
"Bundaaa... Cella kangen pengen bobo sama bunda, bunda malam ini nginap disini yaa"
"Ide bagus, Axel kau juga menginap lah disini" ucap nyonya besar Alexsandra
Axel manatap ke arah Laila sebagai pertanda bahwa dia meminta persetujuan dari istrinya ini. Dan Laila pun mengangguk tanda dia setuju untuk menerima tawaran dari mertua nya
"Baiklah malam ini papa dan mama juga akan menginap"
"Yeee... Jadi bunda nginap diisini juga kan"
Sebenarnya Ratu tidak enak untuk menginap disini apalagi pada nyonya Alexsandra. Tapi Cella terus saja merengek membuat Ratu mau tidak mau terpaksa harus menerima permintaan Cella
Makan malam kini telah usai, Rendra beserta kedua orang tuanya kini telah pulang, Ratu dan Cella juga telah masuk ke kamar, nyonya Alexsandra pun juga telah beristirahat, Axel dan Laila pun akhirnya juga masuk ke kamar mereka
Deg
Jantung Laila kembali berdetak dengan kuat. Akhirnya Laila kembali menginjakan kakinya ke tempat ini lagi, Laila memperhatikan tempat ini dengan seksama, setiap sudut kamar ini masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana dulu Laila diperlakukan dengan tidak adil.
Laila melangkahkan kakinya ke arah balkon di kamar itu, Laila menatap ke arah langit dan menghirup dalam udara malam sambil menikmati pemandangan langit yang indah dengan banyak bintang yang berkerlap kerlip dan cahaya rembulan yang mempercantik suasana. Laila membiarkan angin malam menyapa pori-pori di tubuhnya
Axel melihat Laila ada di balkon, perlahan lahan Axel melangkahkan kakinya mendekati sang istri dan memeluk Laila dari belakang
"Sayang, kau bisa masuk angin jika diluar begini"
"Itu tidak akan terjadi. Angin tidak akan membuat ku sakit karena kau memeluk ku dengan erat"
"Hehehe kau sekarang pintar merayu yaa"
"Tidak... Itu keyataan kan, kau bilang tidak akan membiarkan apa pun menyakiti ku"
"Yaa kau benar sayang"
Axel semakin mengeratkan pelukannya dan mencoba untuk terus memberikan kehangatan untuk Laila
Axel tersenyum manis mendengar kata-kata Laila barusan, dia lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Seketika aroma khas bunga Gardenia menyapa indra penciuaman Axel. Ini adalah aroma khas tubuh Laila yang selalu membuat Axel rindu, jika sudah menghirup aroma ini Axel merasakan ketenangan dan yang terburuk Axel bahkan sampai bisa lupa diri
"Axel"
"Hhhmmm"
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik mu Austin ? Maaf jika aku lancang bertanya"
"Tidak sayang, tentu saja kau berhak tau"
Axel lalu menceritakan semuanya pada Laila tapi tentu saja Axel tidak mengatakan bahwa wanita ketiga yang ada dalam hubungan Austin dan Grace adalah Lula.
Lula sebenarnya sudah dibebaskan 1 tahun yang lalu. Kini dia bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah club yang tidak terlalu terkenal. Lula menjajakan tubuhnya pada satu pria ke pria lain, dulu Axel memerintahkan orang untuk selalu mengawasi Lula karena Axel berharap Laila akan menemui adiknya dan Axel bisa menemukan Laila
__ADS_1
Tapi karena sekarang Axel sudah bersama dengan Laila, Axel menarik kembali semua pengawal bayangan yang ia tugaskan untuk mengawasi gerak gerik Lula
"Kasihan sekali Grace, Axel apa aku boleh menjenguknya"
"Apa kau tidak marah pada Grace sayang, bukan kah dia juga pernah menyakiti mu ?"
"Tidak, aku sama sekali tidak marah... Grace disini juga korban. Dia adalah korban dari rasa ego yang ada di hatinya"
"Kau memang baik dan berhati lembut sayang, aku sangat beruntung bisa memiliki wanita yang sangat indah seperti diri mu"
"Apa ada yang kau sembunyikan dari ku Axel ?"
"Tidak... Tidak ada"
Laila tau Axel berbohong, Laila sangat yakin dibalik sikap Axel yang mengurungnya selama hampir tiga minggu di villa XxxxX Laila yakin pasti ada sesuatu dibalik semua itu. Laila melepaskan pelukan Axel dan membalik tubuhnya agar berhadapan
Gleeekk
Tiba-tiba bulu kuduk Axel berdiri melihat kilatan amarah dari mata Laila. Selama ini Axel tak pernah takut pada apa pun dan siapa pun tapi berhadapan dengan istrinya yang terlihat marah ohh entah terbang kemana semua keberaniannya itu
Laila sekarang bukanlah lagi Laila yang dulu polos dan percaya begitu saja dengan perkataan Axel. Axel lupa kalau Laila kini juga berubah menjadi keras kepala
"Kau tidak mau jujur Axel ?"
"Anu.... Anuu...."
"Anu apaaa"
"Jawab" ucap Laila sedikit geram
"Bisa tidak jujurnya besok saja"
Laila tidak menjawab, Laila malah tersenyum cerah kepada Axel. Axel pikir Laila tidak marah dan dia pun selamat kali ini, membuat Axel menarik nafas lega.
"Huh selamat" Axel bergumam pelan
Laila menggandeng lengan Axel dan menuju ke arah pintu. Setelah pintu kamar Laila buka, Laila mendorong Axel keluar lalu mengunci pintunya dari dalam
"Sayang buka pintunya"
Duuaarr duuaarr duuuaarr
Axel mengedor pintu dengan keras tapi Laila sama sekali tidak perduli
"Axel kau dihukum sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan"
"Apaa... Tidak... Sayaang jangan..."
__ADS_1
Axel kembali menggedor gedor pintu namun Laila seolah tuli. Laila berjalan ke arah kasur dan merebahkan dirinya disana
"Ahh nyaman sekali"
Di luar Axel masih berusaha memohon agar Laila mau membukakan pintu untuknya. Tapi nihil semua usahanya sia-sia
"Sepertinya aku harus minta tolong sama Cella"
Axel lalu pergi ke kamar Cella
Tok tok tok
Cella membuka pintu dan melihat keadaan papanya yang kacau
"Kenapa papa kesini ?"
"Cella tolong papa, mama tidak mau membukakan papa pintu"
"Iisshh papa ini bo×doh sekali, pasti papa melakukan kesalahan kan"
"Itu bukan salah papa, itu salah Alea si wanita siluman itu mengapa menjebak papa untuk menikahinya"
"Itu salah papa, kenapa papa bo×doh dan mau terjebak dengan wanita siluman itu"
"Bisa tidak ngomong lembut sama papa"
"Mana bisa ngomong lembut sama papa yang bo×doh dan menyebalkan seperti papa"
Cella lalu berjalan menuju kamar yang di tempati oleh mamanya sedangkan Axel hanya bisa mengekor dari belakang
"Maa... Mama"
Cella memanggil mama Laila namun tidak ada sahutan dari dalam
"Maaa... Uuuu... Mama... Hiks....Hiiikks"
Kali ini Cella memanggil mama Laila dengan nada seperti menangis. Tentu saja Cella tidak benar-benar sedang menangis, itu hanyalah sebuah akting yang Cella buat.
Laila yang mendengar Cella terisak segera berlari ke arah pintu, Laila takut terjadi apa-apa dengan Cella. Namun saat pintu terbuka, Axel dengan cepat masuk ke dalam kamar lalu merebahkan dirinya di kasur dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya
Laila pun di buat melongo dengan tingkah Axel yang kekanak kanakan. Laila lalu menatap Cella dalam tapi Cella hanya mengangkat kedua bahunya dan sedikit mengerucutkan bibir tanda dia tidak tau apa-apa
"Cih apa benar papa ku itu CEO dari perusahaan besar, padahal dia itu sangat bod×oh dan kekanak kanakan" batin Cella menggerutu
"Wah ternyata Cella itu sangat berbahaya, aku harus hati-hati dengannya, akting nya itu sungguh bisa memperdaya semua orang. Apa benar gen Cella itu berasal dari ku kenapa dia itu licik sekali" batin Axel bermonolog
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hay Readers terkasih 😘 jangan lupa masukan ini ke daftar favorit kalian yaa...
Trus tinggalkan jejak kalian, like, koment dan vote yaa supaya Author tambah semangat 😻😻😻