
Namun di sana ada Mina yang sekarang tengah menguping pembicaraan mereka, karena Mina di bayar oleh Dion jadi dia harus bekerja seperti itu walau pun resiko nya adalah kematian.
Mina sedikit menjauh dari sana karena akan memberi tau kan info itu pada Dion tuan nya.
📞📞
"Tuan kata Rayhan dia akan menjebak kalian sore ini" ucap Mina.
"Aku akan datang ke sana" ucap Dion.
"Ya tuan pantau saja" ucap Mina.
"Kau berhati hati lah karena akan bahaya kalau Rayhan melihat mu menelpon ku" ucap Dion.
"Baik tuan" ucap Mina.
📞📞
Saat Mina akan berbalik di belakang nya sudah ada Lukas yang sedang berdiri di sana melihat Mina.
"Hah tuan" ucap Mina kaget.
"Kenapa kau seperti melihat hantu apa aku terlihat seperti hantu" tanya Lukas.
"Tidak tuan saya hanya" ucap Mina terpotong.
"Bekerja lah jangan menelpon saja" ucap Lukas.
"Apa lagi membicara kan orang lain" sambung Lukas.
Mina hanya menatap Lukas dengan tatapan takut karena takutnya Lukas mendengar apa saja yang Mina katakan .
"Semoga dia tak mendengar semuanya" gumam Mina.
Sore harinya Rayhan sudah berada di jalanan karena akan melancarkan aksinya.
Lukas dan Rega juga sudah bersiap mengintai orang orang yang akan mendekati Rayhan.
Namun mereka kalah cepat, Dion dan Haykal yang sejak tadi sudah berada di sana hanya menatap Rayhan dan kedua anak buah Rayhan dengan penuh tawa.
"Bo doh" gumam Dion.
"Apa perlu kita dekati dia" tanya Haykal.
"Tidak usah kita lihat saja dari sini apa yang akan di lakukan bocah itu" ucap Dion.
"Ya" ucap Haykal.
Lama mereka saling mengawasi tapi sayang sekali Rayhan harus merasa kecewa karena musuh tak datang, bahkan Lukas dan Rega juga sudah pegal pegal karena sejak tadi berdiri mengawasi Rayhan.
"Kak mungkin mereka gak datang" ucap Rega.
"Ya apa mereka tau kalau kita ada di sini" tanya Lukas.
"Entah" ucap Rega.
"Ayo ke sana saja" ucap Rega.
Lukas dan Rega berjalan ke arah mobil Rayhan.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil tuan nya itu.
"Tuan gagal" ucap Rega.
"Tuan mungkin mereka tau kita" ucap Lukas.
"Tau bagai mana" tanya Rayhan.
"Mungkin saja mereka sedang berada di sini tuan mengawasi kita dari Jarak jauh" ucap Lukas.
"Baik lah ayo kita pulang" ucap Rayhan yang langsung melajukan mobil nya karena mereka akan pulang ke kediaman Rayhan.
Di perjalanan Rayhan masih memikirkan ucapan Lukas.
"Tentang ucapan mu Lukas aku rasa ada benar nya juga karena sejak tadi kita tunggu tak ada" ucap Rayhan.
"Ya tuan aku akan cari siapa yang akan melakukan nya, aku janji aku akan mencari nya sampai dapat" ucap Lukas.
"Ya aku harap begitu" ucap Rayhan.
Sedangkan Dion dan Haykal sekarang tengah menikmati kopi di salah satu cafe di sana.
"Kata nya Mafia tapi yang aku lihat sekarang hanya lah bocah ingusan" ucap Dion.
"Berapa uang yang akan kau beri kan pada ku" tanya Haykal.
"Ck kau ini hanya tau uang dan uang saja bahkan kau belum kerja apa apa" ucap Dion.
"Aku sangat membutuhkan nya" ucap Haykal.
"Ya tenang saja aku akan usaha kan" ucap Dion.
"Awas ya jangan lupa" ucap Haykal.
"Ya" ucap Dion.
"Aku akan pergi karena ada urusan kalau kau butuh bantuan aku, telpon saja aku pasti akan datang" ucap Haykal yang langsung pergi dari sana.
"Ck hanya uang uang saja" gerutu Dion sendirian.
Di kediaman Mahoji saat ini anak buah Rayhan sudah Rayhan tempat kan di sana karena Rayhan takut kalau Raya kenapa kenapa apa lagi sekarang Raya jauh dari Rayhan.
Di dalam kamar ketiga gadis itu tengah menonton film drama luar negeri.
"Ray apa Kak Rayhan tak marah saat kau datang ke sini" tanya Rahma.
"Tentu saja tidak" ucap Raya.
"Kenapa harus marah" ucap Julia.
"Ya bukan begitu karena kan Raya sudah menikah jadi aku takut nya Kak Rayhan tak meng ijin kan Raya kemari" ucap Rahma.
"Aku dapat ijin kok" ucap Raya.
"Rahma kenapa jadi dingin begini" tanya Julia.
"Hah aku akan buat AC nya hangat" ucap Julia menekan remote Control AC
"Suhu nya sudah hangat" ucap Rahma.
"Oh itu jendela kamar mu belum di tutup" ucap Raya.
"Oh ya aku lupa" ucap Rahma.
"Biar aku yang tutup" ucap Raya yang langsung berjalan ke arah jendela kamar Rahma yang langsung menampakan pemandangan jalanan.
Ada hal yang membuat Raya menyipitkan matanya.
Raya melihat ada laki laki yang sama yang malam kemarin dia pantau di rumah nya.
"Apa itu Anak buah Mas Ray" gumam Raya.
__ADS_1
Dengan melihat ini semua Raya semakin sadar kalau Rayhan itu bukan orang sembarangan, apa lagi perkataan Mutiya tempo dulu selalu terngiang ngiang di benak Raya.
"Apa Mas Rayhan juga sama sama Mafia tapi mana mungkin karena dia tak terlihat seperti Mafia bahkan aku sangat yakin kalau Mas Rayhan itu hanya seorang pengusaha biasa" gumam Raya.
"Ada apa Ray" tanya Rahma yang sekarang sudah berada di belakang Raya.
Karena Rahma merasa kalau Raya sangat lama dia jadi berjalan ke tempat Raya berdiri sekarang.
Dengan cepat Raya menutup gordeng jendela itu.
"Tak ada hanya aku suka saja pada pemandangan luar" ucap Raya.
"Jangan lama lama di sana nanti kau masuk angin dan kau sakit nanti kak Rayhan akan menyalah kan aku" ucap Rahma.
"Tak akan" ucap Raya.
"Ayo tidur aku ngantuk" sahut Julia yang sekarang sudah berada di atas ranjang yang berukuran king Size itu.
"Ya ayo" ucap Rahma.
"Kalian ini bahkan masih pukul setengah delapan" ucap Raya.
"Tapi aku sangat ngantuk Raya aku tidur duluan" ucap Julia.
"Ya tak apa" ucap Raya.
"Rah boleh kan aku lanjut nonton dulu aku suka dengan adegan nya" ucap Raya.
"Tak masalah Raya anggap saja ini rumah mu kau bebas di sini" ucap Rahma.
"Wah terima kasih Rahma kau baik" ucap Raya.
"Ya aku tidur duluan" ucap Rahma.
"Ya" ucap Raya.
Raya merasa cukup khawatir pada Rayhan dia memutuskan untuk menelpon Rayhan.
📞📞
"Mas" ucap Raya.
"Ya sayang belum tidur" tanya Rayhan.
"Ya mau, tapi aku keinget kamu mas" ucap Raya.
"Kangen" tanya Rayhan.
"Kau ini bisa saja" ucap Raya.
"Segera lah tidur aku akan tidur juga Ray" ucap Rayhan.
"Ya baik lah selamat malam" ucap Raya.
"Malam" ucap Rayhan.
📞📞
Rayhan menyimpan kembali ponselnya di atas meja ruang tamu.
"Apa kau sudah suruh anak buah untuk menjaga di kediaman Mahoji" tanya Rayhan.
"Sudah tuan" ucap Lukas.
"Ya aku takut Raya kenapa kenapa" ucap Rayhan.
"Aku hanya menyimpan anak buah dua orang saja karena takut nya kita akan mengusik kediaman Mahoji" ucap Lukas.
"Tuan aku sangat yakin kalau nona akan aman di sana " ucap Lukas.
"Ya apa lagi keluarga Mahoji itu bukan orang yang sembarangan" ucap Rayhan.
Saat mereka sedang berbincang bincang terdengar di luar seperti ada asap tebal yang sekarang akan masuk kedalam rumah Rayhan melalui celah jendela.
"Asap apa itu tuan" tanya Rega.
"Ayo kita keluar" titah Rayhan.
"Tuan tunggu" ucap Lukas menghentikan langkah tuan nya yang sekarang akan ke luar rumah.
Lukas mencari cari sesuatu di dapur tuan nya itu.
Lukas menemukan masker dan kecamatan renang dia memberi pada Rayhan dan Rega.
"Untuk apa ini Lukas" tanya Rayhan.
"Pakai saja tuan takut nya itu asap bahaya" ucap Lukas.
Rayhan dan Rega memakai masker dan kecamatan renang itu, dengan jalan perlahan lahan mereka mendekat pada pintu rumah Rayhan.
Rega membuka pintu rumah Rayhan dan benar saja setelah di buka asap masuk ke dalam rumah Rayhan asap yang sangat tebal.
"Tuan ini bukan asap" ucap Lukas.
"Gas air mata" serempak.
"Tuan sebaik nya kita tutup lagi pintunya kita tunggu di dalam ini sangat bahaya tuan" ucap Lukas.
Mereka kembali ke dalam rumah dan menutup pintu, tetapi sekarang rumah Rayhan sudah di penuhi asap tebal yang sangat membuat pernapasan sesak.
Rayhan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar nya, sedangkan Lukas dan Rega sekarang berada di belakang rumah Rayhan.
Lukas membuka masker dan kecamatan renang nya itu.
"Apa tuan baik baik saja" tanya Lukas.
"Tuan masuk ke dalam kamarnya" ucap Rega.
"Aku harap dia aman" ucap Lukas.
"Kak bagai mana sekarang apa kita perlu ke sana lagi" tanya Rega.
"Jangan" ucap Lukas.
Setelah lama mereka menunggu di halaman belakang rumah Rayhan, asap yang tadi sangat tebal sudah mulai berkurang.
"Ayo kita lihat" ucap Lukas.
Mereka berdua melihat ke halaman depan tapi sayang nya musuh sudah tak ada di sana karena asap itu mereka jadi tak bisa menangkap musuh.
"Argh tak ada" ucap Rega.
"Masuk lah" titah Rayhan dari balkon kamarnya.
Lukas dan Rega masuk ke dalam rumah Rayhan.
"Malam ini kita harus waspada" ucap Lukas.
Rayhan turun dari lantai atas kamar nya.
"Tuan anda tak apa" tanya Lukas.
__ADS_1
"Tak apa, tapi aku sangat heran bagai mana mereka bisa masuk ke dalam sini padahal kan ada penjaga di luar" ucap Rayhan.
" penjaga" serempak.
Mereka semua saling tatap satu sama lain, karena penasaran dengan penjaga mereka langsung berlari ke luar rumah Rayhan.
Mereka mencari cari keberadaan penjaga yang menjaga rumah Rayhan.
Lukas melihat kalau sekarang penjaga nya sudah pingsan di dekat pohon sebrang jalan rumah Rayhan.
"Ini tuan" ucap Lukas.
"Mereka pingsan" tanya Rega.
Lukas mencoba menemukan denyut nadi dari kedua penjaga itu dan mereka masih bernafas.
"Mereka hanya pingsan saja" ucap Lukas.
"Ayo bawa mereka ke dalam" ucap Rayhan.
"Baik tuan" ucap Lukas dan Rega.
Rega dan Lukas membawa penjaga di sana untuk masuk kedalam rumah Rayhan.
"Mereka benar benar sangat nekad" geram Rayhan.
"Tuan mungkin saja mereka sudah merencanakan ini sebelum nya" ucap Rega.
"Ya aku rasa juga begitu" ucap Rayhan.
"Mereka main belakang tuan" ucap Lukas.
Di kediaman Mutiya Atmala.
Dion dan Haykal baru saja datang ke sana karena akan memberi tahukan pada Van kalau sekarang mereka telah meledakan gas air mata di luar rumah Rayhan.
"Tuan aku berhasil" ucap Dion.
"Apa yang kau lakukan" tanya Van ketus pada Dion.
"Aku meledakan gas air mata di kediaman Rayhan" ucap Dion.
"Apa Rayhan mati" tanya Van.
"Tidak tuan tapi aku berhasil membuat nya marah" ucap Haykal.
"Lalu sekarang kalian mau apa ke sini" tanya Van.
"Dia ingin minta bayaran" ucap Dion.
"Ck bayaran terus, padahal Rayhan saja belum meninggal" ucap Van.
Van langsung pergi dari sana meninggal kan Dion dan Haykal yang masih berada di Sofa rumahnya.
Mutiya datang ke sana dia baru saja pulang karena sekarang dia lembur.
"Ada apa" tanya Mutiya.
"Tidak Nona kami hanya minta bayaran saja pada tuan" ucap Dion.
"Apa baji Ngan itu tidak memberi mu uang" tanya Mutiya.
"Tidak Nona" ucap Dion.
Mutiya mengambil uang dalam tas nya dia mengeluarkan uang satu gepok yang berjumlah satu juta rupiah pada Dion.
"Lain kali jangan mau bekerja sama dengan nya" ucap Mutiya.
"Terima kasih Nona kami permisi" ucap Dion.
"Ya" ucap Mutiya.
"Dasar orang aneh kenapa Van tak memberikan uang pada orang itu, makan nya jangan mau bekerja dengan Van dia memang pelit bahkan mungkin saja dia tak punya uang" ucap Mutiya bermonolog sendiri.
"Kau membicarakan aku" tanya Van dari lantai atas.
"Tak hanya saja aku bicara yang sebenarnya" ucap Mutiya.
"Dasar wanita" gumam Van.
Mutiya naik ke atas dan mengulurkan tangan nya pada Van.
"Mau apa" tanya Van ketus.
"Aku minta uang ganti karena tadi aku berikan uang satu juta pada orang tadi" ucap Mutiya.
"Enak saja, salah siapa aku gak suruh" ucap Van.
"Ck kau ini pelit" ucap Mutiya.
"Udah tau pelit kenapa masih mau" ucap Van.
"Nyesel aku kasih uang pada mereka" ucap Mutiya.
"Salah siapa" ucap Van.
Mutiya menginjak kaki Van menggunakan Hills yang masih dia pakai sekarang.
Hingga membuat Van Meringis kesakitan.
"Rasain" ucap Mutiya.
"Awas kau wanita naf su" geram Van.
Mutiya masuk ke dalam kamar nya karena sudah terlanjur marah pada Van.
"Salah kau juga Mut kenapa kau berikan uang pada mereka sudah tau kan Van itu pelit, huhh aku mengumpulkan uang itu sampai malam hari tapi aku berikan pada orang orang itu" gumam Mutiya.
Van masuk ke dalam kamar istrinya itu.
"Ini aku ganti" ucap Van sambil menyodorkan uang pada Mutiya.
"Tak perlu" ucap Mutiya.
"Ambil saja aku tau kau sangat pamrih kalau memberi" ucap Van.
Mutiya mengambil uang itu.
"Dasar suami gak ada akhlak " ucap Mutiya.
"Kau istri macam apa yang selalu menghina suaminya" tanya Van marah.
"Aku istri yang baik yang Sholeh " ucap Mutiya.
"Terserah" ucap Van.
Van meninggal kan istrinya sendirian.
"kalau bukan karena ide Raya aku mungkin sudah menceraikan dia sekarang" ucap Mutiya bermonolog sendiri.
"Raya suami ku tak seperti suami mu" ucap Mutiya lagi.
__ADS_1
bersambung..