Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 33


__ADS_3

Rayhan membawa Raya menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan Nita dan Topan, entah kenapa rasanya hati Rayhan sangat senang sekarang bahkan tak henti hentinya Rayhan tersenyum.


"Pak Ray apa orang tua mu akan menerima aku" tanya Raya ragu ragu pada Rayhan.


"Pasti" ucap Rayhan.


"Kenapa kau begitu percaya diri pak Ray bagaimana kalau orang tua mu tak merestui kita karena aku masih sangat kecil" ucap Raya.


"Kalau tak mendapat restu memangnya bagaimana" tanya Rayhan.


"Kita kawin lari saja" ucap Raya polos.


Rayhan tersentak kaget karena baru kali ini dia melihat kalau Raya berfikir sejauh itu.


"Raya kau, orang tua ku sudah pasti merestui mu" ucap Rayhan.


"Apa aku terlihat seperti bocah" tanya Raya.


"Tidak kau seperti orang dewas*" jawab Rayhan.


Tak terasa mobil pun sudah sampai di pekarangan rumah milik Rayhan, rasa gugup menjalar di setiap tubuh Raya bahkan keringat dingin pun keluar saat Rayhan menyuruh Raya keluar dari mobilnya.


Rayhan sadar sejak tadi Raya terlihat sangat gugup, Rayhan memegang tangan Raya menggenggamnya dengan sangat erat.


"Kau tenang Raya ada aku" ucap Rayhan.


"Bismilah" batin Raya.


Mereka berdua masuk kedalam rumah, Raya di sambut hangat oleh orang tua Rayhan dan hal itu membuat Raya sedikit merasa lega karena pikiran buruknya tak benar terjadi.


Raya menyalami Nita dan Topan, Nita melihat Raya dengan penuh senyuman karena bisa Nita lihat jelas kalau Raya itu anak baik dan sederhana.


"Nak siapa nama kamu" tanya Nita.


"Nama saya Raya tante" ucap Raya.


"Silahkan duduk" ucap Nita mempersilahkan Raya duduk di Sofa.


Nita berjalan ke dapur untuk menghidangkan minuman untuk Raya, dalam hati Nita dia sangat senang karena Rayhan bisa memilih wanita yang tepat untuk dia jadikan istrinya.


"Pak Ray, bagaimana pekerjaan mu" tanya Raya berbisik pada Rayhan.


"Ck oh ya aku lupa" ucap Rayhan yang langsung sibuk mencari ponselnya, namun Rayhan lupa bahwa ponselnya tertinggal di meja kerjanya.


"Bisa aku pinjam ponsel mu Ray" tanya Rayhan pada Raya.


"Boleh" ucap Raya sambil menyodorkan ponselnya pada Rayhan.


Rayhan mengutak atik ponsel Raya, dia mencoba menghubungi ponselnya siapa tau saja Lukas akan mengangkat telpon dari Rayhan.


📞📞


..."Lukas" ucap Rayhan....


..."Tuan apa ini kau, lalu ponsel mu ada di perusahaan? Anda dimana tuan" tanya Lukas....


..."Lukas aku pinjam ponsel Raya, dengarkan aku selesaikan pekerjaan mu dan bawa berkas serta laptop ku pulang aku belum selesai mengerjakannya" ucap Rayhan....


..."Saya segera kesana tuan" ucap Lukas....


..."Tak usah nanti saja" ucap Rayhan....


📞📞📞


"Siapa Ray" tanya Nita yang baru saja datang kesana sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Ini mah aku lupa ponsel ku ada di kantor" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Kau pelupa sekarang" ucap Nita.


"Mah Rayhan sudah tua mungkin karena faktor usia" ucap Topan papahnya Rayhan.


"Pah umur aku baru 25 tahun, gak tua cuman aku matang saja" ucap Rayhan.


"Tetap saja Rayhan kalau sudah lewat 25 tahun kamu sudah tua" ucap Topan.


"Terserah papah saja" ucap Rayhan.


Raya hanya tersenyum saja mendengar pertengkaran kecil itu.


"Raya silahkan di minum" ucap Nita.


"Terima kasih tante, jangan repot repot" ucap Raya.


"Tak repot" ucap Nita.


"Pah mah aku mau melamar Raya, secepatnya" ucap Rayhan menatap pada kedua orang tuanya.


"Kau, Rayhan apa begitu cara mu melamar seorang gadis tanyakan dulu pada Raya apa dia mau denganmu" ucap Topan.


Rayhan menatap pada Raya.


"Kau mau kan menikah denganku" tanya Rayhan datar dan tanpa ekspresi


Raya hanya menganggukan kepalanya, sebenarnya Raya bingung harus bagaimana karena saat ini hanya Rayhan saja yang mampu membantunya keluar dari rumah Bu ajeng.


"Tuh kan Raya mau, jadi pah mah aku mau secepatnya kalian bertemu mamahnya Raya" ucap Rayhan.


"Raya kapan mamah mu punya waktu senggang" tanya Nita.


"Besok juga bisa mah" bukan Raya yang menjawab tapi Rayhan karena sejak tadi Raya hanya diam saja.


"Ya Tante, kalau tante sama om mau bertemu mamah aku akan bicarakan ini pada mamah" ucap Raya.


Nita dan Topan saling menatap satu sama lain, baru kali ini mereka melihat Rayhan secerewet ini bahkan kemarin kemarin Rayhan sangat dingin pada semua orang tapi sekarang saat dengan Raya, Rayhan terlihat sangat antusias.


"Kulkas seribu pintu sudah dapat pawangnya pah" bisik Nita pada Suaminya.


"Ya mah" bisik Topan juga.


Lama mereka mengobrol akhirnya Raya pamit pulang karena harus masuk ke kampus sore ini, Rayhan mengantarkan Raya pulang ke rumah Bu Ajeng dan mengantar Raya ke kampus.


Sesampainya di kampus Rayhan mendapat tatapan tajam dari Fikri mantan kekasih Raya yang sekarang tak lain adalah kakak tiri Raya.


"Pak Ray terima kasih" ucap Raya.


"Ya sama sama" ucap Rayhan.


"Pak Ray bisa kau bersikap romantis padaku, lihat ada Fikri di sana dia sedang melihat pada kita" ucap Raya berbisik.


"Lalu aku harus apa" tanya Rayhan.


"Lakukan apa saja supaya Fikri tau kalau kau asli calon suamiku" ucap Raya berbisik.


Tanpa Raya sangka dengan bar barnya Rayhan mencium pipi tembem Raya, padahal yang Raya maksud adalah Rayhan mengusap rambutnya atau mencolek hidungnya, tapi Rayhan malah menciumnya.


"Sudah kan, aku pastikan Fikri tak akan mengganggu mu lagi" ucap Rayhan yang terlihat biasa biasa saja padahal sekarang Raya sedang merasakan ciuman Rayhan yang masih membekas itu.


"Aku akan masuk" ucap Raya.


"Ya semangat belajarnya Raya" ucap Rayhan.


"Ya" ucap Raya sambil memegang pipi yang baru saja Rayhan cium.


"Kenapa aku merasa senang" gumam Raya sambil tersenyum dan menjauh dari mobil Rayhan.

__ADS_1


Rayhan melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah karena dia merasa kalau hari ini dia harus mempersiapkan segalanya untuk acara lamaran besok.


Rayhan langsung masuk kedalam rumahnya saat dia sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, Rayhan berjalan masuk kedalam rumah dan melihat ada Nita yang sedang duduk disana.


"Mah apa yang harus aku beli untuk besok" tanya Rayhan.


"Ray kau ini duduk lah dulu, baru bicara lihat kau saja baru sampai dan sudah menanyakan apa yang harus kamu beli" ucap Nita.


"Tapi mah sudah tak ada waktu lagi" ucap Rayhan dan langsung melihat pada jam dinding yang sekarang sudah menunjukan pukul 2 sore hari.


"Rayhan masih pukul 2, kau tenang lah" ucap Nita.


Tiba tiba Zia datang dari arah pintu dan masuk kedalam rumah.


"Zia kenapa kau sudah pulang, baru pukul 2" ucap Rayhan menatap tajam pada sang adik.


"Kak aku pulang karena pekerjaan aku sudah selesai, bahkan kau juga sudah pulang tapi kerjaan mu belum selesai" ucap Zia.


"Aku bosnya jadi terserah aku lah" ucap Rayhan.


"Mah apa ada tamu, kenapa banyak sekali makanan" tanya Zia yang langsung duduk di di sofa dan ikut gabung dengan mereka.


"Ya Zia calon kakak ipar mu datang" ucap Nita tersenyum dan menatap pada Rayhan.


"Apa? Benarkah? Kenapa mamah tak menghubungi aku" tanya Zia.


"Kamu kan kerja" jawab Nita.


"Lalu bagaimana dia, apa dia cantik" tanya Zia antusias.


"Dia sangat cantik, umurnya pun masih sangat muda dia masih kuliah" ucap Nita.


"Oh ya apa dia mau sama kakak" tanya Zia meledek Rayhan.


"Hey Zia, aku masih muda dan tampan tentu saja dia mau" ucap Rayhan dengan percaya diri.


"Aku tak yakin apa kau memaksa dia untuk menikah" tanya Zia penuh selidik.


"Tapi aku gak peduli yang penting kakak segera menikah dan aku juga akan menikah, yeayyy" ucap Zia bersorak sangking senangnya.


"Sudah Zia" ucap Nita melihat putrinya itu yang berjingkrak jingkrak di atas Sofa.


"Mah aku sangat senang" ucap Zia yang langsung memberikan pesan pada Akash.


"Apa sebaiknya aku berterima kasih pada calon kakak iparku ya kak" tanya Zia pada Rayhan.


"Untuk apa" tanya Rayhan.


"Karena sudah mau menikah denganmu, hahahaha" ucap Zia yang di sertai dengan tertawa meledek Rayhan.


"Mah apa yang harus aku beli" tanya Rayhan lagi pada Nita mamahnya.


"Ray beli saja perhiasan untuk melamar Raya" ucap Nita.


"Perhiasan" gumam Rayhan.


Rayhan menatap pada Zia yang sekarang masih senyum senyum sendiri.


"Zia ikut kakak" ucap Rayhan sambil menyeret adiknya itu.


"Kemana kak" tanya Zia berontak.


"Beli perhiasan, mah aku pergi ajak Zia" ucap Rayhan pada mamahnya.


Nita hanya geleng geleng kepala saat melihat tingkah kony*l kedua anaknya yang sekarang sudah tumbuh besar dan akan segera menikah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2