Cinta Raka Buat Riri

Cinta Raka Buat Riri
Kesepakatan


__ADS_3

“Iya kesepakatan. Jadi begini, kau boleh kembali pada Jessi atau mencari wanita lain yang kau inginkan untuk kau jadikan istri nantinya. Begitupun denganku, aku ingin meraih impianku Raka. Memiliki suami dan bayi bule bermata abu-abu. Jika saatnya tiba, aku akan melepas semuanya termasuk status sebagai ahli waris Huleeo grup. Kau bisa menyalahkan ku atas perceraian kita nantinya, tidak masalah. Tapi setidaknya untuk saat ini, bantulah aku mengumpulkan tabungan untuk bekal hidup bersama calon suami dan calon anak buleku kelak. Aku tidak akan menganggumu dan tidak akan merecokimu. Aku akan selalu mendukungmu, bagimana? Dengan begitu kau tidak akan kehilangan status sebagai ahli waris Janitra Grup.” Riri menawari seolah idenya itu sangat bagus dan merupakan win win solution.


Arlin memijat pelipisnya, kepalanya terasa berdenyut. Sepertinya keinginan Riri yang satu ini tidak main-main. Arlin melirik Raka dan Eric sekilas, wajah mereka benar-benar terlihat sedang menahan kekesalannya.


“Ri, tidakkah kau mencoba untuk menjalani pernikahan ini? Kenapa harus ada kesepakatan seperti itu? Cobalah untuk menjalani pernikahan ini bersama Raka.” Eric memberi Saran sementara Raka hanya terdiam. Pandangannya kosong, menatap mangkuk laksa yang masih sisa setengahnya namun Raka sudah kehilangan na-f-su makannya.


“Kak, bukannya aku tidak mau menjalani pernikahan ini dengan Raka. Dengarkan aku, bukan waktu yang sebentar Raka menjalani hubungannya bersama Jessi. Tidak semudah itu merubah perasaannya untukku dan aku tidak mau dibayang-bayangi oleh Jessi. Aku tahu tujuan Papa Rendra menyuruh Raka dan juga kau menghandle proyek yang disini.”


“Sebenarnya beliau ingin agar Raka belajar untuk serius bekerja karna kini Raka sudah memiliki tanggung jawab pada istrinya, yaitu aku. Selain itu kedua orang kami pasti ingin membuat hubungan kami membaik. Aku disini akan membantu Raka dengan segenap kemampuanku agar ia bisa menjadi laki-laki yang bisa menjadi kebanggaan keluarganya. Dan kalau boleh kusarankan, carilah gadis yang lebih baik dari Jessi. Jangan mau kembali bersamanya. Ingat kau sudah ditinggalkan.”


“Akan kubantu kau mencari gadis yang sepadan denganmu Raka. Disini anggaplah aku sebagai Kakak perempuanmu, sama seperti Bela. Aku pasti akan memberikan dan mengusahakan yang terbaik untukmu tapi tidak dengan pernikahan kita.”

__ADS_1


“Aku tidak berani berspekulasi dan aku tidak mau tersakiti nantinya jika mencoba menjalani pernikahan ini. Aku tidak mau ada salah satu diantara kita yang bermain dengan hatinya, lalu justru menyakiti yang lainnya. Jadi lebih baik kita membuat batasan agar tidak saling menyakiti nantinya dan bahagia dengan pilihannya masing-masing.”


“Mungkin kita tidak bisa menjadi suami istri yang ideal Ka. Tapi kita bisa menjadi bro and sist yang solid. Bagaimana? Bukannya aku tidak mau belajar mencintaimu Ka, aku hanya takut sakit dan takut kau hanya menggapku sebagai pengganti Jessi. Jadi lebih baik kita saling menjaga diri agar tidak saling menyakiti.”


“Dengan begitu ketika pernikahan ini berakhir, ketika saatnya berpisah kita berdua masih bisa saling berpegangan tangan, saling tersenyum dan mengucapkan terimakasih karna sudah saling mendukung dan tidak melukai satu sama lain.” Jelas Riri sambil tersenyum dengan tulus.


Tidak ada emosi ataupun nada tinggi dari semua kata-kata yang Riri ucapkan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa Riri takut mencoba menjalani pernikahan dengan Raka karna ia takut hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan ia tidak mau hubungannya dengan Raka dibayang-bayangi Jessi yang merupakan adiknya sendiri.


Eric dan Arlin menatap Raka dengan intens. Mereka berdua dan juga Riri sama-sama menunggu jawaban dari Raka. Pemuda itu tampaknya masih mencerna ucapan Riri.


“Baiklah, terserah kau saja. Lakukan yang menurutmu baik, tapi aku tidak ingin membuat orang tuaku kecewa dan mengira aku yang tidak mau menjalankan pernikahan ini.” Jawab Raka pada akhirnya sambil menatap Riri dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


“Iya Ka, aku tahu. Saat kita berpisah nanti, aku yang akan bertanggung jawab dan menanggung semua kesalahan karna dari awal akulah yang memintanya. Cukup kita berempat yang tahu kesepakatan ini, oke?” Riri menatap Arlin, Raka dan Eric secara bergantian untuk meminta persetujuan.


“Baiklah.” Jawab ketiganya bersamaan.


“Lalu bagaimana kita harus bersikap jika ada orang tua atau ada keluarga kita? Haruskah kita berpura-pura mesra? bersandiwara menjadi pasangan suami istri yang ideal?” tanya Raka penasaran dengan bagaimana kehidupan rumah tangga yang akan dijalaninya dengan Riri.


“Untuk apa kita berpura-pura. Jadilah diri kita sendiri Raka. Kau ini kebanyakan membaca novel atau menonton drama? Kita akan menjadi bro and sis yang solid. Rumah tangga kan tidak harus bermesra-mesraan. Cukup kita akur dan tidak pernah bertengkar seperti saat ini. Aku rasa mereka pasti akan mengira kehidupan rumah tangga kita baik-baik saja. Kita juga masih harus banyak beradaptasi Ka, tidak secepat itu. Mereka pasti akan mengerti.” Riri menjelaskan.


“Lalu kalian akan tidur terpisah? Lebih baik kalian tidur dalam satu kamar yang sama supaya Mbok Ila tidak curiga. Bagaimanapun Mbok Ila sudah mengabdi pada keluargamu cukup lama Ri. Pasti dia akan mengadukan tindak tanduk kalian pada orang tuamu.” Usul Eric sambil celingukan mencari sosok Mbok Ila.


“Mbok Ila jam segini biasanya sedang mandi kak.” Ucap Arlin yang memahami jika Eric sedang mencari sosok itu agar pembicaraan yang sedang mereka lakukan tidak didengar oleh asisten rumah tangga Riri.

__ADS_1


“Aku tidak masalah jika kita tidur bersama. Tapi untuk hal yang satu itu aku tidak bisa memberikannya, kau tahu kan? Anggap saja kita ini Kakak Adik yang sedang berbagi kamar. Bagimana menurutmu Ka?” Riri menatap lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya, ia menunggu respon dari Raka.


__ADS_2