
Dibawah meja diam-diam Arlin dan Eric melakukan tos. Mereka sangat gembira melihat sikap Riri membalas perbuatan Jessi. Wanita itu terlihat tidak rela ketika suaminya di ejek oleh adiknya yang sangat tidak sopan dan tidak tahu diri itu.
Raka mengikuti langkah istrinya saat Riri sudah berjalan mendahuluinya. Mereka memasuki kamar hampir bersamaan. Riri langsung merebahkan tubuhnya disofa sambil memijat pelipisnya. Kini dirinya harus menghadapi Jessi yang sewaktu-waktu mengajaknya perang. Adiknya itu tengah kembai dan perseteruan tidak mungkin dapat dielakkan apalagi mantan kekasihnya kini menjadi suami kakaknya.
“Eh apa yang kau lakukan?” tanya Riri saat melihat Raka berjongkok dan mulai memijat kakinya.
“Memijatimu lah, apalagi? Katamu mau meneruskan yang tadi?” Raka mendongakkan wajahnya yang mana hal itu justru membuat wajah Riri berada tepat didepan wajahnya. Hanya berjarak beberapa centi saja. Bahkan Raka bisa meraskan hembusan nafas Riri.
Raka buru-buru menundukkan kepalanya tidak berani menatap Riri. Tawa istrinya itu malah pecah yang membuatnya kembali mendongakkan wajahnya untuk melihat Riri. Entah sebenarnya apa yang sedang wanita itu tertawakan.
“Kau tidak usah canggung begitu Ka, seperti anak perawan saja ops kau memang masih perjaka ya?” Riri semakin terbahak mendengar ucapannya sendiri. Raka hanya membiarkan istrinya untuk terus tertawa tanpa berniat menjawab ucapan Riri.
__ADS_1
“Tidak usah canggung Ka, aku kan sudah berulang kali berkata padamu anggaplah aku ini kakak perempuanmu. Sama seperti kau menganggap Bela. Sudah hentikan, lebih baik kita beristirahat sebentar sebelum tidur.” Riri menarik lengan Raka agar menghentikan kegiatannya memijat kaki Riri. Pemuda itupun duduk disamping Riri.
“Tadi kau bilang ingin meneruskan yang tadi, kenapa malah menyuruhku berhenti? Apa pijatanku tidak enak?”
“Aku sengaja menggoda Jessi, pijatanmu sungguh enak. Lain kali aku mau kau pijat lagi, tapi lebih baik kita istirahat. Aku tahu hari ini kau lelah apalagi setelah bertemu Jessi. Apa tadi kalian sudah berbicara?” Riri menyandarkan kepalanya pada Lengan Raka, matanya sibuk mengganti chanel televisi sedangkan Raka lagi-lagi terkejut mendapat sentuhan fisik dari Riri tanpa ia duga sebelumnya. Meskipun istrinya itu hanya menyandarkan kepalanya pada lengan Raka.
“Sudah, dia bahkan tidak meminta maaf padaku. Aku sudah menyuruhnya untuk meminta maaf padamu tapi dia menolaknya.” Kata Raka sambil memainkan rambut Riri yang begitu menggoda untuk ia mainkan.
“Entah, rasanya malas jika harus bertemu Jessi lagi. bukan karena aku masih mencintainya, justru perasaanku untuknya sudah hilang tepat saat dia meninggalkaku di acara pernikahan waktu itu. Tapi susah berdamai dengan masa lalu. Aku masih saja marah dan kecewa dengannya sehingga aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.”
“Bagimana kalau besok kita kedaerah Bangli, kau mau? Kita camping disana, ada salah satu tempat camping yang sedang viral. Namanya Sunrise Hill, ini coba kau cari instagramnya. Jika kau tertarik bagaimana kalau kita kesana?” ajak Riri sambil menyerahkan ponselnya pada Raka untuk membrowsing tempat yang baru saja ia sebutkan.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan ia mengajak Raka untuk liburan. Ia tahu bagaimana perasaan Raka saat ini dan ia ingin menghiburnya selain itu ia sendiri juga ingin liburan. Tidak ada salahnya mereka berlibur berdua bukan? Apalagi mereka adalah sepasang suami istri.
Raka menerima ponsel Riri yang baru pertama kali disentuhnya lalu membrowsing nama tempat yang Riri sebutkan. Dan untuk pertama kalinya ia melihat instagram Riri secara langsung meskipun sebenarnya ia sudah lama mengikutinya. Social media istrinya itu hanya menampilkan foto-foto rambut Riri dari belakang dengan berbagai warna. Dengan kata lain, Riri mengupload foto rambutnya tepat setelah diwarnai dengan warna yang baru.
Raka tahu sejak lama jika Riri memang kerap mewarnai rambutnya, namun unggahan itu berhenti tepat sekitar dua bulan yang lalu. dan warna rambut Riri terakhir kali saat Raka lihat pada saat pernikahan mereka sama dengan warna rambut istrinya saat ini. Berarti istrinya itu tidak mewarnai rambutnya lagi.
“Kau tidak mengganti warna rambutmu lagi?” tanya Raka saat menscroll laman instagram Riri.
“Kau pasti sedang memeriksa akunku? Aku belum kepikiran ingin ganti warna apalagi. Kau keberatan dengan warna rambutku saat ini?” tanya Riri sambil menatap Raka. Tangan kanan suaminya memang masih bermain dengan rambutnya, sementara tangan yang satunya digunakan untuk mengakses ponsel Riri.
“Tidak, warna ini juga bagus. lebih baik daripada kau cat rambutmu dengan warna- warna terang seperti gulali.” Cemooh Raka mengingat Riri memang pernah beberapa kali mengecat rambutnya dengan warna terang.
__ADS_1
“Ck, kau ini. Sudah jangan kau scroll terus laman instagramku nanti kau bisa jatuh cinta pada rambutku. Lebih baik cepat kau buka akun milik Sunrise Hill jika kau tertarik kita akan kesana.” Ejek Riri yang semakin merebahkan tubuhnya pada Raka, suaminya pun membentangkan lengannya sehingga Riri bisa menyandar pada dada bidangnya.