CINTA SI YATIM

CINTA SI YATIM
TEMPAT ASING


__ADS_3

"Maafkan aku Saras, apa kau menunggu telpon dari ku?"


Saat ini Lucas sedang menelpon Saras, sudah dua hari Lucas tidak menghubungi Saras sama sekali dan begitu juga dengan Saras


Saras mengerti sebagai tangan kanan dari Axel, Lucas pasti sangat sibuk dan Saras tidak ingin mengganggu Lucas. Karena itulah Saras memilih untuk menahan diri dan tidak menghubungi Lucas juga


"Eemm tidak juga" jawab Saras


"Ahhh karena kau tidak menunggu ku kalau begitu aku tutup dulu telpon nya"


"Hah apa maksud nya itu?"


"Kau kan tidak menunggu ku, arti nya aku sama sekali tidak ada di pikiran mu"


"Eehh dia ini serius atau apa?" batin Saras


"Iyyaaa aku salah... Aku menunggu mu sejak kemaren.. Kau kemana apa yang kau lakukan? Aku pikir kau tenggelam ke dasar laut"


"Hehehhe... Maaf aku terlalu sibuk kemaren"


"Yaa yaya tuan busy" jawab Saras ketus


"Kamu imut kalau lagi kesal"


"Iissh apa'an dasar menyebalkan"


"Hehehe... Saras, maaf mungkin untuk beberapa hari ke depan aku akan jarang menghubungi mu dan masalah pertemuan kedua orang tua kita harus kita tunda untuk sementara waktu"


"Kenapa... Ada apa? Apa kau berubah pikiran?"


"Kenapa... Kau takut aku meninggalkan mu?"


Krriiikk krriikk krriiikkk


Saras diam tidak menjawab. Saat ini jantung Saras berdetak lebih cepat, Saras takut kalau Lucas berubah pikiran dan tidak jadi menikah dengan nya


"Saat ini sedang ada masalah di Manshion dan aku tidak bisa meninggalkan Tuan Axel sekarang"


Karena Saras diam seribu bahasa Lucas pun melanjutkan kalimat nya. Seketika kalimat Lucas membuat Saras menghembuskan nafas lega, ternyata bukan karena Lucas tidak ingin menikahi nya tapi karena sesuatu yang lain


"Apa terjadi sesuatu yang serius di Manshion?"


"Yaa"


"Apa itu ada hubungan nya dengan kejadian ular kemaren?"


"Yaa"


"Iihh kau ini coba jelaskan pada ku, dari tadi cuma ya ya ya saja"

__ADS_1


"Maaf Saras aku tidak bisa bicara banyak. Aku hanya ingin meminta pengertian mu, aku tidak bisa meninggalkan Tuan Axel sekarang. Tuan Axel bejasa banyak pada ku dan juga pada keluarga ku"


"Eemm aku mengerti Lucas... Apa Laila baik-baik saja"


"Hhuufffttt (Lucas menghembuskan nafas kasar) nyonya Laila saat ini sedang terbaring di rumah sakit"


"Apaaaahhhh !!! Ahh wajar saja Tuan Axel sangat kacau, karena dia sangat mencintai Laila"


"Yaa benar, tapi saat ini di Manshion Horrison sedang ada orang yang memainkan peran sebagai nyonya Laila"


"Hah benarkah??? Astaga aku akan menghajar nya, lihat saja nanti berani nya dia mengambil posisi Laila"


"Heem... Maaf Saras aku tidak bisa lama-lama. Aku tutup dulu telpon nya..."


"Eemm yaa, berhati-hati lah dan jaga diri mu baik-baik"


"Yaa kau juga jaga diri mu baik-baik. Aku mencintai mu Saras"


"Muuuuaaaccchhh"


Entah datang keberanian dari mana Saras tiba-tiba mengirimkan sebuah kecupan. Sadar akan kekonyolan yang baru saja dia lakukan Saras pun langsung mematikan sambungan telpon nya


"Bodoh bodoh bodoh... Kenapa aku menciium Lucas duluan"


Krriiing kriingg kriiing


"Astagaa Lucas lagi... Dia pasti mau mengejek ku" gumam Saras


Dengan cepat Saras menggeser tombol tolak, dia tidak mau mengangkat panggilan itu


Tidak lama setelah itu muncul sebuah notifikasi di via chat berwarna hijau


"Aku mencintai mu Saras dan sangat sangat sangat mencintai mu 🥰🥰🥰🥰 muuaah muuaahh muuaahh 😘😘😘"


Seketika wajah Saras bersemu merah dan jiwa raga nya seakan terbang ke langit ke tujuh membus asa tiada batas


Saras memutuskan untuk tidak membalas pesan itu dan membiarkan saja tanda centang dua biru disana


Ditempat lain Axel kini sedang dalam perjalanan kembali ke Manshion milik nya. Dia juga meminta Lucas untuk kembali ke Manshion setelah mengantar Cella pulang ke Manshion Horrison


"Tuan" sapa Saidah saat Axel telah sampai


Tidak lama Lucas pun juga telah datang dan berjalan tepat di belakang Axel


"Lucas beristirahat lah dulu, maaf sudah membuat mu bekerja keras"


"Tidak Tuan sudah menjadi tanggung jawab ku untuk menemani Anda"


"Terimakasih... Pergilah ke kamar tamu bersihkan diri mu dan istirahat lah. Jangan membantah ini perintah"

__ADS_1


Lucas pun hanya menundukaan kepala mendengar kalimat tegas dari Axel


Axel pun demikian, dia pergi ke kamar utama dan menuju kamar mandi. Axel melepaskan semua pakaian nya lalu merendam diri di dalam bathup


Hari-hari Axel akan terasa berat lagi sekarang. Axel mencoba memejamkan mata namun tidak bisa, setiap Axel memejamkan mata bayangan Laila yang terluka langsung singgah di benak kepala Axel. Axel pun mulai meneteskan air mata lagi jika teringat dengan banyak nya luka yang ada di tubuh sang istri


"Ibu...."


"Sayang kenapa kau ada disini?"


"Aku tidak tau, tiba-tiba aku berada di tempat seindah ini"


"Sayang, ini bukan tempat mu nak. Kau harus pulang"


"Laila"


"Ayaahhh.... Ayah dan ibu sekarang ada di tempat ini... Kenapa kalian curang sekali" ucap Laila sedikit manyun


"Dimana Lula? Apa dia juga ada disini? Ahh kalian kejam sekali mengapa meninggalkan aku?"


"Laila sayang, ayah merindu kan mu nak" ucap pak Subekti ayah kandung Laila


"Ayah, ibu... Sekarang kita sudah berkumpul lagi... Kita akan hidup bahagia sekarang"


Bu Lastri pun tersenyum sembari memuluk sang anak. Pak Sebukti pun demikian... Dia juga memeluk keluarga kecil nya ini


"Bu tempat ini sangat indah dan sangat damai, apa aku tidak berasal dari sini"


"Tidak nak, ini bukan tempat mu" jawab bu Lastri


"Ibu bicara apa? Tempat ku disini bersama ibu dan juga ayah"


"Ada orang-orang yang lebih membutuhkan mu nak"


"Orang-orang yang membutuhkan ku?? Apa maksud ibu"


Laila saat ini tidak punya ingatan apa-apa tentang hidup nya. Laila merasa sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tua nya


Bu Lastri pun membiarkan saja Laila merasa senang ditempat yang asing inu. Laila berlari dan bermain seperti anak kecil, memetik bunga dan bermain air di sungai


Sungai disana sangat indah dan bersih, alam disana begitu hijau dan indah, penuh dengan bunga, ketenangan dan kedamaian


Tapi ada bagian lain dari tempar itu. Bagian itu sangat gersang, sama sekali tidak ada tumbuhan yang mampu hidup disana bahkan batu kerikil nya pun begitu panas dan mampu membakar kulit


Laila hanya menatap tempat itu dengan rasa takut. Tapi Laila seolah mendengar ada seorang yang memanggil nama nya dari tempat tandus tersebut


Laila ingin kesana tapi kaki nya tidak ingin pergi. Ketakutan di hati Laila begitu besar hingga Laila memilih menjauh pergi dan kembali ke pelukan ke dua orang tua nya


Laila pun merasa kalau ada yang dia lupakan. Tapi apa Laila tidak bisa mengingat itu, yang Laila tau sekarang dia sangat bahagia berada disini

__ADS_1


__ADS_2