CINTA SI YATIM

CINTA SI YATIM
RASA BERSALAH


__ADS_3

"Saidah aku merasa sangat bahagia sekarang"


"Yaa nyonya, Saya juga senang melihat Anda bahagia"


"Bolehkah aku egois Saidah... Aku ingin Tuhan tetap membuat aku bahagia, aku ingin bahagia dan tidak ingin lagi menderita"


"Allah pasti menjawab doa Anda nyonya karena Anda adalah orang baik"


Hening... Laila diam sesaat dia kembali termenung menatap rintikan hujan yang turun membasahi bumi. Entah mengapa kali ini Laila merasa akan ada hal buruk lagi terjadi, firasat ini sama seperti saat dia dan Axel terpisah.


Tapi apa yang bisa memisahkan mereka, sampai sejauh ini semua nya terlihat baik, bahkan terlalu baik-baik saja, keluarga yang telah bersatu serta restu dari mertua pun telah Laila dapatkan. Entah apa yang akan terjadi Laila tidak tau semoga ini hanyalah sebuah firasat yang tidak akan pernah terjadi. Apakah mungkin kematian yang akan memisahkan Laila dan keluarga nya? rasa khawatir itu belakangan selalu menghantui Laila terlebih lagi belakangan ini Laila sangat sering bermimpi tentang ibu nya yang telah tiada


Orang bilang jika bermimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal kemungkinan orang itu adalah sebuah pertanda bahwa malaikat maut sedang mendekat. Wallahualam Laila tidak mau percaya itu, kali ini dia ingin egois lagi dan lagi Laila berdoa agar dia bisa selalu bersama dengan keluarganya, membesarkan anak-anaknya dan hidup bahagia selamanya


"Nyonya sepertinya hujan semakin lebat, ayo kita masuk nanti nyonya bisa masuk angin jika terus berada diluar"


Laila pun menatap Saidah dan tersenyum lalu Laila patuh dan melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam mobil


Tidak lama mobil yang Laila tumpangi pun sudah sampai disebuah mini market. Saidah pun turun terlebih dahulu kemudian Saidah membukakan pintu untuk Laila dan satu tangan nya yang lain memegang payung


"Huh kebetulan sekali"


Itu adalah Lula, dengan sangat kebetulan Lula juga berada disekitar sana karena sedang berteduh di depan mini market yang disinggahi oleh Laila


"Lula"


"Wah kau masih ingat rupa nya dengan aku?"


"Huuhhff" Laila menarik nafas panjang


Entah kesalahan apa yang sudah Laila lakukan, Laila tidak pernah mengerti sampai sekarang mengapa adik nya begitu sangat membenci diri nya


Laila mencoba untuk acuh dan kembali melangkahkan kaki nya untuk masuk ke mini market


"Wah tidak ku sangka harta membuat mu menjadi sangat sombong"


Laila menghentikan langkahnya lagi namun masih tetap diam


"Ciihh jangan mentang-mentang kau punya segalanya kau bisa hidup dengan tenang"


"Apa maksud ucapan mu?"


"Hahahaha kita lihat saja nanti"


"Lula ayo kita bicara"


Laila tidak jadi pergi ke mini market, dia membawa Lula untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Pak kita ke cafe Z"


"Baik nyonya"


Laila dan Lula duduk di kursi penumpang tanpa saling bicara dan menatap karena mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing


Sedangkan Saidah kini duduk di sebelah supir dan mengamati sang nyonya melalui kaca spion. Saidah pun berusaha memberi tahukan ini pada Axel namun ponsel Axel tidak aktif. Tapi meskipun demikian Saidah tetap mengirimkan pesan pada Axel dan berharap agar Axel segera membaca itu

__ADS_1


Kini disinilah Laila dan Lula berada, duduk berhadapan di sebuah sudut di meja cafe. Sedangkan Saidah menunggu di dalam mobil bersama supir sesuai dengan perintah Laila. Kini Saidah dilanda kegundahan karena khawatir dengan kondisi sang nyonya


Sedikit banyak tentu saja Saidah pernah mendengar tentang cerita adik durhaka dari sang nyonya. Saidah takut kalau Lula akan menyakiti sang nyonya tapi Saidah juga tidak berani melanggar perintah sang nyonya untuk tidak keluar dari dalam mobil karena menghormati privasi sang nyonya


"Dimana kau tinggal sekarang Lula, bagaimana dengan kuliah mu dulu?"


"Cih bukan kah sudah terlambat pertanyaan mu itu?"


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu, kenapa kau begitu membenci ku?"


"Kau tidak salah apa-apa, aku hanya tidak suka melihat kau bahagia"


"Jika kau ingin bahagia maka jadilah orang baik"


"Whahhaha lucu sekali, ucapan mu sangat lucu whahahha aduh kau membuat perut ku sakit"


"Berubah lah Lula, ibu akan sedih melihat mu seperti ini"


"Ciihh justru karena rahim wanita sialan itu aku hidup menderita, seandainya aku tidak terlahir dari rahim nya mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini"


"Jaga ucapan mu Lula, dia itu ibu mu"


"Yaa, ibu yang sangat tidak berguna"


Plaaakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lula. Laila bisa menerima jika diri nya yang dihina tapi tidak untuk ibu nya. Ini adalah pertama kalinya Laila berbuat kasar pada Lula, Lula yang sedari kecil selalu Laila manja kini dengan tangan nya juga Laila memberikan sebuh cap lima jari di wajah Lula


"Ciihh kau pikir aku akan kalah jika kau tampar aku begini... Lihat saja pembalasan ku akan jauh lebih pedih"


"Apa yang baru saja aku lakukan hiks hiks hiks.... Lula pasti sangat menderita hiks hiks hiks"


Saidah yang melihat Lula meninggalkan cafe pun lalu segera bergegas menghampiri sang nyonya. Sungguh hati Saidah kini sangat khawatir takut kalau Lula menyakiti nyonya kesayangan nya


"Nyonya, apa yang terjadi?... Apa Anda baik-baik saja?"


"Hiikks hiikkss hiikks"


Laila tidak menghiraukan Saidah, dia masih menutup wajah nya dan menangis terisak


"Nyonyaaa" panggil Saidah sekali lagi


Laila pun mengangkat wajahnya lalu menghapus air mata yang tadi sempat mewarnai wajah cantik nya


"Kita pulang sekarang Saidah"


"Baik nyonya" Saidah patuh


Sepanjang perjalanan pulang tidak lagi ada wajah ceria dari Laila. Dia hanya diam membisu dan mematung, entah apa yang Laila pikirkan saat ini dia hanya merasa tidak ingin diganggu sekarang


"Saidah kau buatkan aku salad buah dan antarkan itu ke kamar"


"Baik nyonya"


Setelah sampai di Manshion, Laila langsung masuk ke kamar utama dan membersihkan diri. Tidak lama setelah itu Saidah pun datang dengan membawa mangkuk yang berisi salad buah, susu, vitamin dan air putih

__ADS_1


"Letakan saja itu diatas meja Saidah"


"Baik nyonya"


"Ada apa Saidah?" ucap Laila karen melihat Saidah belum beranjak dari tempatnya


"Anu nyonya"


"Katakan saja"


"Nyonya, maaf jika Saya lancang. Tapi menurut Saya Anda tidak perlu bersedih karena adik Anda yang tidak tau terimakasih itu, bukan salahkan diri Anda nyonya. Apa yang terjadi pada hidup nya adalah pilihan nya sendiri dan itu tidak ada hubungan nya dengan Anda. Jadi berhenti lah menyalahkan diri Anda sendiri nyonya"


Laila tidak menjawab dan hanya memberikan sebuah senyuman untuk Saidah, Laila pun tau kalau Saidah adalah orang yang tulus dan bagi Laila Saidah sudah dia anggap sebagai sosok kaka untuk nya


"Maaf sekali lagi nyonya jika Saya lancang, Saya permisi"


Saidah pun keluar dari kamar Laila meninggalkan Laila sendiri dengan segala kegundahan hatinya. Sebenarnya Laila pun juga berpikir demikian bahwa benar apa yang terjadi pada Lula itu adalah pilihan hidup yang dia ambil sendiri tapi kenapa Laila terus merasa bersalah


Laila pun mengabiskan makanan yang tadi dibawa Saidah, dia pun lalu merebahkan diri. Perlahan Laila mencoba untuk memejamkan mata dan perlahan lahan Laila pun mulai larut ke alam mimpi


"Saidah dimana istri ku?"


Axel baru saja tiba di Manshion, foto cantik Laila di bawah hujan yang gerimis mampu menjadi magnet untuk Axel agar dia kembali ke pelukan Laila


"Nyonya ada di dalam kamar Tuan"


Axel pun bergegas melangkahkan kaki nya ke kamar utama, entah kenapa dia sangat merindukan Laila dan rasa nya tidak ingin jauh dari Laila


"Tuan" panggilan Saidah seketika menghentikan langkah Axel


"Ada apa?"


"Maaf Tuan, tadi nyonya bertemu dengan adik nya"


"Adik nya ?? Maksud mu Lula?"


"Benar Tuan"


"Apa istri ku terluka?"


"Tidak Tuan, nyonya tidak terluka, sebenarnya Saya juga tidak tau apa yang nyonya bicarakan karena nyonya melarang Saya untuk ikut bersamanya"


Axel pun langsung melebarkan langkah nya menuju kamar utama, dalam pikirannya kini Laila sedang menangis dan bersedih. Tapi saat Axel membuka pintu kamar utama terlihat disana Laila tengah tertidur dengan pulas


Axel pun mulai memelankan langkah nya untuk mendekati Laila. Perlahan Axel mulai duduk disamping Laila kemudian membelai wajahnya pelan dan sedikit memberikan kecupan di kening


Samar-samar Axel melihat Laila tersenyum dalam tidur nya lalu setelah itu ada gerakan dari dalam perut Laila


"Hey boy, kau merindukan papa?"


Axel membelai perut Laila dan tak lupa beberapa kecupan juga mendarat di perut itu


"Kau, jika sudah besar nanti jagalah mama... Papa sangat sayang pada mama, kakak Cella pun juga, jadi kau juga harus sayang pada mama, dan kita harus membuat mama bahagia, apa kau mengerti?" ucap Axel pelan di perut Laila


Duk duk duk

__ADS_1


Axel dapat merasakan tendangan kuat dari dalam sana membuat senyum Axel pun terbit


__ADS_2