Dendam Lama Sang Mafia

Dendam Lama Sang Mafia
bab 69


__ADS_3

Walau pun masih tak percaya tapi Rega sekarang sudah bisa bicara banyak dengan Rayhan dan Lukas.


Tapi Rayhan sejak tadi kebingungan memikirkan bagaimana Rega sekarang.


Karena tak akan mungkin Rayhan membawa Rega pulang ke rumah keluarga Rega karena saat ini Rega tak ingat siapa siapa hanya Rayhan saja yang dia ingat.


Namun untuk membawa Rega pulang ke rumah Rayhan pun, Rayhan tak bisa karena dia harus berbohong lagi nantinya pada Raya.


"Rayhan, apa pekerjaan aku" tanya Rega.


"Kau asisten ku" ucap Rayhan.


"Oh apa kau bos ku" ucap Rega.


"Ya begitu lah" ucap Rayhan.


"Lalu siapa Lukas" tanya Rega.


"Aku anak buah tuan Rayhan" ucap Lukas.


"Rega kau tunggu lah di sini, aku akan menemui Dokter terlebih dahulu" ucap Rayhan mengajak Lukas pergi dari sana.


"Ada apa tuan" tanya Lukas saat mereka sudah berada di luar.


"Aku bingung bagaimana Rega nantinya, aku tak mungkin membawanya pulang karena kau tau kan bagaimana aku sekarang, lalu kalau kita bawa pulang dia ke rumah orang tuanya itu tak mungkin juga Lukas karena dia tak akan mengenal keluarganya" ucap Rayhan.


"Biar aku yang akan mengurusnya di kontrakan" ucap Lukas.


"Apa kau tak keberatan Lukas" tanya Rayhan.


"Tidak akan Tuan" ucap Lukas.


"Kau baik" ucap Lukas.


Sampai sore hari Rayhan menemani Rega di rumah sakit, namun karena sekarang sudah pukul enam sore, Rayhan berpamitan dan akan pulang sekarang.


Sedangkan Lukas akan menemani Rega semalaman di rumah sakit.


Rayhan mengemudikan mobilnya menuju jalan ke rumahnya.


Rayhan cukup senang akhirnya Rega bisa sadar juga, walau pun hanya lima persen saja kesempatan Rega untuk mengingat kembali tapi Rayhan cukup senang karena akhirnya tak ada anak buahnya yang meninggal.


Rayhan sampai di kediamannya, dia langsung masuk kedalam kamarnya karena tujuan utamanya adalah Raya.


"Raya" sahut Rayhan.


"Ya pak Ray" tanya Raya yang sekarang sedang melipat pakaian di sofa.


"Syukurlah kau sudah pulang" ucap Rayhan.


"Memangnya kenapa" tanya Raya.


"Aku takut kau mampir di luar" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Mampir kemana" tanya Raya.


"Sudahlah aku akan mandi" ucap Rayhan.


"Cepatlah dan segera turun aku akan menyiapkan makanan" ucap Raya.


"Ya".


Raya berada di dapur dan mengeluarkan masakannya yang tadi sore Raya masak, Raya menyiapkan piring untuk Rayhan makan.


Lama Raya menunggu di meja makan, akhirnya Rayhan turun juga dengan rambut basah yang membuat Raya tergoda dengan pesonanya itu.


Raya menatap Rayhan dengan tatapan bahagia, karena Raya bisa menikah dengan Rayhan pengusaha kaya dan juga tampan bahkan sangat banyak sekali wanita yang mau berada di posisi Raya.


"Ayo makan" ucap Rayhan.


"Hah ya" ucap Raya tersadar dari lamunannya.


Mereka makan malam bersama, tak ada percakapan di antara mereka karena Rayhan memang tipikal orang yang tak pernah bicara jika dia sedang makan.


"Begini lah resikonya menikah dengan kulkas, dingin" gumam Raya.


"Kau bilang sesuatu" tanya Rayhan.


"Tidak" ucap Raya.


"Aku sudah aku akan ke kamar duluan" ucap Rayhan.


Namun sebelum ke kamar, Rayhan mengambil dulu minuman Wine yang tak pernah Rayhan minum selama ada masalah ini, dan malam ini Rayhan sangat ingin meminumnya.


Rayhan menaruh gelas minumannya itu di atas meja kamarnya, karena saat ini perut Rayhan terasa sangat sakit karena sudah beberapa hari ini Rayhan tak buang hajat.


Rayhan langsung masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Raya baru saja datang ke kamar dan duduk di sofa.


"Ehmm ehmm kenapa tenggorokan aku ini" ucap Raya pada dirinya sendiri.


Raya mengambil gelas yang isinya minuman berwarna putih, Raya kira kalau minuman itu hanya air minum biasa yang Rayhan bawa dari dapur.


Raya meneguk minuman itu hingga habis karena dia kira minuman itu adalah air putih biasa, namun Raya bergidig karena merasakan aneh pada minuman itu.


"Kenapa rasanya begini apa air sekarang ada rasanya" ucap Raya menatap gelas yang kosong di tangannya itu.


"Ya ampun kepala ku pusing" ucap Raya memegang kepalanya sehingga menjatuhkan gelas yang berada di tangannya.


Secara bersamaan Rayhan keluar dari kamar mandi, dan terkejut melihat Raya menjatuhkan gelas itu.


"Ya ampun Raya" ucap Rayhan mendekat pada Raya.


"Astaga Raya meminumnya" ucap Rayhan memegang kepalanya.


"Pak Ray kepala aku pusing" ucap Raya.


"Raya kau minum Wine, itu minuman aku Raya, ya ampun kau menghabiskan satu gelas penuh" ucap Rayhan duduk di samping Raya.

__ADS_1


"Pak Ray pusing" ucap Raya.


"Baiklah aku akan gendong kamu ke kasur" ucap Rayhan.


Rayhan mulai menggendong Raya, namun saat ini tatapan mata Raya sangat aneh pada Rayhan seperti tatapan penuh has rat dan ingin sekali menerkam Rayhan.


"Tidurlah" ucap Rayhan sambil membaringkan Raya di ranjang, namun tangan Raya mengalung pada leher Rayhan dan membuat Rayhan susah bergerak bahkan sekarang Rayhan pun berada di atas tubuh Raya.


"Pak Ray, kau tampan tapi sayang kau dingin" ucap Raya menggoda Rayhan dengan menyentuh manja wajah Rayhan dengan jari jemarinya.


"Raya lepaskan aku" ucap Rayhan.


Rayhan bangkit dari atas tubuh Raya dan duduk di bibir ranjang.


Tak kalah Raya pun bangun dan memeluk Rayhan dari arah belakang.


"Pak Ray, kau tak pernah menyentuh ku" ucap Raya.


"Raya lepaskan" ucap Rayhan.


"Kau jahat pak Ray, aku tiap malam kesepian" ucap Raya meracau tak jelas.


"Ya ampun Raya mabuk berat, aku takut Bu Ajeng tau kabar ini" ucap Rayhan.


Raya membawa Rayhan untuk duduk naik ke atas ranjang, Raya dengan cepat naik ke pangkuan Rayhan dan duduk berhadapan dengan Rayhan.


"Pak Ray aku suka pada mu" ucap Raya mendekatkan wajahnya dengan wajah Rayhan.


Untuk kali ini Rayhan tak bisa lagi menahan has rat nya yang sering kali muncul saat dekat dengan Raya, karena ke na kalan Raya, Rayhan jadi terpancing has ratnya.


"Raya lepas aku tak mau kau menyesal" ucap Rayhan.


"Pak Ray" ucap Raya manja.


Raya meraba raba jakun kepunyaan Rayhan, dan hal itu membuat Rayhan merasakan sensasi yang berbeda, untuk kali ini Rayhan hanya bisa pasrah saja di tangan istrinya.


Raya membuka kancing baju piyama Rayhan satu persatu, walau pun Rayhan sempat menghentikan aksi Raya, namun Raya memaksanya.


Raya menatap pada Rayhan, sekarang Raya sudah tak sadar karena sekarang otak warasnya sedang di kendalikan oleh naf su dan minuman keras itu.


Raya meraba raba perut sispek Rayhan yang berotot itu, bahkan tanpa malu Raya pun menciumi perut Rayhan hingga sampai ke leher Rayhan dan mengigitnya kecil.


Namun karena ini pertama kali untuk Rayhan, lehernya sampai meninggalkan bekas gigitan Raya yang berwarna merah dan itu sangat banyak.


"Henti kan Raya" ucap Rayhan.


Rayhan bimbang Antara lanjut atau berhenti, karena jujur saja otak dan fikiran Rayhan menginginkan ini, namun hati Rayhan berkata jangan lakukan hal itu.


Ternyata pemikiran lebih unggul dari hati sekarang, Rayhan membalas setiap kecupan kecupan dari Raya, namun Rayhan tak berani menggigit leher Raya karena takutnya akan meninggalkan bekas kemerahan yang sudah pasti akan membuat Raya malu nantinya.


Jujur saja Rayhan pun laki laki normal yang akan tergoda jika di perlakukan seperti itu, bahkan sejak dulu juga Rayhan selalu menyembunyikan has ratnya karena dia tak mau berurusan dengan wanita.


Namun berbeda dengan Raya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2