
"Terimakasih sayang, ini adalah ulang tahun terbaik yang pernah ada dalam hidup ku, sejak awal aku bertemu dengan mu aku sangat yakin kalau kau itu adalah wanita yang baik"
"Hhmm dan aku masih ingat kau bahkan tidak mengucapkan terimakasih pada ku saat aku menolong mu waktu kecelakaan bahkan aku menampung mu di kontrakan ku"
"Hehehe maaf sayang aku lupa"
"Dasar pria angkuh"
"Tapi cintakan... Sayang kaaannn"
"Idiiih pede banget"
"Biarin yang penting kan kamu sayang sama mas"
"Yaa iyaa sayang... Karena sayang ku ini sudah makan dengan baik maka aku akan pergi"
"Kau mau pulang sayang? Temani aku disini tidak mau kah?"
"Aku bosan hanya menonton mu bekerja, aku mau ke panti sebentar"
"Mau aku temani?"
"Memangnya kau tidak sibuk?"
"Gampang kan ada Lucas"
"Dasar bos kejam"
"Hehehehe... Ya udah kita berangkat sekarang"
Axel pun pergi bersama Laila, semua karyawan disana pun melihat bahwa Axel menggandeng Laila secara posesif. Kini mereka sangat yakin bahwa Laila adalah istri dari bos besar mereka, apalagi mengingat insiden yang baru saja dialami oleh para satpam membuat mereka berpikir jutaan kali jika bersinggungan dengan sang nyonya
Axel dan Laila pun berangkat menuju panti. Untuk sementara panti asuhan itu Axel pindahkan di sekitar daerah JK dan berada di tengah kota. Axel bahkan bersedia membeli tempat tersebut dan menjadikannya panti asuhan tapi bu Eva menolak
Panti asuhan Harapan Bunda adalah panti peninggalan dari orang tua bu Eva sehingga saat Axel menawarankan untuk pindah bu Eva menolak. Akhirnya Axel pun hanya bisa merenovasi tempat tersebut dan untuk sementara anak-anak panti di pindahkan ke lokasi JK
"Kita jemput Cella dulu mas, pasti Cella senang kalau main ke panti"
"Everything for u baby"
"Eemm kau yang terbaik mas ku sayang"
"Mana hadiah ku"
"Muuaahh muuuaahh muuuaaahh" Laila mencium pipi Axel berulang kali
__ADS_1
Singkat cerita Axel, Laila dan Cella kini telah sampai di panti asuhan. Laila begitu merindukan Amar sehingga saat Laila datang anak yang pertama Laila cari adalah Amar. Karena Axel dan Cella tidak setuju Laila mengadopsi Amar Laila pun patuh. Laila tidak ingin bersikap egois dan mengabaikan pendapat dari suami dan anaknya
Tapi meskipun Laila dilarang untuk mengadopsi Amar, Laila selalu memberikan kasih sayang lebih untuk Amar dan memperlakukan Amar seolah Amar adalah anaknya
Axel sebenarnya sudah tau siapa orang tua Amar tapi Axel diam. Axel tidak ingin istrinya bersedih jika tau tentang bagaimana Amar terlahir ke dunia. Biarlah rahasia itu Axel simpan sendiri dan dia akan menjaga Laila dengan baik begitu pikir Axel
Lain Axel lain Laila lain pula Cella. Saat berada di panti asuhan ini Cella merasa menjadi dirinya sendiri dengan kodrat sebagai seorang anak kecil. Cella sangat bahagia bermain dengan anak-anak yang ada disana, tanpa harus bertopeng dengan popularitas, barang mahal, baju bagus atau pun tas branded.
Yaa itulah yang terjadi di lingkungan pertemanan di sekolah Cella. Karena yang bisa bersekolah disana adalah orang-orang kaya maka dari itu pertemanan mereka pun selalu diwarnai dengan aksi pamer harta atau pun aksi berlagak siapa yang paling populer. Semua itu penuh dengan siasat dan kepalsuan sehingga membuat Cella kadang risih berada di lingkungan tersebut
Karena itulah Cella sangat suka berteman dengan anak-anak panti. Anak-anak panti ini begitu polos dan berteman dengan tulus tanpa memandang siapa dan apa yang mereka bawa. Cella berlari lari kesana kemari, mengejar anak yang satu dan yang lain pun ikut mengejar. Ini adalah hal paling membahagiakan untuk Cella dalam masa kecilnya
Setelah puas bermain main di panti, keluarga Axel pun pamit untuk pulang.
"Paa... Cella laper"
"Cella mau makan apa sayang?" ucap Laila
"Eehhhmm apa yaa ma, gak tau Cella bingung"
"Maem bakso ajaa yuk"
"Ayoookkk"
"Oke, ke restoran mana?" ucap Axel
"Astaga sayang, itu tidak bersih nanti perutnya sakit"
"Gak ada sakit-sakitan, mas lupa kalau aku ini berasal dari kalangan bawah"
"Eehh bukan gitu maksudnya sayang"
"Pokoknya cari abang bakso yang pakai gerobak, kalau gak aku gak mau makan"
"Hoho ho mama ngambek" ucap Cella mengejek sang papa
"Iya iyaa.. Mas cari abang bakso yang pakai gerobak"
"Kayaknya di taman kota banyak deh pa, coba kesana"
"Oke baiklah"
Axel pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir kemudian mereka bertiga berjalan kaki menghampiri abang tukang bakso yang nongkrong di pinggir jalan di depan taman kota
"Astaga apa enaknya makan di pinggir jalan kayak gini" batin Axel
__ADS_1
Tapi tentu saja Axel tidak barani protes, karena jika protes sang istri pasti akan marah lagi padanya, jadi yaa sudah laa manut aja dari pada panjang ntar urusannya pikir Axel
Axel, Laila dan Cella pun duduk di bawah pohon rindang dengan beralaskan tikar seadanya.
"Abang minumnya teh es yaaa" teriak Laila
"Cella air es ajaa"
"Kalau mas mau apa?"
"Aku air mineral saja sayang"
"Astaga pasti gelas itu tidak dicuci dengan bersihkan... Iihh berarti gelas itu bekas bibir orang lain donk" pikir Axel
Saat minuman telah datang Axel dengan cepat merebut minuman milik Laila. Laila pikir Axel ingin minum teh es yang dia pesan tapi nyatanya Axel hanya menyapu bibir nya mengelilingi lingkaran gelas tersebut
"Eeh apa maksudnya itu?" ucap Laila binggung
"Aku hanya tidak mau sayang kalau bibir mu besentuhan dengan bekas bibir orang lain, hanya bibir ku yang boleh menyentuh bibir mu"
"Astaga Axel pikiran mu itu telalu jauh" ucap Laila sambil geleng-gelang kepala
"Hahahahaha papa ini emang aneh ma, heran deh kenapa sih mama milih modelan suami kayak papa"
"Yaaa ketawa ajaa terus, puas ngina papa... Dasar anak song×ong"
"Whahahahaha kalau Cella song×ong berarti papa mbah nya song×ong kan papa itu papanya Cella hahahha"
Axel yang kesal dengan Cella pun langsung melahap bakso yang ada di tangannya sehingga membuat mulut Axel penuh dengan mie bakso. Tingkah Axel ini justru malah membuat Cella tidak bisa berhenti untuk menertawakan sang papa
"Sumpah baru kali ini ada orang yang dengan sangat berani membully Axel Harrol Horison" batin Axel kesal
Ingin rasanya Axel menjadikan anaknya ini daging cincang dan memakannya seperti bakso. Tapi apalah daya Cella adalah anaknya dan Cella adalah darah daging nya mau tidak mau Axel harus menelan bulat bakso tanpa menguyahnya saking kesalnya dengan Cella yang terus saja tertawa
"Mas pelan-pelan makannya"
Axel tidak menggubris, dia terus saja memasukan bakso yang ada di mangkuk miliknya hingga hanya dalam tiga kali suapan saja bakso itu telah tandas
Sejujurnya Axel mengakui kalau bakso itu enak tapi karena ocehan Cella bakso itu terasa seperti di taburkan cabe level seribu setan
Untung saja Axel tidak serumah dengan Cella. Seandainya satu rumah Axel sudah bisa menebak kalau dirinya pasti akan mendapatkan bullyan setiap hari dari sang anak. Otak dan hati Axel pasti akan mendidih setiap harinya dan sudah bisa dipastikan umur Axel akan semakin pendek karena mengidap darah tinggi atau yang terburuk serangan jantung dan stroke
"Mas mau tambah lagi?"
"Tidak, mas sudah kenyang... Bakso ini sebenarnya sangat enak hanya saja bumbunya terlalu pedas"
__ADS_1
"Hah bumbu apa yang pedas, perasaan tadi Laila tidak melihat Axel memasukan cabe kenapa baksonya bisa pedas" pikir Laila bingung