
"Aaaaa"
Axel tersungkur seketika karena kakinya tak sanggup lagi melangkah. Untung saja Laila melingkarkan lengannya dileher Axel jika tidak mungkin Laila akan terjatuh
"Astaga mas... Kamu gak papa?"
Axel tidak menjawab, wajahnya terdunduk menahan malu sekaligus lelah yang luar biasa.
"Mas... Astaga... Aku kan sudah bilang tadi turun kan aku... Tuh kan kamu gak kuat kan"
Laila pun berdiri dan pergi ke dapur untuk mengambil air putih
"Ini mas minum dulu"
Axel patuh dan meminum air putih itu sampai air di dalam gelas itu tandas tak bersisa sedikit pun
"Apa mas bisa bangun?"
"Yaa sayang aku tidak apa-apa" ucap Axel sambil mencoba untuk bangkit
Laila pun mencoba memapah Axel dan menuntun Axel untuk menaiki lift. Sangat tidak mungkin bagi Axel untuk menaiki tangga sekarang. Kakinya tidak bengkak saja mungkin keajaiban pikir Laila
Setelah sampai di kamar Laila pun membaringkan Axel lalu memijit kaki Axel
"Sayang... Aku tidak apa-apa... Cepat kau istirahat"
"Tidak apa mas, aku tidak capek"
"Sayang, kaki ku tidak apa-apa, beneran deh kamu gak usah pijitin kaki mas"
"Patuh lah mas, jika tidak aku akan menghukum mu"
"Aduh istri ku koq galak sekali"
Sontak saja kalimat ini membuat Axel mendapatkan tatapan tajam dari Laila.
"Sayang, istirahat lah aku tau kau lelah"
"Dan aku juga tau kau sangat lelah.. Kau bekerja siang dan malam dan aku selalu saja membuat mu kesusahan... Apa lebih baik aku tidak ada di dunia ini?"
"Hey apa maksud perkataan mu... Aku tidak suka mendengar mu berkata seperti itu" ucap Axel tegas
"Tapi bagaimana jika aku benar-benar pergi"
Axel diam, dia tidak mau menanggapi ucapan Laila... Akhirnya Axel lebih memilih pergi dari kamar utama
"Mas... Mau kemana?"
"Tidur lah... Aku akan tidur di kamar sebelah"
Yaa... Itulah Axel, lebih baik sekarang dia pergi dari pada mendengar omongan istrinya yang ngelantur tak karuan. Axel benar-benar tidur di kamar sebelah dan hanya dalam hitungan detik Axel pun tertidur. Tentu saja Axel sangat lelah karena sekarang sudah pukul 03 pagi dan Axel sama sekali tidak tidur barang sedetik
Laila pun bingung kenapa dia ditinggal sendiri di kamar utama. Laila pun pergi menyusul Axel dikamar sebelah dan saat membuka pintu Laila melihat Axel sudah terlelap jauh. Laila pun melengkungkan sebuah senyuman, rasanya damai ketika melihat orang yang kita cintai tidur dengan tenang
Laila pun mendekati Axel lalu membaringkan diri disamping tubuh Axel. Tanpa terasa Laila pun juga ikut terlelap karena merasa tenang menghirup aroma khas tubuh Axel.
Pagi hari pun tiba, seperti biasa Lucas akan datang ke manshion Axel untuk menjadi supir atau pun duduk di samping Axel untuk membahas pekerjaan sebelum tiba di kantor
"Saidah dimana Tuan?"
__ADS_1
"Maaf den Lucas, sepertinya Tuan dan nyonya belum bangun"
"Loh koq tumben?"
"Maaf den Saya juga tidak tau"
Lucas tidak tau kalau Axel hari ini tidak masuk ke kantor karena tadi malam Axel lupa memberikan kabar pada Lucas
"Apa den Lucas mau Saya panggilkan Tuan?"
Lucas melirik arlogi yang ada dipergelangan tangannya karena dipepet waktu Lucas pun meminta Saidah untuk membangunkan Axel
Saidah pun mengetuk pintu kamar utama namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana.
"Hheemm ini aneh sekali, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana" batin Saidah
Saidah pun memberanikan diri untuk sedikit membuka pintu kamar utama, benar saja tempat tidur disana kosong dan benar tidak ada orang di dalam sana
"Loh kemana perginya Tuan dan nyonya? Apa mereka keluar tapi mobil dan supir masih ada dibawah" gumam Saidah
"Den Lucas, Tuan dan nyonya tidak ada di kamar"
"Apa... Benarkah?"
Lucas pun mengambil ponsel lalu menghubungi nomer Axel. Pada deringan pertama Axel tidak menjawab sampai pada deringan ke empat barulah panggilan tersebut tersambung
"Tuan, maaf Anda ada dimana?"
"Pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku ada di manshion"
"Maaf Tuan, Saya sudah menunggu Anda di bawah"
Tut tut tut
Axel memutus panggilan itu secara sepihak. Awalnya Axel sama sekali tidak menyadari kehadiran Laila disampingnya dan ketika Axel menengok ke samping Axel sangat terkejut ternyata Laila tidur di sampingnya
Axel pun membelai lembut wajah Laila lalu memberikan sebuah kecupan di puncak kepala Laila setelah itu Axel keluar dan turun ke bawah untuk menemui Lucas
Alangkah terkejutnya Lucas melihat penampilan Axel yang berantakan dengan masih menggunakan baju kaos dan celana pendek selutut
"Tuan" ucap Lucas sambil memberi hormat
Axel pun duduk lalu diikuti oleh Lucas
"Lucas, kau handle semua kegiatan ku hari ini... Aku tidak masuk kantor untuk 2 hari... Aku akan pergi ke tempat mertua ku"
"Tapi Tuan hari ini kita ada meeting dengan kolega kita dari Dubai"
"Kau temui saja mereka dan bilang aku berhalangan hadir"
"Tapi mereka kemaren meminta Anda sendiri untuk datang dan Anda pun juga sudah setuju Tuan"
"Aku bilang kau wakilkan aku, jika mereka tidak terima kau batalkan saja perjanjian bisnisnya"
Lucas pun sudah tidak dapat lagi bicara karena jika Axel sudah mengambil keputusan itu artinya bersifat mutlak. Axel sama sekali tidak perduli dengan triliunan dolar yang akan dihasilkan dari hasil kerja sama ini karena baginya tidak ada yang lebih penting dari pada Laila. Akhirnya Lucas pun hanya bisa pasrah dan mengangguk patuh
"Baik Tuan"
"Hhmmm.... Lalu apa lagi yang kau tunggu... Cepat pergi sana"
__ADS_1
"Kalau begitu Saya permisi Tuan"
Setelah kepergian Lucas Axel kembali lagi ke kamar tempat dimana istrinya masih tertidur lelap. Axel tidak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri melainkan dia kembali berbaring di samping Laila. Perlahan lahan Axel mengangkat sedikit kepala Laila dan meletakannya di lengan Axel lalu satu tangan Axel memeluk erat tubuh Laila dan tanpa terasa Axel pun kini kembali terlelap
Selang satu jam kemudian Laila terbangun karena merasakan perutnya terasa sakit karena bayi nya menendang dengan sangat kuat. Saking kuatnya Laila pun bangun dan duduk sambil merintih dan memegangi perutnya
Axel yang merasakan ada gerakan di tempat tidur juga samar-samar daun telinga Axel mendengar istrinya merintih membuat Axel ikut membuka mata juga terbangun dengan sempurna
"Ada apa sayang, kau kenapa?" ucap Axel sedikit panik
Laila tidak menjawab tapi perlahan lahan Laila mencoba untuk mengatur pernafasannya agar rasa sakit yang dia rasakan berkurang
"Apa ini sudah waktunya... Apa dia akan lahir... Astaga bagaimana ini"
Tanpa mendengar jawaban Laila terlebih dahulu dengan cepat Axel berlari dan berteriak memanggil Saidah
"Saidaaahhhh.... Saiidaaaaaaaahhhhh"
Mendengar suara bariton Axel yang menggelegar dengan cepat Saidah naik dan berlari ke lantai 2 menghampiri sang Tuan
"Ada apa Tuan?"
"Cepat kau siapkan supir, kita ke rumah sakit, istri ku akan melahirkan"
Saidah yang mendengar sang nyonya akan melahirkan pun kaget bukan kah ini terlalu cepat pikir Saidah. Namun, karena melihat raut wajah panik dari Axel Saidah pun yakin kalau Axel tidak bercanda dan pasti terjadi sesuatu dengan sang nyonya
Akhirnya Saidah menurut saja dan berlari kembali ke bawah untuk menyiapkan supir tidak lupa Saidah memerintahkan beberapa pelayan untuk menyiapkan perlengkapan sang nyonya untuk melahirkan.
"Masss"
"Sabar sayang... Kita akan ke rumah sakit sekarang"
"Mas.... Bukan itu ihhh... Kau cepat kesini untuk apa kau mondar mandir di depan pintu"
Axel pun patuh dan mendekati Laila. Axel pun membelai lembut perut Laila dan jujur saja Axel dapat merasakan ada gerakan di dalam sana saat Axel menempelkan tangannya ke perut Laila
"Apakah sangat sakit? Apa kau yakin ingin melahirkan normal? Apa tidak apa sayang? Bertahanlah sebentar lagi kita akan ke rumah sakit sekarang" ucap Axel bicara tanpa jeda
"Mas ini belum waktunya... Masih lama untuk ku melahirkan itu mungkin masih satu bulan lagi"
"Tapi tadi kau kesakitan"
"Itu karena bayi mu menendang sangat kuat, lihatlah sekarang sudah hampir jam 10 mungkin bayi kita lapar dan minta makan makanya menendang perut ku sangat kuat"
"Benarkah... Apa cuma begitu.. Apa kau yakin ini belum waktunya melahirkan"
"Belum mas... Ini masih lama, bayi mu hanya lapar"
"Hhuuuuffftt syukurlah... Hey boy kau hampir saja membuat papa serangan jantung... Bayi nakal"
Cup
Axel mengecup perut Laila, sungguh dangan gemas sekali rasanya Axel ingin cepat menggendong bayi ini
"Tuan, supir dan mobil sudah siap"
"Tidak jadi Saidah... Kau siapkan makanan saja... Cepat... Karena anak ku sudah sangat lapar sampai dia berubah menjadi singa"
"Hahahahaha" Laila tertawa terbahak
__ADS_1
Sepertinya anak kedua nya ini akan sangat kompak dengan Cella nanti karena mereka sama-sama suka ngeprank papanya