
Dia tidak tahu jika Eric sudah kembali dan membawakan handuk untuknya serta menyiapkan air hangat di bathroom kamarnya. “Ini” Eric menyodorkan handuk untuk Arlin dan hal itu membuat Arlin membulatkan matanya lebar-lebar.
“Tutup matamu kak!” Arlin buru-buru membalikkan badan saat mendapati Eric berdiri dihadapannya sambil menyodorkan handuk untuknya.
“Tidak ada yang bisa dilihat dari tubuhmu Lin, lagipula aku tidak berminat.” Seloroh Eric lalu tertawa dengan kerasnya. Pemuda itu menyampirkan handuk yang ia bawa di bahu Arlin lalu meninggalkan gadis itu sendirian.
Mulutnya saja yang berkata jika dia tidak berminat, tapi bagian miliknya menunjukkan reaksi yang berbeda. Oleh karena itu dia sengaja berkata demikian untuk menutupinya dan segera berlalu dari hadapan Arlin agar gadis itu tidak menyadari ketegangan yang sedang melandanya.
“Dasar sialan.” Umpat Arlin lirih sambil menutupi tubuhnya dengan handuk yang diberikan oleh Eric. Gadis itupun segera berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Dia masih belum menyadari jika Eric sudah menyiapkan air hangat untuknya didalam bathroom miliknya.
__ADS_1
Arlin terkejut saat dirinya memasuki bathroom miliknya sudah ada air hangat yang siap digunakan. Siapakah gerangan yang sudah menyiapkan air untuknya? Sedangkan Mbok Ila juga masih belum kembali.
Malas berpikiran terlalu lama, Arlin memilih untuk berendam dan membersihkan dirinya. Perihal siapa yang menyiapkan air untuknya lebih baik ia tanyakan saat seluruh penghuni Villa tengah berkumpul.
*
*
*
__ADS_1
Mereka takut jika Gerry menunggu terlalu lama lalu meninggalkannya begitu saja. Sedangkan semenjak kejadian kemarin lusa, dirinya sama sekali belum mengucapkan apapun pada Gerry. Dan ini adalah satu-satunya kesempatan terakhir bagi Riri untuk mengucapkan banyak terimakasih pada pria bule yang netranya selalu berhasil membiusnya. Karna setelah ini mereka semua tidak tahu lagi kapan bisa bertemu dengan Gerry.
Raka buru-buru memakai bajunya dengan asal, bahkan ia hanya menyugar rambutnya tanpa menyisirnya karna takut sang istri akan semakin mengomelinya. “Ayo sayang, kita berangkat.” Ajak Raka sambil merangkul bahu Riri dengan mesra.
“Kau itu lama sekali, ingat kita ini diburu waktu.” Tegur Eric saat melihat kedatangan Raka dan Riri. Tanpa menunda lagi kini mereka berempat langsung menuju kediaman Gerry untuk menjemput pria tampan tersebut dan mengantarkannya ke bandara. Riri dan Arlin bahkan berulang kali menyuruh Eric untuk menambah kecepatannya. Karna rupanya Gerry sudah menuju Bandara karna menunggu mereka berempat yang terlalu lama.
Begitu mereka sampai di bandara baik Riri maupun Arlin langsung saja berhamburan keluar dari mobil dan berlarian menyusul Gerry. Mereka benar-benar diburu waktu, takut jika tidak sempat lagi bertemu dengan Gerry.
“Jangan cemberut begitu Ka. Hati dan jiwa raga Riri sudah menjadi milikmu. Aku rasa wajar jika Riri buru-buru menemui Gerry karna kita tidak tahu lagi kapan akan bertemu dokter tampan itu. Kau juga harus banyak mengucapkan terimakasih padanya. Gerry menjaga Riri selama ini dan tidak pernah menyentuh wanitamu.” Ujar Eric saat melihat wajah Raka yang cemberut karna istrinya pergi berlari meninggalkannya begitu saja hanya untuk menemui Gerry.
__ADS_1