CINTA SI YATIM

CINTA SI YATIM
POLUSI SUARA


__ADS_3

"Mas, besok jadwal ku kontrol dengan dokter Meisya... Aku pergi sendiri atau mas yang anter ?"


"Nanti mas yang anter sayang"


"Apa mas tidak sibuk, bukan kah Lucas masih liburan ?"


"Yaa Lucas memang saat ini masih ada di Hawai dengan gadis-gadisnya"


Ckkk Axel mengingat lagi kejadian dimana dia meninggalkan Lucas dengan setumpuk pekerjaan dan membiarkan Lucas menyelesaikannya sendiri hingga Lucas berakhir menjadi zombi. Kerena kesalahannya ini lah Axel memberikan cuti selama 2 minggu untuk Lucas lengkap dengan paket liburan dan semua fasilitasnya di Hawai


"Isshh kau ini kejam sekali, bagaimana bisa kau melupakan Lucas yang selalu ada disamping mu ?"


"Hehehe itu karena aku ingin selalu menjaga mu sayang. Karena itulah aku bahkan bisa melupakan dan meninggalkan apa pun untuk selalu ada bersama mu"


"Astaaaggaa kau gombal sekali"


Cup


Axel mengecup puncak kepala Laila, sudah menjadi kebiasaan Axel semenjak istrinya kembali. Setiap malam dia akan mencium puncak kepala Laila dan memeluk Laila sampai mereka sama-sama larut ke alam mimpi


"Tapi apa besok kau tidak sibuk ?"


"Sesibuk apa pun aku, itu bisa aku tinggalkan"


"Kau yakin ?"


"Kau meragukan aku sayang ?"


"Tidak... Hanya saja apa iya seorang CEO yang gila kerja seperti mu bisa meluangkan waktu untuk keluarga"


"Harta yang aku dapatkan ini tidak akan sebanding dengan kebahagian yang kau dan Cella berikan, uang yang ku hasilkan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehadiran mu dan Cella"


"Axel... Kau sungguh bermulut manis"


"Hehehe tidur lah sayang"


Keesokan paginya saat Laila bangun dia sudah tidak melihat keberadaan Axel. Laila pikir Axel pergi untuk bekerja dan melupakan janjinya tadi malam.


Karena Laila merasa kalau dirinya sudah tidak apa-apa dan Laila merasa cukup sehat sekarang, Laila memutuskan untuk pergi sendiri ke kamar mandi tanpa meminta bantuan pada Saidah


Saat Laila menurunkan kakinya ke lantai dan baru saja ujung kaki Laila ingin bersentuhan dengan ubin marmer itu, tiba-tiba suara bariton datang dan memekikan telinga membuat aliran darah ke jantung menjadi lebih cepat

__ADS_1


"Beraninya kau turun dari tempat itu" ucap Axel menggelegar dari arah pintu


"Astgaa mas kau membuat ku kaget"


"Sayang aku kan sudah bilang kau jangan pernah turun dari tempat ini, kemana Saidah apa dia tidak membantu mu... Lihat saja aku akan menghukumnya"


"Mas... Ini bukan salah Saidah, memang aku yang tidak memanggilnya kesini"


"Walau pun begitu harusnya Saidah itu tetap ada disini untuk membantu mu, apa mereka semua hanya makan gajih buta heh"


Setelah marah dengan Laila Axel keluar lagi dari kamar dan berteriak memanggil nama Saidah


"Saidahhhh.... Saiiiidaaaahhhh"


Mendengar namanya dipanggil, Saidah bergegas untuk mendatangi asal suara itu


"Saya Tuan"


"Apa saja kerja mu heh... Apa kata-kata ku kemaren tidak jelas... Bukan kah aku sudah meminta mu untuk menjaga, merawat dan membantu istri ku... Tapi apa sekarang kau biarkan istri turun dari tempat tidurnya"


Axel memarahi Saidah dengan suaranya yang sangat vokal sampai Laila pun bisa mendengar itu dari lantai 2


"Astaga Axel... Pagi-pagi kau sudah menciptakan polusi suara, membuat kepala ku berdenyut"


"Ahh sudah lah biarkan saja dulu Axel marah-marah tidak jelas... Mungkin hobby Axel memang kang cari keributan dan mungkin dia bisa mati jika sehari saja tidak mengganggu hidup seorang manusia"


Laila masuk ke kamar mandi, mengunci pintu dan mandi dengan tenang


"Ahhh nyaman sekali rasanya..."


Setelah selesai mandi, Laila pun berpakaian lalu turun ke lantai bawah menggunakan lift. Axel tidak menyadari kalau saat ini Laila sudah ada dibawah karena dia masih sibuk mengoceh dan menyidak para pelayan secara dadakan. Tidak di kantor tidak dirumah jiwa kepemimpinan Axel meronta ronta ingin selalu ada yang dia atur setiap harinya


Saat ini Laila sudah duduk manis di kursi pemumpang mobil mewah yang sudah dipersiapkan Axel untuk mengantar dia dan Laila ke rumah sakit


"Pak... Kau panggilkan Suami ku cepat, bilang kalau aku sudah menunggu di mobil"


"Baik nyonya"


Pak supir patuh, dia masuk ke dalam Manshion untuk mencari keberadaan Tuan Axel. Beberapa detik supir itu takut mengahadap Axel yang kini tengah marah, supir itu takut jika dia mendekat dia juga akan ikut menjadi bahan amukan sang Tuan. Tapi karena nyonya Laila sudah menunggu di mobil akhirnya mau tidak mau sang supir memberanikan diri untuk mendekat


"Maaf Tuan, nyonya Laila sudah menunggu di dalam mobil"

__ADS_1


"Apaaa"


Mendengar laporang sang supir Axel kaget dan langsung berlari menuju mobil yang masih terpakir di depan pintu utama Manshion


"Sayang kenapa kau sudah ada disini ? Siapa yang membantu mu turun ?"


"Aku turun sendiri"


"Apaaa"


"Axel jika kau ingin marah lagi sebaiknya kau turun tidak usah ikut ke rumah sakit, kau tau kalau suara mu itu menjadi polusi buat ku dan anak ku" ucap Laila tegas sambil mengusap perutnya


Hampir saja Axel ingin protes lagi tapi dia sudah mendapat tatapan mata elang dari Laila. Akhirnya Axel mengalah dia memilih diam dari pada harus ribut dengan Laila


Diperjalanan Axel memilih untuk menyibukan diri dengan Tab miliknya sembari menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia tinggalkan di kantor. Axel hari ini memang tidak berpakaian formal, dia hanya menggunakan kaos biasa dengan celana jeans model slim fit sehingga penampilan Axel ini malah membuatnya terlihat lebih muda, lebih macho dan lebih tampan pari purna.


Laila pun memperhatikan Axel yang hanya diam tanpa berbicara dengan dirinya. Sekilas Laila melihat kalau Axel seperti kecewa padanya. Tapi yaa sudahlah Laila memilih untuk tidak perduli karena menurut Laila sikap Axel ini terlalu sangat sangat sangat dan sangat berlebihan


Tanpa terasa mobil yang di tumpangi oleh Axel dan Laila telah sampai di depan rumah sakit. Laila membuka pintu mobil dan bermaksud untuk turun tapi lagi-lagi sebuah suara mengagetkannya


"Jika kau berani turun dari mobil ini maka aku akan benar-benar menghukum mu"


Gleeekkk


Laila menjadi takut mendengar kalimat Axel kali ini. Bukan tanpa alasan, kali ini Axel bicara tegas dengan nada yang sangat dingin membuat suasana di tempat itu bahkan lebih angker dari pada malam jum'at di kuburan.


Kini Laila tidak berani melawan Axel, dia patuh dan membiarkan Axel melakukan apa yang ingin dia lakukan


Sama seperti kunjungan Laila satu minggu yang lalu. Axel tidak membiarkan Laila berjalan atau pun duduk di kursi roda, Axel sendiri yang menggendong Laila dengan kedua tangannya menuju ke tempat praktek dokter Meisya


"Selamat pagi Tuan dan nyonya"


Axel tidak menjawab membuat dokter Meisya sedikit merasa takut karena kali ini aura yang dikeluarkan oleh Axel seperti aura seorang pembunuh berdarah dingin


Beda dengan Laila yang tersenyum manis, melihat senyum dari sang nyonya membuat rasa gugup dokter Meisya sedikit berkurang


"Astagaa aku harus lebih berhati-hati... Jangan sampai aku salah berkata atau Tuan Axel akan benar-benar mengirim ku ke sungai Amazon dan menjadikan tubuh ku sebagai makanan piranha" batin Meisya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hay Readers terkasih 😘 jangan lupa masukan ini ke daftar favorit kalian yaa...

__ADS_1


Trus tinggalkan jejak kalian, like, koment dan vote yaa supaya Author tambah semangat 😻😻😻


__ADS_2