hanya kata
Denganmu bisa jadi kalimat
Menyusun semua perjalanan cinta kita
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Kenanglah aku dihati
Kenanglah senyum dan tangisku
Baik dan marahku dan segalanya simpanlah saja dalam-dalam
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
__ADS_1
Kenanglah aku dihati
Kenanglah senyum dan tangisku
Baik dan marahku dan segalanya simpanlah saja dalam-dalam
Simpanlah selamanya
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi
Simpanlah saja dalam-dalam
Simpanlah selamanya dalam kenangan
“Untuk apa dikenang jika masih bisa dipertahankan? Makanya kalau cinta ya bilang cinta. Tidak usah menipu hati lalu mengambil keputusan yang sebenarnya merugikan diri sendiri.” Sindir Arlin yang kini ia yakin Riri benar-benar sedang mencurahkan perasaannya melalui lagu.
“Memangnya bilang cinta pada siapa, aku ini sedang bernyanyi bukan sedang mengikuti sesi konsultasi.” Elak Riri.
“Ya terserah kau saja, kau memang pandai mengelak. Sampai mengelak pada perasaanmu sendiri.” Sindir Arlin lagi namun hal itu tidak dibalas oleh Riri.
Wanita itu sampai tersedak air liurnya karna terkejut ada suara tepuk tangan yang begitu kencang saat dia baru akan membalas perkataan dari Arlin. Matanya membulat sempurna saat tahu siapa yang tengah bertepuk tangan.
Wanita itu tidak menyangka Eric dan Raka pulang lebih awal karna sebelumnya mereka berdua mengatakan akan pulang sehari lagi. Riri buru-buru duduk dan menutup pahanya dengan bantal sofa. Ia sudah paham arti tatapan Raka yang tidak menyukai jika dirinya menggunakan pakaian minim saat ada pria lain.
__ADS_1
“Boleh kami bergabung?” tanpa menunggu jawaban Eric langsung saja menarik Raka hingga kini mereka berempat sudah berada di ruang tengah yang sedang beralih fungsi menjadi ruang karaoke. Raka duduk disebelah Eric, sedangkan Eric duduk disebelah Arlin. Sementara Riri duduk sendiri di sofa yang cukup besar sambil menyelonjorkan kakinya.