
"Dokter kau tidak usah perdulikan dia, lanjutkan saja pekerjaan dokter"
"Baik nyonya, permisi"
"Yaa silahkan dok"
"Saya buka sedikit yaa nyonya"
"Eemm"
Satu orang perawat membantu mengoleskan gel pada bagian perut Laila lalu setelah itu dokter Meisya menempelkan satu buah benda yang mana benda itu dapat melihat kedalam rahim dan di tampilkan pada layar monitor di ruangan itu
"Wah benar... Selamat nyonya Anda memang sedang hamil" ucap dokter Meisya ikut berbahagia
"Sayaaangg...." Axel langsung memeluk Laila dengan posesif
"Astagaa... Manis sekali pemandangan ini" batin dokter Meisya
"Berapa usia nya dok ?"
"Sekarang usianya baru sekitar 32 hari atau masih 4 minggu yaa nyonya"
"Apa si kecil itu dia ?"
"Benar nyonya, ini adalah janin Anda"
"Mana ?" Axel mengamati dengan seksama namun dia sama sekali tidak melihat dimana keberadaan calon adik Cella ini
"Yang ini Tuan" ucap dokter Meisya menunjuk satu titik berukuran seperti kacang hijau
"Astagaa... Kecil sekali... Apa benar itu anak ku"
Buuukkk
Laila memukul lengan Axel
"Axell"
"Sayang, kenapa kau marah aku kan cuma bertanya"
"Eeemm Tuan, saat ini memang ukurannya baru sebesar biji kecambah tapi nanti dia akan bertumbuh semakin besar"
"Benarkah... Apa kau tidak bohong"
"Saya tidak berani berbohong Tuan"
"Apa dia laki-laki ?"
"Kalau itu Saya tidak tau Tuan"
Taaaakkk
Axel langsung berdiri dan menghentak ganggang pegangan tempat Laila berbaring sampai Laila pun kaget
"Kau ini dokter apa... Apa kualitas dokter disini kualitas kain serbet masa begitu saja tidak tau"
"Astagaa... Axel duduk lah... Kau membuat ku dan anak ku kaget"
"Astagaa... Maaf sayang papa tidak sengaja" ucap Axel sambil mengelus perut Laila
"Cepat cari tau jenis kelamin anak ku atau kau akan kehilangan lisensi dokter mu"
"Tuan, bukan aku tidak ingin mencari tau apa jenis kelamin anak Tuan, tapi memang jenis kelaminnya belum terlihat"
Axel bersiap membuka mulut namun Laila dengan cepat mencubit lengan Axel agar dia berhenti membentak dokter Meisya
"Aaau auua auuu sakit sayang, kenapa kau mencubit ku"
__ADS_1
"Kalau kau tidak bisa diam aku akan pulang"
"Hei kenapa kau marah sayang, ini kan salah dokter itu"
"Axel yang dibilang dokter Meisya itu benar, jenis kelamin anak kita itu memang belum terlihat... Kau lihat lah besarnya saja bahkan seperti biji kecambah, mana ada jenis kelaminnya"
"Jadi dia tidak punya jenis kelamin ?" Ucap Axel dengan muka panik dan polos
Astaga bahkan dokter Meisya ingin tertawa melihat ekspresi itu
"Bukan tidak punya Axel hanya saja belum terbentuk... Nanti setelah usia kehamilan 4 bulan lebih kau akan tau apa jenis kelaminnya"
"Hey kenapa kau tau sekali sayang"
"Tentu saja aku tau, kau pikir Cella itu lahir dari mana ?"
"Ahh iyaa hehehe, aku lupa kalau Cella juga lahir dari sini" Axel menunjuk perut Laila
"Maaf nyonya ini kehamilan yang keberapa ?"
"Ini kehamilan ku yang ke dua dok"
"Apa ada masalah sebelumnya saat kehamilan pertama"
"Dulu saat aku melahirkan anak ku yang pertama, aku mengalami pendarahan dan anak ku terpaksa harus lahir secara prematur"
"Apa dengan persalinan normal ?"
"Iyaa, saat itu ketuban ku juga pecah jadi aku bisa melahirkan secara normal"
"Apa keluhan Anda saat ini nyonya ?"
"Aku hanya merasa kalau tubuh ku sangat sakit dan aku merasa tidak punya kuasa untuk menggerakkan tubuh ku"
"Apa Anda mengalami morning sicknes ?"
"Apa Anda makan dengan teratur"
Laila menggeleng
"Aku tidak punya selera makan"
"Maaf sekali lagi nyonya, apa daerah kewanitaan Anda mengeluarkan bercak ?"
"Aku tidak memperhatikan"
"Boleh Saya periksa ?"
"Silahkan dok"
Dokter Meisya lalu memeriksa ce××lana ××dalam Laila, setelah itu duduk kembali di kursinya
"Seperti dugaan Saya, kandungan nyonya sangat lemah saat ini... Kalau tidak ditangani mungkin saja hal buruk akan terjadi"
"Hei kau jangan menakuti" ucap Axel dengan nada tinggi
"Axel... Bisa tidak jangan teriak-teriak"
"Bukan begitu sayang, tapi dokter ini bilang akan terjadi hal buruk... Ayo kita pergi saja dan cari dokter lain..."
"Axel kau duduk lah yang tenang dan dengarkan penjelasan dokter Meisya"
"Eemm begini Tuan, saat kehamilan yang pertama ada masalah. Nyonya mengalami pendarahan pada rahim, jadi itu juga berdampak pada kehamilannya yang sekarang"
"Jadi apa yang harus Saya lakukan dok ?"
"Nyonya jangan khawatir, asal nyonya banyak istirahat, makan makanan yang bergizi serta konsumsi vitamin insyaallah semuanya akan baik-baik saja... Tapi untuk satu minggu ke depan nyonya terpaksa harus bed rest dulu, nyonya dilarang melakukan kegiatan yang membuat lelah meski hanya sekedar melakukan pekerjaan ringan, nyonya juga dilarang berjalan kaki dengan jarak 1 meter, kalau berjalan pun harus pelan dan juga anda tidak boleh naik turun tangga, sementara semua aktifitas Anda semua dilakukan di tempat tidur"
__ADS_1
"Baik dok aku mengerti"
"Saya akan memberikan vitaman dan obat penguat kandungan buat nyonya, namun ingat nyonya juga harus makan buah-buahan dan juga sayur karena buah dan sayur sangat bagus untuk menunjuang daya tahan tubuh juga kesehatan janin dalam kandungan"
"Baik dok"
"Dan juga untuk Tuan, sementara Anda dilarang melakukan H×B"
"H×B apa itu ?"
"Maksudnya hubungan suami istri Tuan"
"Maksud mu aku harus puasa"
"Yaa kurang lebih begitu Tuan, karena kondisi nyonya masih sangat lemah. Jika Anda memaksakan diri untuk melakukan H×B Saya takut hal buruk mungkin akan terjadi"
Axel mulai memahami penjelasan dokter Meisya dan mendengar itu hati kecil Axel seolah tersentil karena dia sama sekali tidak tau tentang kehamilan... Pasti sangat berat bagi Laila saat dulu dia hanya sendiri mengandung Cella, Axel kembali menyalahkan dirinya mengapa saat itu tidak bisa menemukan Laila
Setelah selesai berkonsultasi, Axel kembali menggendong Laila menuju mobil. Awalnya Laila menolak dan meminta Axel untuk mengambil kursi roda. Namun saat ini sepertinya mood Axel berubah menjadi buruk, wajah tagasnya kembali on dan muka datarnya kembali diaktifkan termasuk pada Laila... Akhirnya Laila hanya bisa pasrah masuk lagi ke dalam gendongan Axel
Di dalam mobil Axel kembali diam, dia sama sekali tidak mengucapkan satu patah kata pun
"Axel" Laila memanggil dengan nada lembut
"Mas.... Koq aku dicuekin, kamu marah sama aku ?"
Awalnya Axel tidak berniat untuk menjawab tapi setelah melihat mata Laila yang mulai menggenang Axel akhirnya membawa kembali Laila masuk ke dalam pelukannya
"Aku tidak marah pada mu sayang... Aku marah pada diri ku sendiri"
Cup
Axel mengecup puncak kepala Laila
"Kenapa ?"
"Aku marah karena dulu aku tidak ada bersama mu, pasti sangat sulit bagi mu mengandung, melahirkan dan membesarkan Cella sendirian"
"Tidak... Aku tidak sendirian... Aku bersama Ratu" ucap Laila sambil tersenyum
Axel mebalas senyuman Laila yang sangat manis dan mampu meluluh lantahkan pertahanan Axel
"Tetap saja sayang, harusnya waktu itu aku ada bersama mu sehingga kau dan Cella tidak perlu mengalami hal buruk"
"Sudahlah Axel, semuanya sudah berlalu yang penting sekarang aku da Cella ada bersama mu kan"
"Yaa... Dan aku berjanji akan melindungi kalian berdua walau nyawa ku taruhannya"
Cup cup cup
Axel kembali menghujani puncak kepala Laila
"Sayang... Sampai kapan aku puasa"
"Kenapa memang"
"Ini.. Apa kau tidak merasakannya... Dia selalu saja berdenyut jika dekat dengan mu" ucap Axel sambil menunjuk adik kecilnya yang bersembunyi di dalam boxer
"Astaagaaa.... Otak musem mu ini sepertinya memang harus dicuci"
"Hehehe"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hay Readers terkasih 😘 jangan lupa masukan ini ke daftar favorit kalian yaa...
Trus tinggalkan jejak kalian, like, koment dan vote yaa supaya Author tambah semangat 😻😻😻
__ADS_1