
Diluar saat ini hujan turun dengan sangat deras. Austin menghentikan mobilnya tepat didepan Ratu, lalu membuka kaca mobil dengan perlahan
"Hey nona Artawijaya, apa kau butuh tumpangan ?"
Ratu tidak menjawab, dia mengabaikan Austin seolah Austin tidak pernah ada
"Baiklah jika kau tidak butuh tumpangan, mungkin sebentar lagi kau akan dihampiri oleh penghuni lain di rumah sakit ini"
Dug
Jantung Ratu berdetak dengan cepat, apa maksudnya dengan penghuni lain, apa itu seperti hantu atau makhluk astral pikir Ratu
Austin melajukan kembali mobilnya namun tanpa diduga oleh Austin Ratu ternyata berlari mengejarnya dan menerobos hujan
"Hei apa wanita itu sudah gila, untuk apa dia mengejar ku ?"
Austin menghentikan kembali mobilnya dan tepat saat itu Ratu masuk dan duduk di samping Austin dengan kondisi tubuh yang basah kuyup
"Hei kau ini gila kah ?"
"Sudah lah jangan banyak tanya, kau jalan kan saja mobilnya"
"Dasar tidak sopan, sudah numpang merintah seenaknya lagi"
Austin menggerutu namun tetap menjalankan mobilnya menjauh dari rumah sakit
Sudah setengah perjalanan Ratu dan Austin sama sekali tidak terlibat dalam obrolan apa pun. Austin menengok ke arah Ratu dan melihat wajahnya sedikit memucat
Austin menghentikan mobilnya sebentar lalu meraih jaket yang ada di kursi belakang
"Ini pakai lah, sepertinya kau kedinginan"
Ratu melirik sekilas dan tanpa perlawanan Ratu meraih jaket itu, karena jujur Ratu memang sangat kedinginan saat ini
"Terimakasih Austin"
Austin pun tersenyum mendengar kata terimakasih dari Ratu
"Ehh kenapa di depan jalannya macet"
"Yaa... Seperti terjadi kecelakaan"
"Huuuhhhff (Ratu menarik nafas kasar) sepertinya ini akan lama"
"Iyaa... Sepertinya begitu, apa kau sangat kedinginan...?"
"Tidak, aku tidak apa"
"Kalau begitu kau beristirahat lah dulu, tapi kemana aku akan mengantar mu ?"
"Apa kau keberatan mengantarkan aku ke rumah ku ?"
"Tentu saja tidak nona Artawijaya"
Mereka pun saling melempar senyum, entah kenapa perasaan Ratu menjadi menghangat dengan perlakuan manis dari Austin. Sayang Austin sudah punya istri, jika saja belum Ratu pasti akan meleleh dengan perlakuan lembut dari Austin
Sudah 30 menit mobil Austin terjebak di dalam kemacetan. Austin menengok ke arah Ratu, ternyata Ratu telah tertidur
"Cih dasar, mudah sekali dia tertidur, tapi kenapa wajahnya sangat pucat ?"
Austin menyentuh dahi Ratu dengan punggung tangannya
"Astagaa... Dia demam, astaga bagaimana ini... Mobil ku bahkan berjalan lebih lambat dari keong, kasihan juga kalau Ratu tetap disini dia akan kedinginan"
Tiba-tiba Austin melihat kalau di depan ada sebuah hotel, Austin memutuskan untuk menginap di hotel itu karena tidak mungkin pulang dengan jalanan yang macet sementara Ratu juga sedang sakit dan butuh tempat yang nyaman untuk istirahat
__ADS_1
Setelah memesan sebuah kamar, Austin menggendong Ratu ke kamar dan merebahkannya di tempat tidur. Ratu sama sekali tidak terusik selama Austin mengangkat tubuhnya, Ratu masih tertidur pulas dengan suhu tubuh yang sudah sangat panas.
Austin memerintahkan beberapa pegawai hotel untuk membersihkan Ratu dan menggantikan bajunya. Austin juga meminta peralatan agar dia bisa menggompres dahi Ratu agar Ratu tidak bertambah demam
Para pegawai itu berbisik dan mengatakan kalau Austin adalah suami yang sangat perhatian dan penyayang. Tentu saja mereka salah sangka dan berpikir Ratu adalah istri dari Austin karena Austin menggendong Ratu dari parkiran menuju kamar di lantai 27, bagaikan seorang suami yang siaga terhadap istrinya.
Austin pun sama sekali tidak terganggu dengan bisik-bisik itu dan hanya melengkungkan sebuah senyum
Austin dengan telaten mengompres dahi Ratu dangan handuk yang telah dilecupkan dengan air hangat. Sampai tidak terasa waktu sudah menujukan pukul 3 pagi Austin masih berada di sisi Ratu untuk mengantikan kompres di dahi Ratu
"Ahhh syukurlah kalau demamnya sudah turun"
Setelah memastikan kalau Ratu sudah tidak demam, Austin pun berjalan ke arah sofa dan berbaring disana.
Austin mengeliatkan tubunya ke kanan dan ke kiri karena merasa sangat lelah.
"Aahh lelah sekali" gumam Austin
Setelah itu Austin pun larut ke dalam mimpi dan tetidur tepat pukul 3:40 pagi
Toel toel toel
Axel menoel pipi sang istri yang masih setia berada di alam mimpi.
"Axel, aku masih ngantuk jam berapa ini ?"
"Ini sudah jam 6 sayang"
"Aku ingin tidur sebentar lagi"
"Kau boleh tidur selama yang kau mau sayang, aku hanya ingin mendengar suara mu karena aku akan berangkat bekerja"
"Yaa... Kalau begitu hati-hati"
"Kau tidak ingin memberikan aku kecupan semangat pagi sayang"
Cup
Laila mengecup pipi Axel
"Lagi sayang sebelah sini" ucap Axel sambil menunjuk pipi yang satunya
Cup
"Disini lagi" Axel menunjuk dahi
Cup
"Disini lagi" Axel menunjuk bibir
Cup
Tapi tidak kali ini, Axel tidak membiarkan kecupan itu menjadi singkat. Axel meraih tengkuk Laila dan membuat kecupan itu menjadi lebih dalam dan semakin dalam
"Sayaang, sebaik nya kau harus segera mandi jika tidak adik kecil mu bisa mengamuk karena ingin di bebaskan"
"Huh kau benar sayang, adik kecil ku ini menyusahkan sekali"
Hahahaha Laila tertawa kepas melihat ekpresi tidak berdaya dari Axel. Axel sama sekali tidak marah dia hanya sedikit salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Aku mandi dulu yaa sayang"
"Mandilah" ucap Laila sambil tersenyum
Hanya butuh waktu 15 menit untuk Axel berurusan dengan kamar mandi, kini Axel telah rapi dengan stelan jas juga dandanan yang sangat tampan pari purna
__ADS_1
"Iishh suami ku ini tampan sekali"
"Tentu saja, kau sangat beruntung mendapatkan aku sayang"
"Aduuhh dasar lele"
"Hehehe"
Cup
Axel mengecup sekali lagi kening Laila
"Sayang, Cella nanti pulang sekolah akan menemani mu disini"
"Kau sudah memberi taunya Axel"
"Tentu saja, dan Cella sangat senang karena dia akan punya adik, aku berangkat dulu sayang, ingat kalau kau perlu apa-apa panggil Saidah. Jangan pernah sekali pun berani menginjakan kaki mu turun dari tempat tidur ini atau aku akan menghukum mu nanti"
"Iyaa... Aku paham"
Cup.... Sekali lagi Axel mengecup bibir Laila sebelum dia benar benar pergi
Sejak kemaren Axel merasa ada yang aneh, seperti ada yang hilang dari dirinya tapi apa... Axel sama sekali tidak mengingat itu
"Selamat pagi Tuan" ucap Saidah saat Axel duduk di meja makan untuk sarapan
"Yaa pagi"
"Anda mau sarapan dengan apa Tuan ?"
"Kau buatkan aku roti saja"
"Baik Tuan"
Setelah menyiapkan sarapan untuk Tuan Axel, Saidah pun membawa sebuah nampan berisi kopi dan selembar roti
"Hey mau kau bawa kemana nampan itu ?"
Axel pikir itu adalah sarapan untuk Laila, ahh yang benar saja masa ibu hamil di kasih kopi pikir Axel
"Ini untuk den Lucas Tuan"
"Whaattt Lucas... Shiitt kenapa aku bisa melupakan Lucas, pantas saja dari kemaren seperti ada yang kurang"
Axel bergegas menuju ruang kerjanya, dimana 1 hari yang lalu Axel meninggalkan Lucas dengan beberapa tumpukan gunung pekerjaan
Saat Axel membuka pintu ruang kerjanya, Axel melihat Lucas masih mengenakan kemaja yang kemaren dia pakai dan kepalanya yang dia rebahkan di meja dengan posisi tubuh yang masih duduk
"Lucas..." Axel memanggil Lucas pelan namun tidak ada sahutan
Axel menusuk nusuk tubuh Lucas mencoba untuk membangunkan nya
"Lucas... Hey... Apa kau tidur"
Lucas yang mendengar suara Axel memanggil perlahan lahan mengangkat kepalanya dari meja
"Astaaagfirullahalajim"
Axel kaget melihat penampakan Lucas, mata Lucas menghitam secara sempurna mukanya memutih karena tidak tidur dan rambutnya yang biasa stylis kini berubah bak sapu ijuk... Ini sangat mengerikan penampilan Lucas saat ini persis seperti zombi yang haus darah
"Tuuuaaannn" ucap Lucas lemah dengan wajah yang memelas
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hay Readers terkasih 😘 jangan lupa masukan ini ke daftar favorit kalian yaa...
__ADS_1
Trus tinggalkan jejak kalian, like, koment dan vote yaa supaya Author tambah semangat 😻😻😻