CINTA SI YATIM

CINTA SI YATIM
GENGSI


__ADS_3

Setelah drama yang panjang di mall kini Laila sudah duduk manis bersandar di bahu ranjang king size miliknya. Sedangkan Axel tentu saja saat ini masih berada di ruang kerja karena banyak berkas yang menunggu untuk dijamah oleh Axel


Malam pun kini semakin larut Laila juga tak kunjung bisa tidur. Semakin besar perutnya Laila semakin merasa gelisah, duduk salah, rebahan salah semuanya serba salah. Laila pun beranjak, maksud hati ingin menghampiri Axel diruang kerja, tapi saat Laila mengintip sebentar dibalik pintu Laila jadi tidak tega untuk mengganggu Axel


Tiba-tiba Laila merasa bersalah, karena ulah nya tadi siang Axel jadi harus bekerja lembur sekarang. Karena itulah Laila menutup rapat kembali pintu ruang kerja Axel lalu pergi ke taman belakang. Laila duduk disebuah ayunan yang ada di taman itu sambil menatap bintang. Kebiasaan Laila jika sedang gundah atau tidak enak hati dia selalu saja memandang langit dan berharap dapat bertemu dengan almarhumah ibunya.


Laila memejamkan mata dengan wajah yang masih menengadah ke langit. Tiba-tiba sayup-sayup Laila mendengar sebuah suara lembut memanggil namanya


"Laila"


"Ibu"


Saat suara itu memanggil Laila pun menengok ke belakang dan alangkah terkejutnya Laila melihat sosok yang sangat ia rindukan. Ibunya berdiri tepat di depan matanya berdiri tegak tanpa menggunakan kursi roda.


Laila pun bangkit dan berlari memeluk sosok yang mirip dengan ibunya ini.


"Hikkss hikkss bu Laila kangen"


"Iyaa sayang, ibu juga sangat merindukan mu"


Laila memeluk ibunya dengan erat dan begitu juga bu Lastri memeluk Laila dan satu tanganya mengelus rambut panjang nan indah milik putri sulung nya ini


Kini bu Lastri dan Laila duduk bersama di sebuah gajebo yang ada di tengah taman.


"Bu... Ibu kemana aja... Kenapa ibu ninggalin Laila?"


"Ibu tidak kemana-mana sayang, ibu selalu ada bersama mu... Bukan kah kau sering melihat bintang... Ibu bisa melihat mu dari atas sana"


"Hikks hhiikkss" Laila tidak bisa berhenti menangis


"Bagaimana kehidupan mu sekarang, apa kau bahagia?"


"Yaa bu Laila sangat bahagia, sekarang Laila sudah punya sebuah keluarga yang sangat menyayangi Laila. Axel memperlakukan Laila layaknya seorang ratu, bahkan ibu mertua Laila pun juga memperlakukan Laila dengan sangat baik, dan juga lihat sekarang bu aku sedang mengandung dan ini adalah anak kedua ku"


"Ibu senang kau hidup dengan baik nak"


"Lalu bagaimana dengan ibu, apa ibu juga baik-baik saja?"


"Seperti yang kau lihat sayang, ibu sudah tidak lagi merasakan sakit... Kini ibu berada di tempat yang sangat indah dan juga damai. Dan apa kau tau semua itu adalah berkat dari doa dan perbuatan baik mu"


"Benarkah? Apa aku bisa ikut ibu?"


"Sebenarnya ibu ingin kau hidup lebih lama sayang... Ibu ingin melihat mu hidup dengan baik dan berbahagia"


"Bu, Laila ingin ikut ibu... Apakah tempat ibu berada sekarang sangat indah"


"Tentu saja sangat indah, dan apa kau tau, ibu dan ayah sudah berkumpul bersama... Disana hanya ada padang rumput yang hijau, ada danau dan juga taman bunga"


"Seperti nya disana sangat damai"


"Tentu saja nak dan apa kau tau keindahan yang ibu dapat itu semua juga tidak lepas dari doa dan kebaikan yang selama ini telah kau lakukan untuk orang lain"


"Tapi Laila lelah bu, Laila ingin pergi ke tempat yang damai"

__ADS_1


"Tidak nak, perjalanan mu masih panjang... Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mu, maka berdoa lah dengan tulus... Ibu yakin Allah akan mengabulkan doa mu... Kau masih punya anak yang masih kecil kan...? Kasian mereka jika kau pergi mengikuti ibu"


"Bolehkah Laila berbaring dipangkuan ibu?"


"Tentu saja nak, berbaring lah"


Laila pun membaringkan diri dipangkuan bu Lastri, bu Lastri pun membelai lembut puncak kepala Laila seolah Laila adalah anaknya yang masih kecil. Lembut belaian dari sang ibu membuat Laila terlena dan perlahan lahan memejamkan mata hanyut dalam alunan terpaan angin yang menyapa kulit


Di tempat lain, Axel baru saja selesai dengan pekerjaannya. Axel pun segera menuju ke kamar utama untuk beristirahat karena tubuh Axel sudah terasa sangat lelah


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 02 pagi dan ketika Axel membuka pintu utama netra mata Axel tidak mendapati sang istri di tempat tidur. Axel pun mencari Laila di kamar mandi namun ternyata sang istri tercinta juga tidak ada disana


"Apa mungkin di dapur?" gumam Axel


Axel pun pergi lagi dari kamar utama menuju dapur namun Axel juga tidak mendapati ada tanda-tanda Laila disana


Peralatan dapur bersih dan rapi dalam keadaan tidak tersentuh dalam beberapa jam terakhir. Axel mulai panik namun kali ini dia tidak ingin membuat kegaduhan seperti yang sudah-sudah


Axel pun berpikir apa kira-kira yang akan Laila lakukan jika ia terbangun di malam hari.


"Ahh bintang, yaa Laila suka melihat bintang... Dimana tempat bisa melihat langit luas apa di kolam renang" pikir Axel


Axel pun menuju ke kolam renang namun Laila juga tidak ada disana, kini hanya ada satu tempat yang ada dipikiran Axel. Axel sangat berharap kalau Laila ada di tempat itu. Itu adalah taman belakang tempat dimana Laila biasa untuk berkebun dan menanam bunga


Dengan langkah lebar Axel bergegas menuju ke taman belakang. Axel tidak ingin kecewa lagi kali ini dan sangat berharap kalau istrinya ada disana


Benar saja saat mendekati taman dari dinding kaca yang terbuka Axel dapat melihat keberadaan istrinya yang tengah berbaring di atas ayunan.


"Astagaa... Sayang... Kenapa kau ada diluar?"


"Jangan bu, tunggu dulu Laila masih ingin bicara dengan ibu... Ibuuuuuuuu" teriak Laila


"Sayang kau kenapa... Kau mengigau"


"Axel hikkk hiikkks"


Laila masuk ke dalam pelukan Axel saat melihat Axel ada dihadapan matanya.


"Hey hey hey kenapa kau menangis sayang?"


"A-ku bermimpi bertemu ibu d-a-n aku dan ibu duduk di gajebo itu" ucap Laila terbata semberi menunjuk gajebo yang ada di belakang mereka


"Kau merindukan ibu sayang?"


"Hiikkkss sangat aku sangat merindukan ibu"


"Kalau begitu besok kita akan pergi ke makam ibu"


"Apa boleh begitu?"


"Memangnya kenapa tidak boleh"


"Bukan kah kau sibuk?"

__ADS_1


"Sesibuk apa pun aku, semua tidak akan lebih penting dari diri mu dan anak-anak kita"


Laila pun tersenyum manis mendengar kalimat Axel. Laila sungguh merasa sangat beruntung memiliki Axel sebagai pasangan hidup nya


"Apa kita ajak Cella juga mas"


"Yaa sayang ajak lah Cella, tapi apa tidak masalah jika Cella libur sekolah?"


"Ahh yaa benar juga, besok Cella ada ujian"


"Kalau begitu kita pergi berdua saja dulu, saat Cella sudah libur sekolah kita akan ajak Cella untuk berkunjung ke makam ibu"


Laila mengangguk patuh


"Sekarang ayo kita masuk sayang, tubuh mu sangat dingin... Kenapa kau keluar manshion dengan pakaian setipis ini... Kau bisa masuk angin"


"Maaaf"


"Maaf untuk apa sayang?"


"Maaf kalau aku selalu saja menyusahkan mu"


"Tidak... Kau bukan beban bagi ku... Tapi kau adalah sumber kebahagian ku... Kau yang membuat aku punya semangat untuk menjalani hidup sayang... Tanpa mu aku sama sekali tidak berarti apa-apa"


Laila pun hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Axel. Axel selalu saja bermulut manis jika sedang bersama Laila


"Jadi apa mau aku gendong?"


"Tidak aku bisa jalan sendiri"


Seolah tuli Axel tidak mendengarkan perkataan Laila dan menggendong Laila ke dalam manshion menuju ke kamar utama


"Axel turun kan aku..  Aku berat"


"Tidak... Aku sanggup menggendong mu"


Jarak taman belakang ke kamar utama yang ada di lantai 2 sebenarnya cukup jauh. Perlu waktu sekitar 15 menit untuk bisa sampai kesana karena manshion Axel memang sangat lah besar dan lebih megah dari pada manshion keluarga Horrison


5 menit pertama Axel tetap dengan stamina full menggendong Laila beserta anak di dalam kandungannya. Tetapi menit berikutnya langkah Axel mulai terasa berat dan nafasnya pun mulai ngos ngosan


"Axel sudah turun kan aku"


"Tidak sayang aku kuat" jawab Axel dengan muka yang sudah memerah karena lelah


Laila melihat itu dan sangat tau kalau Axel sedang memaksakan diri untuk menggendongnya tapi melihat Axel yang bersikeras untuk tidak menurunkannya akhirnya Laila yaa hanya diam saja


"Astagaa aku tidak kuat lagi" batin Axel


"Sayang tolong katakan lagi turun kan aku ayo katakan lagi" Axel kembali membatin


Namun angan tinggal angan, Laila tidak lagi membuka suara dan tetap membenamkan wajahnya di dada bidang Axel


"Astagaa sayang cepat katakan turun kan aku... Aku sudah tidak kuat menggendong mu... Kalau aku katakan aku tidak kuat gengsi donk aku huhuhu... Mau ditaruh dimana muka ku kalau akau berkata aku tidak kuat lagi dan kau benar sangat berat 😭😭😭"

__ADS_1


Axel terus saja bermonolog pada dirinya sendiri dengan langkah yang bahkan sudah tidak bisa maju ke depan 😂


__ADS_2