
“Apa kau sudah tahu dimana keberadaan si pembuat onar saat ini?” tanya Riri saat Raka ikut duduk disampingnya. Mereka berdua menatap hamparan lautan dan ombak yang saling berkejaran.
“Belum, aku sudah berusaha mencarinya tapi belum ada hasil. Kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah menghubungi Jessi?”
“Untuk apa aku menghubunginya, dia sudah besar. Nanti juga dia akan pulang dengan sendirinya jika sudah waktunya.” Sahut Riri datar sambil menyesap es kelapa muda yang sudah dipesannya tadi.
“Setidaknya kau bisa sedikit peduli dengannya. Apa kau tidak mengkhawatirkannya sama sekali?” saran Raka yang sedari dulu heran melihat sikap Riri pada Jessi. Istrinya itu sangat cuek dan tidak terlalu peduli dengan Jessi. Bahkan dulu Jessi sering mengadu padanya jika ia merasa tidak memiliki kakak atau saudari karna Riri tidak pernah menganggapnya.
“Dia sudah besar, tidak perlu aku khawatirkan. Lagipula itu keputusannya sendiri untuk pergi meninggalkanmu dan semuanya, berarti dia sudah memikirkannya dengan baik. Jika kau sudah berhasil menemukan Jessi, kau tidak perlu memberi tahukan padaku cukup beritahu pada Papi dan Mami saja.”
__ADS_1
Jawaban Riri sedikit membuat Raka emosi. Bagaimana bisa seorang kakak bersikap seperti itu saat adiknya sudah pergi hampir tiga bulan lamanya dan tidak ada kabar sama sekali. Setidaknya Riri bisa bersikap peduli sebagai sesama manusia. Bukan karna Raka masih mencintai Jessi, tapi kebersaamaan mereka yang tidak sebentar membuat Raka juga khawatir karna Jessi sudah pergi cukup lama.
“Ri, kau sungguh-sungguh wanita ter-egois dan tidak memiliki perasaan yang pernah aku temui. Bagaimanapun Jessi adalah adikmu. Kenapa kau bisa bersikap seperti ini disaat adikmu pergi sudah cukup lama?” Raka memandang kesal kearah Riri, sementara Riri yang dipandang dengan tatapan nyalang oleh suaminya hanya menurunkan kacamatanya. Menghalau agar sinar matahari tidak menyilaukan matanya.
“Apalagi yang dia katakan kepadamu selain aku ini wanita egois dan tidak memiliki perasaan? Pasti dia mengatakan aku ini orang yang mau menang sendiri dan pengidap syndrom Tuan putri? Iya begitu?” tebak Riri sambil terkekeh, ia tahu pasti Jessi akan mengadu dan membuat-buat keburukannya kepada orang lain untuk menarik simpati. Apalagi terhadap Raka yang notabene adalah kekasihnya.
“Ri–“ pekik Raka yang langsung di potong oleh perkataan Riri.
Ia malas berdebat dengan Raka. Baginya tidak ada gunanya, mau Raka menilainya seperti apapun toh tidak akan mempengaruhi kehidupannya.
__ADS_1
Melihat istrinya pergi meninggalkannya, Raka langsung mengejar Riri yang belum terlalu jauh. Ia menarik tangan Riri hingga wanita itu sedikit tertarik dan jatuh menabrak tubuh Raka.
“Lepaskan aku!” sentak Riri
“Berhentilah jadi wanita egois Ri!” ucap Raka dengan ketus yang langsung membuat Riri tertawa terbahak-bahak.
“Aku egois? Hahahaha! Ya aku egois, tidak seperti Jessi! Aku egois, aku harus belajar bisnis disaat aku ingin belajar ilmu medis. Ku korbankan cita-citaku menjadi dokter demi meneruskan bisnis keluarga karna seorang Darissa Jesselyn Huleeo tidak mau menanggung kewajibannya sebagai salah satu pewaris dan justru semakin terjun ke dalam dunia modellingnya agar menjadi seorang top model dan artis terkenal !”
“Gadismu itu tidak mau memikirkan bisnis keluarga Huleeo! Aku diburu-buru untuk menikah dengan Dewa padahal aku baru mengenal Dewa dalam hitungan bulan karna Jessi ingin menikah muda denganmu, sedangkan dikeluargaku pantang seoarang kakak perempuan untuk dilangkahi adiknya.”
__ADS_1
“Dan saat aku sudah menikah lagi-lagi ia merubah keputusan seenaknya sendiri dan mengatakan tidak jadi menikah karena masih ingin berkarir. Kau fikir mudah menjalani pernikahan dengan orang yang baru kau kenal dan kau belum tahu bagaimana dirinya luar dalam? Apa kau tahu, Jessi terus mendesakku dan mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku tidak segera menikah. Dia berfikir aku adalah penghalang kisah asmara kalian.”
“Semua beban terus saja diberikan kepadaku tapi dia bisa bebas berlenggak lenggok dan berbuat sesukanya. Termasuk meninggalkanmu dihari pernikahannya dan dengan begitu menjadikan aku sebagai pengantin penggantinya! Dua kali aku menikah dan dua kali aku selalu menikah tanpa keinginan dari dalam hatiku sendiri! Aku wanita paling egois dan tidak memiliki perasaan kau tahu itu!” semprot Riri dengan nafas terengah-engah karna ia meluapkan emosinya. Wanita itu menarik tangannnya dari genggaman Raka dengan kasar lalu pergi meninggalkan suaminya yang diam saja.