
Setelah beristirahat sebentar Laila dan Axel pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang kembali ke Manshion. Laila pun kini juga sudah tertidur pulas dipangkuan Axel setelah menghabiskan ikan terbang dan nasi liwet
Axel sedang membuka laporan dari Lucas tentang penyelidikan Lucas mengenai masa lalu Laila. Benar saja, Axel kembali meradang dan tangan Axel pun mengepal sempurna. Ada perasaan marah bercampur dengan rasa sedih yang Axel rasakan saat ini. Marah saat tau kalau Laila mendapatkan perlakuan tidak adil dari warga kampung dan sedih membayangkan Laila kecil yang bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga
"Iissh bagaimana bisa ada kelompok orang kejam seperti mereka" batin Axel
Axel kembali menatap wajah damai sang istri dan membelai lembut kepala Laila.
"Kau tidak perlu menderita lagi sayang, aku akan melindungi mu dan hanya kematian yang mampu memisahkan kita" gumam Axel
Saat pagi hari Laila terbangun dan dia sudah mendapati dirinya ada di dalam kamar utama. Sejauh mata memandang dia tidak mendapati keberadaan Axel
"Hhmm Axel dimana?"
"Selamat pagi nyonya, ada yang bisa Saya bantu?"
"Saidah, dimana Axel?"
"Tuan ada di tempat gym nyonya"
Laila pun melangkahkan kakinya menuju lantai 3. Yaa karena disitulah ruangan gym Axel berada, dan benar saja Axel ada disana sedang menaiki alat treadmill
"Mas koq tumben jam segini masih di rumah, mas gak masuk kantor lagi?"
Axel pun langsung menengok ke belakang begitu mendengar suara lembut menyapa indra pendengarannya lalu Axel pun langsung tersenyum dengan indah dan menghentikan aktifitas olahraganya
"Kemari lah sayang"
Laila patuh dan mendekati Axel lalu mendaratkan bokong kembali dipangkuan Axel
"Selamat pagi sayang papa" ucap Axel sambil mengecup perut Laila
"Iihh mas ini koq gak jawab pertanyaan aku"
"Pertanyaan apa sayang?"
"Iyaa koq mas gak ngantor hari ini?"
"Aku hari ini ada dinas di luar kota dan mungkin baru kembali 2 hari lagi"
"Benar kah...? Hhmm baik lah papa, kerja lah yang giat agar anak mu nanti bisa membeli permen kapas"
"Hahahahaha papa bahkan akan membuatkan pabriknya untuk mu sayang"
"Yeeaalllahh papa sombong amat, ingat pa semua itu cuma titipan"
"Hehehe"
"Kamu gak papa kan mas tinggal dinas 2 hari?"
"Iyaa gak papa"
__ADS_1
"Apa aku minta Cella menginap disini supaya kau tidak kesepian"
"Gak usah mas, Cella kan sedang ada ujian takut dia gak focus nanti lagian kasian mommy kalau ditinggal sendiri"
"Hhmm kau yakin tidak apa sendiri"
"Yakin... Lagian aku kan tidak benar-benar sendiri, kan ada Saidah dan para pelayan setia mu dan juga aku yakin pasti walaupun kau jauh kau selalu mengawasi ku kan?"
"Hehehe itu cuma standar protokoler sayang"
"Apaan standar protokoler macam istri presiden ajaa"
"Lah emang istri presiden kan"
"Presiden apa?"
"Presiden di hati ku"
"Halah gombal mu gak ketulungan mas"
Tok tok tok
"Maaf Tuan di bawah ada den Lucas" ucap Saidah
"Yaa"
"Kau pergi dengam Lucas mas?"
"Kau ini, berilah Lucas sedikit libur supaya dia bisa mendekati pujaan hatinya, kasian dia jomblo terus kalau jadi perjaka tua gimana?"
"Memang nya siapa pujaan hati Lucas?"
"Sini deh aku bisikin, ngomong nya gak boleh keras keras nanti Readers denger jadi gak seru lagi"
Axel pun patuh dan mendekatkan telinga nya ke mulut Laila
"What!!!! Seriusly?"
"1 milyar rius malahan"
"Apa aku harus membantu Lucas, menurut mu bagaimana?"
Laila hanya mengangkat kedua pundaknya menanggapi pertanyaan Axel.
"Cepat lah Lucas sudah menunggu mu"
"Tapi aku masih ingin bersama mu sayang, kita akan berpisah selama 2 hari"
"Astaga manja sekali, cepat lah nanti Lucas merajuk"
Laila pun bangkit dari pangkuan Axel dan diikuti oleh Axel.
__ADS_1
"Saidah katakan pada Lucas tunggu aku di ruang kerja"
"Baik Tuan"
Setelah Axel selesai membersihkan diri Axel pun turun untuk sarapan bersama Laila dan juga Lucas lalu kemudian Axel pun pamit pada Laila dan pergi ke luar kota bersama Lucas
Tapi ada yang berbeda dengan kepergian Axel kali ini, karena dia sebenarnya tidak pergi untuk bekerja melainkan pergi kembali ke kampung halaman Laila.
"Apa yang akan Tuan lakukan pada mereka Tuan?"
"Kita lihat saja nanti"
Lucas pun dibuat merinding karena jika Tuan nya sudah irit bicara seperti ini pasti jiwa iblisnya akan keluar. Tanpa mengenal rasa lelah Axel telah menginjakan kaki kembali di kampung halaman Laila dan langsung menuju ke rumah ketua RT setempat
Bukan tanpa alasan karena hanya dalam bekerja satu malam anak buah Axel berhasil membeli semua tanah warga yang ada disini dan tentu saja dengan nilai yang sesuai dengan pasaran. Dengan kata lain kampung itu bukan lagi milik para warga yang ada disana melainkan telah menjadi milik perseorangan dibawah naungan perusahaam Axel Coperations
Memang jika dipikir pikir ini semua memang lah tidak masuk akal. Namun bagi seorang pembisnis seperti Axel tentu saja semuanya bisa menjadi mungkin. Orang-orang yang tidak pernah berurusan dengan Laila kecil Axel berikan kesempatam untuk berkemas dan membawa barang-barang mereka pergi sedangkan orang-orang yang telah berbuat baik pada Laila Axel ijinkan untuk memilih tetap tinggal atau pergi juga dari kampung ini dengan sejumlah uang kompensasi dengan nilai yang fantastis.
Sedangkan orang-orang yang telah berbuat jahat pada Laila kecil tidak Axel ijinkan untuk masuk kembali ke dalam rumah mereka karena alat berat milik Axel telah meratakan itu semua dengan tanah dan mereka semua tidak memiliki apa-apa selain pakain yang melekat di tubuh mereka
"Kau beraninya kau... Siapa kau yang berani meratakan rumah ku heh" ucap bu Santi
Bu Santi adalah orang yang sudah dengan tega menghasut para warga agar mengusir dan membakar rumah Laila dulu
"Aku adalah Axel Harold Horrison, suami dari Laila Wulandari yang dulu telah kau bakar hidup-hidup"
Bu Santi diam dan mencerna ucapan Axel, dia pun mengingat ngingat kembali siapa gerangan nama Laila yang telah disebutkan laki-laki di depannya ini
"Hahaha kau bahkan lupa sudah membakar istri ku dalam kobaran api, tapi apa yang terjadi pada istri ku masih membekas hingga sekarang"
Axel pun memerintahkan para anak buahnya untuk membakar habis rumah orang-orang yang telah membuat Laila dulu terusir meski pun telah rata menjadi tanah karena dirubuhkan dengan alat berat Axel belum puas jika belum melihat itu semua terbakar
"Apa yang kau lakukan heh aaaaa" bu Santi menangis dan berteriak histeris melihat rumah nya dilalap sang jago merah
Masih syukur Axel memberikan kompensasi sedangkan Lailanya dulu bahkan pergi tanpa membawa apa-apa bahkan juga harus terluka demi mendapatkan uang tabungan yang jumlahnya bahkan tidak seberapa
Axel pun pergi berlalu dari tempat itu dengan meninggalkan semua sumpah serapah orang-orang yang telah Axel bakar rumahnya. Tapi Axel tidak perduli dia tetap melanjutkan langkahnya pasti dengan gaya cool dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya
"Kita pergi kemana lagi Tuan?"
"Kita kepenginapan terdekat Lucas, kau bereskan semua kekacauan di desa ini dan pastikan desa ini telah kosong dari para warga yang ingin pergi sedangkan untuk mereka yang memilih bertahan biarkan saja"
"Apa rencana Anda Tuan?"
"Aku akan menjadikan desa ini sebagai kawasan agro wisata dan besok akan ada investor kita dari jepang, ingat pastikan semua tempat ini sudah bersih aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun"
"Baik Tuan, lalu bagaimana dengan para warga yang bertahan.... ?"
"Biarkan saja mereka, nanti kita akan bina mereka dengan keterampilan dan biarkan mereka mencari nafkah disini jika kampung ini sudah menjadi kawasan agro wisata"
"Baik Tuan, Saya mengerti"
__ADS_1