
Tap tap tap
Terdengar langkah kaki seseorang menuju ke dalam ruangan Grace
Kreeeettt
Pintu di buka, seketika mata Lula menangkap keberadaan Grace yang diam mematung di atas tempat tidurnya
"Hahahahaha jadi kau benar-benar gila... Hahahah kasian sekali kau hahahaha"
Lula tertawa terbahak....
Grace mengenali tawa itu, telinga nya seperti menangkap radar kalau suara itu adalah suatu yang sangat dia kenali... Perlahan-lahan Grace mengangkat kepalanya
Jleeebbbb tatapan Lula dan Grace bertemu dan saling mengunci
Belum juga Lula mendekati Grace, samar-sama Lula mendengar kalau ada orang yang mendekat ke arah kamar Grace. Lula pun dengan cepat bersembunyi di balik pintu
Benar saja saat pintu itu terbuka, ternyata itu adalah dokter Nina bersama para perawatnya. Tidak ingin ketahuan Lula dengan cepat keluar dari kamar Grace, namun sebelum Lula benar-benar keluar dari sana, Lula masih sempat mengacungkan jari tengah dan memberikan isyarat ancaman kepada Grace.
Lula tentu saja sudah menyiapkan semuanya, dia datang tentu saja sudah dengan persiapan yang matang. Sebagai wanita simpanan seorang mafia mudah bagi Lula memerintahkan anak buah lelakinya agar membantu melancarkan aksi balas dendamnya
Kemana pun Lula melangkah, tidak akan pernah ditemukan atau tertangkap cctv. Lula tau saat ini walau pun Grace dalam keadaan yang tidak waras namun pasti Austin tetap menjaganya dengan ketat. Karena itu lah Lula pun juga selalu waspada dan penuh perhitungan dalam melakukan apa pun yang akan dia perbuat agar apa yang dia rencanakan tidak hancur dan sia-sia
Saat Lula sudah menghilang dari pandangan Grace, Grace tiba-tiba berteriak histeris
"Aaaaaaa"
Praaankkk
Praaaaannnkkkk
Grace mengahancurkan dan memecahkan apa saja yang ada dihadapannya, beruntung dokter Nina ada disitu sehingga dengan cepat Grace bisa di atasi. Kendati dokter Nina harus memanggil beberapa perawat laki-laki untuk menahan tubuh Grace yang mengamuk dan berlari kesana kemari.
Dokter Nina menyuntikkan obat penenang dosis tinggi pada Grace sehingga hanya dalam hitungan detik Grace menjadi tenang dan memejam kan mata. Dokter Nina pun segera menghubungi Austin dan menceritakan semuanya, kalau Grace kembali mengamuk seperti 6 tahun yang lalu saat pertama Grace mengalami depresi
Austin pun bergegas pergi ke RSJ, dan setelah sampai dia masih mendapati Grace terlelap dengan dua orang perawat yang berjaga disana.
"Apa yang terjadi dokter Nina ?"
"Untuk saat ini diagnosa Saya sepertinya nyonya Grace mengalami sesuatu yang mengingatkan dia pada trauma yang dialaminya sehingga itu membuat dia kembali mengamuk seperti dulu"
"Apa maksud mu ?"
"Begini Tuan, nyonya Grace mengalami gangguan stres pasca atau Trauma PTSD dimana gangguan ini akan menyebabkan pasein akan menjadi histeris ketika dia menemukan suatu situasi yang sama atau yang hampir mirip dengan kejadian atau sesuatu yang membuat mentalnya terganggu dan menyebabkan tekanan secara emosional "
"Tapi apa yang baru saja Grace alami"
"Itu yang masih Saya cari tau Tuan, karena saat Saya masuk ke dalam ruangan nyonya Grace saat itu nyonya Grace masih diam seperti patung"
__ADS_1
"Oke baiklah, tetap kau awasi dia dokter Nina"
"Baik Tuan"
Mendengar penjelasan dari dokter Nina, Austin pun kembali memikirkan apa gerangan yang memicu trauma Grace kembali. Austin kembali mengingat kejadian di masa lalu nya dan tidak lupa Austin juga memerintahkan para pengawalnya untuk memeriksa cctv, apakah ada seseorang yang mengganggu Grace ? Begitu pikir Austin
Di tempat lain saat ini Laila masih berada di panti asuhan HARAPAN BARU, kedatang Laila dan keluarga kecilnya ini adalah angin segar untuk semua penghuni yang ada disana karena sudah sangat lama sekali tidak ada donatur yang memberikan mereka baju baru dan mainan baru.
Cella juga sangat senang berada disana, anak panti itu sangat baik dan Cella merasa kembali menjadi dirinya dimana kodratnya Cella hanya lah seorang anak kecil yang selalu ingin bermain dan berlari lari. Cella melakukan semua permainan yang sangat jarang ia mainkan, Cella berlari mengejar teman-temannya yang lain, bermain petak umpet, lompat tali dan bahkan bermain layangan.
Sedangkan Laila saat ini sedang berbincang dengan bu Eva bersama Axel dan juga Amar yang berada di dalam gendongannya.
"Laa, koq Amar kayak senang yaa dekat sama kamu ?"
"Gak tau bu, tapi Laila suka kalau Amar anteng gini"
Kendati Axel selalu berada di samping Laila tapi Axel sama sekali tidak tertarik dengan obrolan tentang panti ini atau pun anak-anak asuh yang ada disana. Bukannya Axel tidak peka atau tidak iba, Axel hanya mempercayakan semua pada Laila. Kalau Laila ingin menjadi donatur tetap untuk panti ini tidak masalah untuk Axel atau pun jika Laila ingin mendirikan panti asuhan yang baru itu juga tidak menjadi masalah sedikit pun untuk Axel.
Hanya satu yang mengganjal di hati Axel dan fiirasatnya mengatakan kalau itu bukan sesuatu yang baik. Entah kanapa Axel tidak suka dengan anak kecil yang ada di dalam gendongan Laila saat ini
Axel bukan cemburu pada anak kecil hanya saja jauh di dalam hatinya, batin Axel seperti mengisyaratkan bahwa ada yang salah dengan bayi ini tapi apa Axel tidak tau
Tanpa bertanya tentang bagaimana bayi mungil itu berada di panti ini, Axel dengan cepat menyuruh anak buahnya agar menyelidiki seorang bayi yang di buang beberapa hari yang lalu di panti asuhan HARAPAN BARU. Sungguh rasa penasaran Axel tidak dapat dibendung, naluri nya begitu kuat ingin melindungi keluarganya hingga Axel selalu bersiaga dengan apa pun termasuk pada bayi kecil yang hanya tau menangis dan minum susu ini.
"Cella... Udahan mainnya sayang, kita udah kesorean ini... Ayoo kita pulang" teriak Laila
"Cella, nanti kamu main lagi kesini yaa" ucap Nur teman baru Cella
"Okee Nur, nanti kalau Cella libur sekolah Cella pasti main lagi kesini"
"Daahhhh"
"Dadahhhhh"
Setelah berpamitam dengan teman-teman barunya Cella pun berlari menghampiri sang mama.
"Duh anak mama ceneng banget yaa mainnya"
"Heheh iyaa ma, udah lama Cella gak keringetan kayak gini"
"Eehhhmm pantes bau acem"
"Hahahah" Cella dan Laila tertawa bersama
Laila dan Axel pun juga berpamitan pada bu Eva, setelah itu keluarga kecil ini benar-benar pergi dari panti tersebut dengan Axel sendiri yang menjadi supir untuk keluarga kecilnya.
"Mas... Menurut kamu Amar gimana ?"
"Amar siapa sayang, kamu punya lelaki lain ?"
__ADS_1
"Mas aku serius ihhh"
"Mas juga serius sayang, Amar itu siapa ?"
"Astaga mas, Amar itu bayi yang aku timang tadi mas"
"Oowwhhh"
"Koq cuma oohh"
"Yaa terus mas harus bilang apa ?"
"Yaa maksud aku, gimana menurut mas tentang Amar ?"
"Yaa kan dia cuma bayi, memang dia bisa apa selain menangis dan minta susu"
"Maksud aku dia lucu gak"
"Hhmm lumayan"
"Mas kasian gak sama Amar"
"Yaa kasian, tapi kita bisa apa memang orang tua nya yang tega membuang dia disana kan"
"Nah itu, kasian Amar gak dapat figur orang tua mas... Gimana kalau kita adopsi dia ?"
Ciiiiiiittttt (suara rem berdecit)
"Mas koq ngerem mendadak sih" ucap Laila kesal
"Iyaa nih papa, Cella hampir kejedot tau gak"
"Kita bicarakan ini dirumah saja sayang, kamu harus memikirkan baik-baik kalau kamu mau mengadopsi anak" jawab Axel lembut
"Mama mau mengadopsi bayi tadi yaa maa ? Ucap Cella menimpali
"Iyaa sayang, gimana kamu setuju gak ?"
Cella melirik sebentar pada sang papa setelah itu Cella menarik nafas panjang
"Maaa... Jujur Cella tidak setuju kalau mama mengadopsi anak itu, jujur hati kecil Cella seperti tidak suka dengan bayi itu"
Gleeebb.... Axel diam mematung dan menatap Cella dalam, ternyata bukan hanya hati nya yang merasakan ada yang aneh dengan bayi itu ternyata Cella juga merasakannya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hay Readers terkasih 😘 jangan lupa masukan ini ke daftar favorit kalian yaa...
Trus tinggalkan jejak kalian, like, koment dan vote yaa supaya Author tambah semangat 😻😻😻
__ADS_1